Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
SORE, 25 Oktober 2025, suasana Ruang Santay Coffee & Tea Renon Denpasar terasa hangat dan bersahabat. Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Udayana menggelar acara “Basa-Basi: Bahas Sastra, Bahas Literasi” sebagai bagian dari rangkaian Bulan Bahasa 2025.Acara tersebut membahas Jamuan Malam, karya perdana Eirenne Pridari Sinsya Dewi, dosen Sastra Indonesia Universitas Udayana. Buku ini menyuguhkan puisi-puisi tentang rasa, luka, dan pencarian arti di balik hal-hal yang tampak sederhana.
Jamuan Malam adalah kumpulan puisi perdana karya Eirenne Pridari Sinsya Dewi yang terbit pada Agustus 2025. Buku setebal 74 halaman ini memuat 51 puisi yang dibagi ke dalam lima bab: Sajian Anggrek, Sajian Lilin Hitam, Sajian Anggur, Sajian Pedas, dan Sajian Telur. Setiap bab seperti menyajikan menu rasa yang berbeda dari kelembutan yang tenang, hingga getir yang mengendap dan renungan yang tajam. Dalam prolognya, Eirenne menulis bahwa puisi-puisi ini lahir dari “jejak-jejak perasaan, pengalaman, dan pengamatan yang menuntut jalan pulang lewat bahasa.”
Bab pertama Jamuan Malam, Sajian Anggrek, membuka pintu menuju dunia yang lembut dan personal. Di bagian ini, Eirenne menulis dengan kejujuran yang nyaris tanpa penyaring, seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Puisinya menyinggung hal-hal sederhana tentang menjadi anak, mengenang rumah, atau menunggu seseorang yang tak pasti kembali. Semua terasa dekat dan wajar, seperti potongan perasaan yang tumbuh dari keseharian.
Dalam sesi bedah buku, Oka Rusmini menyoroti cara Eirenne menyusun bab-babnya yang menyerupai alur fiksi. “Ibarat membuat fiksi, datar dulu lalu konflik,” ujarnya, memuji kecerdasan penulis dalam membangun dinamika emosi di setiap bab.

Struktur itu membuat pembaca seolah diajak mengikuti perjalanan batin yang perlahan menanjak. Dengan bahasa yang sederhana namun tajam, Eirenne berhasil membuat puisinya terasa akrab seolah berasal dari kehidupan pembaca sendiri. Setiap sajak menghadirkan bisikan kecil tentang cara manusia berdamai dengan hal-hal yang paling lembut di dalam dirinya.
Memasuki bab-bab selanjutnya, seperti Sajian Lilin Hitam dan Sajian Pedas, suasana menjadi lebih gelap dan bergejolak. Eirenne mulai menyinggung kehidupan kota, keresahan akan relasi sosial, dan rasa kehilangan arah di tengah hiruk pikuk modernitas. Seorang jurnalis sastra, S. Priyo, menyoroti bahwa puisi-puisi Eirenne bernuansa urban tetapi tetap personal. Pandangan itu menunjukkan penulis yang menghadirkan ruang sosial bukan sebagai panggung besar, melainkan sebagai latar tempat luka-luka kecil manusia berdiam.
Namun, kegelisahan sosial yang muncul di sini belum terasa eksploratif. S. Priyo juga menambahkan, “Ada kelemahan bagi saya personal, bagaimana puisi-puisi ini dengan kekayaan yang ada dia agak gagap ketika berbicara tentang sosial. Saya sebenarnya berharap kesederhanaan puisi ini bisa menimbulkan lompatan-lompatan sehingga bisa berpikir ‘oh iya juga ya’, ‘oh ternyata gini ya’.”

Pandangan itu menunjukkan bahwa kegelisahan sosial dalam Jamuan Malam belum sepenuhnya eksploratif, tetapi justru dari “kegagapan” itu muncul bentuk kejujuran yang khas, sebuah keengganan untuk berpura-pura paham dunia luar ketika dunia batin sendiri masih berusaha disembuhkan.
Dalam sesi bedah buku, Prof. Dr. I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini, S.S., M.Hum., menyoroti bahwa Eirenne “membawa dunianya sendiri” ke dalam Jamuan Malam. Dia melihat adanya voices yang berbicara dari dalam diri penyair, menghadirkan cerita, bayangan, dan ruang-ruang perenungan yang terasa muram namun jujur. “Eirenne pandai memanfaatkan ruang perenungannya, kemudian menulisnya, sehingga setiap kata menyimpan jejak cerita yang dapat dihayati ulang oleh pembaca,” ujar Dosen Universitas Mahasaraswati tersebut.
Dari pengamatan itu tampak bahwa Jamuan Malam merupakan upaya menyalurkan suara batin melalui bahasa. Ada kesadaran akan gelap dan terang, tentang setiap orang yang memiliki lorong-lorong sunyi yang ingin diterangi. Di situlah cahaya dalam buku ini ditemukan bukan dalam arti optimisme yang terang benderang, melainkan dalam keberanian untuk menatap muram dan tetap menulisnya.
Jamuan Malam bukan sekadar debut sastra, melainkan ruang perenungan diri yang dibangun dari bahasa yang jujur dan tenang. Setiap puisinya seperti cermin kecil yang memantulkan perjalanan batin dengan menatap rasa, merawat luka, lalu perlahan menemukan cahaya.
Pada akhirnya, Jamuan Malam bukan sekadar bacaan, melainkan pengingat halus bahwa setiap orang punya jamuannya sendiri, yaitu perasaan yang harus dihadapi, diterima, lalu disayangi. [T]
Reporter/Penulis: Bud
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...