Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik
BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali ketimbang Indo...
Sembilan remaja putri tampil memesona dalam Lomba Dharmawacana Berbahasa Bali serangkaian Utsawa Dharma Gita (UDG) XXXII yang digelar di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin (27/10/2025). Mereka tak sekadar berbicara, tetapi menyampaikan nilai-nilai kebajikan dengan tutur bahasa yang indah, penuh penghayatan, dan berlandaskan sastra suci.
Para peserta, yang mewakili kabupaten dan kota se-Bali, bergiliran menyampaikan wejangan suci dengan memadukan empat unsur utama dalam dharmawacana: wicara (isi/topik), wiraga (gerak tubuh), wirama (intonasi), dan wirasa (penghayatan). Hasilnya, sembilan gadis remaja itu berhasil memukau penonton dan dewan juri dengan gaya penyampaian yang sistematis dan menyentuh.
Dewan Juri, I Gde Nala Antara, menegaskan bahwa inti dari dharmawacana bukan sekadar kemampuan berbicara, tetapi kemampuan menuntun dengan darma melalui bahasa yang tepat dan penghayatan mendalam.
“Bahasa Bali dalam dharmawacana harus lengut, artinya indah dan menyambung. Bukan sekadar pidato biasa. Teknik penyampaiannya berbeda karena menyentuh sisi spiritual,” ujarnya.
Menurutnya, penyampaian dharmawacana yang baik dapat meneduhkan suasana dan menuntun pendengar menuju kebijaksanaan. Namun ia juga mengingatkan bahwa sebagian peserta masih terbawa emosi khas remaja dan perlu memperkuat pemahaman terhadap teks suci agar pesan dharma tersampaikan secara utuh.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana itu menambahkan, kegiatan dharmawacana perlu terus digalakkan di berbagai tempat—baik di sekolah, kantor, maupun pura—guna membangun kesadaran spiritual generasi muda Bali.
“Minat anak muda terhadap kegiatan budaya seperti ini mulai menurun. Maka dharmawacana harus sering digelar agar mereka semakin dekat dengan akar budaya dan ajaran dharma,” tambahnya.
Sementara itu, Dewan Juri lainnya, I Gusti Lanang Subamia, memberikan sejumlah catatan penting bagi peserta, terutama dalam penggunaan bahasa Bali yang sesuai dengan uger-uger (kaidah) yang benar. Ia menyoroti kesalahan pelafalan dan pemilihan kosakata yang masih terpengaruh struktur bahasa Indonesia.
“Misalnya kata panureksa mestinya dibaca penureksa. Ada juga yang memakai kata bumi, padahal halusnya jagat. Ini penting diperhatikan agar dharmawacana lebih berwibawa dan berestetika,” tegasnya.
Meski begitu, dewan juri mengapresiasi seluruh peserta yang dinilai tampil dengan persiapan matang dan semangat tinggi. “Seorang pendharmawacana sejati adalah mereka yang membuat pendengar tergerak mengamalkan wejangan yang disampaikan,” imbuh Subamia.
Dari hasil penilaian, Kabupaten Badung berhasil meraih Juara I, disusul Karangasem sebagai Juara II, dan Kota Denpasar di posisi Juara III.
Selain lomba dharmawacana remaja putri, pada hari yang sama juga digelar beberapa cabang lomba lainnya, seperti Membaca Sloka Dewasa Putra, Menghafal Sloka, Membaca Geguritan Anak dan Remaja, serta Dharmawacana Dewasa Putri. Sebagai selingan, pengunjung disuguhkan pertunjukan wayang kulit di Gedung Ksirarnawa.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa bahasa dan budaya Bali tetap hidup dan berkembang melalui generasi muda yang berani berdharmawacana — menyampaikan kebajikan dengan hati dan suara yang meneduhkan. [T]
Reporter/Penulis: Bud
BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali ketimbang Indo...
PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka kesalahp...
PULUHAN pesawat kertas melayang serentak dari atas panggung SD Negeri 1 Ungasan, Badung. Para siswa bersama guru yang berdiri berdampingan melemparkannya ke arah depan, seolah men...
APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era reformasi bukan pada keamanan akan tetapi tidak adanya kepastian hukum. Ada tiga&...
Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih menggema dalam kesadaran kolektif mas...
PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis berdiri di Bali sebelum periode kemerdeka...
“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan, atau perilaku yang dianggap lumrah dalam perg...
JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni adalah bulan kelahiran dan kewafatan Bung...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Tahun 2026 ini, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menyediakan total daya tampung sebanyak 8.484 kursi untuk jenjang S1, S2, S3, profesi,...
“Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya, Made Jembar sedang men...