Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
SEGAR Event yang berkolaborasi dengan Merekam Karya pada 25 Oktober 2025, bertempat di Mangrove Coffee Denpasar Utara, telah menghadirkan sebuah inisiatif kreatif yang inovatif melalui tema "Bali di Kepala: 12 Issue, 12 Artist, 12 Spots." Acara ini bukan sekadar pameran seni, melainkan sebuah platform refleksi yang mengangkat isu isu penting yang tengah menerjang Bali, dikemas melalui karya 12 seniman dengan pendekatan dan gaya yang beragam, serta dipamerkan di 12 lokasi dengan konsep RASA (Random Art Showcase Area) yang di rencanakan tersebar di bebrapa wilayah di Bali.

Tema "Bali di Kepala" Merujuk pada bagaimana isu-isu sosial, budaya, lingkungan, dan ekonomi melibatkan ruang pemikiran kolektif masyarakat Bali dan para seniman sebagai ruang reflektif dan kritik kreatif. Dengan menggandeng seniman lokal, Segar Event menampilkan bagaimana seni menjadi media pengkomunikasian isu yang kompleks dalam cara yang mudah dipahami dan menjangkau audiens luas.


Penyelenggaraan acara "Bali di Kepala" tidak hanya menyuguhkan pameran seni rupa, namun juga menghadirkan nuansa multidisipliner yang kaya. Selain menampilkan karya lukisan dari 12 seniman terpilih, acara ini juga menghadirkan pop-up barista oleh Duta dan Purna yang memperkenalkan produk kopi lokal, serta penampilan musik dari DJ kaset pita oleh Popo, Dj Instumental oleh Tuky Gray dan pertunjukan akustik oleh Pandu Sukma sebagai pengiring suasana.
Salah satu momen paling menarik adalah sesi live painting di atas media balok kayu oleh Ketut Sedana yang menampilkan proses kreatif secara langsung kepada audiens dan mendorong interaksi yang dinamis antara seniman, karya, dan pengunjung.

Ketika frase “Bali Cinta Damai” menjadi mantra yang terus-menerus dikumandangkan, muncul pertanyaan mendasar: apakah narasi damai tersebut sungguh mencerminkan realitas kompleks yang dialami masyarakat Bali, ataukah justru menjadi kekhawatiran yang menutupi berbagai persoalan mendesak? Pameran "Bali di Kepala" yang diinisiasi oleh Segar Event hadir sebagai upaya membuka ruang dialog kritis terhadap konstruksi naratif tentang Bali yang selama ini didominasi oleh perspektif romantis dan eksotis.
Melalui kolaborasi 12 seniman, 12 isu, dan 12 lokasi pamer, acara ini tidak sekadar menyajikan karya seni, melainkan menghadirkan kontra-narasi yang mengambil kembali bagaimana Bali dipahami, direpresentasikan, dan diperjuangkan. Setap seniman menjadi mediator yang menerjemahkan kompleksitas sosial, budaya, dan politik ke dalam bahasa visual yang mampu menembus zona nyaman audiens.



"Bali di Kepala" menegaskan bahwa seni bukan lagi monopoli estetika semata, tetapi menjadi instrumen aktivisme budaya yang mampu mengungkap lapisan-lapisan tersembunyi di balik citra indah Pulau Dewata. Dalam konteks seni kontemporer Indonesia, inisiatif ini sejalan dengan tradisi kritik sosial yang telah lama menjadi DNA seni rupa Indonesia, dari penolakan terhadap "Mooi Indie" hingga gerakan seni aktivis masa kini.
Acara ini mengundang audiens untuk tidak lagi menjadi konsumen yang pasif terhadap narasi yang diberikan, melainkan menjadi partisipan aktif dalam proses pembacaan ulang terhadap identitas dan masa depan Bali. Sebagai bentuk resistensi terhadap homogenisasi budaya dan komodifikasi pariwisata, “Bali di Kepala” membuka peluang bagi munculnya perspektif-perspektif baru yang lebih inklusif dan reflektif terhadap keberagaman pengalaman masyarakat Bali kontemporer. [T]
Penulis: I Komang Sucita
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...