Puisi-puisi Nanda Gayatri | Oh, Meme, Ibuku

Nanda Gayatri
by Nanda Gayatri — Oktober 26, 2025 in Puisi

Tatkala.co

OH, MEME, IBUKU!

Bunga rampai di atas janur dipersembahkan
Di bawah ketupat aku melihat, sebilah pisau
Perempuan-perempuan menari terbelenggu
Bergumam menghadap Bhatara

Entah apa,
Pandangan, rasa, dan jiwa saling tertaut
Semesta tak kunjung memberi jawaban
Meme, tak perlu kau paksakan kegamangan itu

Me, dewi-dewi itu sama sepertimu, dikultuskan
Mitos-mitos pelayanan beterbangan
Me, lihat! burung-burung dan pepohonan itu bebas
Sedang kita?

Me, wajah lelah itu, ku sayang
Tak perlu dupa, gumitir, bahkan pacar seribu!
Tubuhmu suci.
Tirta suci itu, Me,
Keruh kecoklatan rasa bangkai pun,
Dicipratkan mantra; ‘Atas nama Gangga!’
;melahirkan kembali berjuta kemurnian

Me, ritual leluhur yang tak kau pahami
Pun aku juga
Meme, aku ingin kamu utuh
Tanpa sajen para dewa, tanpa kain putih kuning
Tanggalkan bambu kecil pengait janur, Me
Meme, Ibuku!

Tersiksa aku, Me
Kematianmu nanti,
Ritus-ritus kuluputkan,
Jiwamu tak perlu itu,
Kan kuhangatkan tanpa asap menyan
Kukuburkan bersama sebilah pisau dalam rahim
Kau wangi, Me! Oh Meme, Ibuku!

DOA

Ada hari dimana awan kelabu
Doa-doa dijunjung
Insan berbincang soal kematian
Mendongak menunduk

Bergemuruh kilat menyambar
Indra murka, didentumkannya palu Thor
Penuh kegamangan
Riuk suara bebunyian,
Gemericik suara di angkasa
Para nabi berbincang, pendosa dibungkam

Sungguh tak adil,
Siapa yang bisa disebut pendosa?
Pelacur yang selalu mengupayakan segenggam nasi
atau iblis-iblis di istana berjubah sutra,
Meminum anggur merah penuh derita

Serakah tawa mereka,
merayakan pengasingan
Tanah-tanah diratakan
Tak lagi kudengar kidung petani,
Bahkan kicau burung

Pengadilan tak pernah adil.
Di bumi atau bahkan mungkin di akhirat.
Para penggembala disiksa, dihukum, dicabik
Hingga ajal menjemput
Tanpa kebenaran, mereka bukan pendosa.

Terkutuk! Terkutuklah engkau!
Tak perlu aku didoakan,
Aku hanya ingin kembali,
Bermesraan dengan pertiwi.

INI SORGA BUKAN?

Mawar hitam ku taburkan depan pintu sorga
Merayakan duka, di tangan kanan menenteng payung
Rasanya kulihat malaikat itu, malam gelap
Terhisap nafsu

Bayang-bayang asap menari kegirangan penuh
Santapan terlihat lezat, remahan sedap
Sebab anjing meraung sangat keras

Bayang-bayang itu mendekat,
Semakin mendekat,
Aku takut.
Dikejar,
Aku diam, terpaku.

Ditelanjangi bak Drupadi
Sialan! Tak ada Krisna di samping
Dihabisi kain menyentuh kulit.

Itu malam gelap.
Ketika tubuhku terbilah-bilah depan pintu
Waktu berdetak,
Marsinah ada di sana
1 Marsinah, kemudian 2, 3 hingga 1001

Lamat-lamat kutatap
Tubuh terbilah itu bau anyir
Darah mengalir
Dikoyak-koyak benda tumpul
Tersisa dalam perut tertusuk
Panas.

Payungku dirampas,
Malaikat biadab,
Hujan datang,
Malaikat biadab,
Payungku dirampas

Sudah mati.
Ini sorga bukan?
Teriak 1001 Marsinah.

 

KERETA MALAM

Di stasiun kuperhatikan,
manusia berlalu-lalang
Penuh keriuhan,
sedang aku tenggelam

Menatap nanar pada sepatu-sepatu usang,
membanting tulang
Menukar pohon tua untuk hidup dalam sangkar
Tak pernah dinikmati

Di kereta ini, aku merasa kecil
Gelisah,
pada sebuah fakta, bahwa;
tak akan kita lihat lagi padi-padi menguning merunduk
Bak bulan tertutup polusi berkabut

Di setiap stasiun, yang tak berkepentingan berhamburan
Tak perlu menunggu pemberhentian terakhir
Optimisme semakin memuncak setiap fajar,
Untuk sebutir pil beras penuh ilusi
Dimasukkan ke dalam perut tanpa ruh

Pukul dua belas malam, gemilang angkuh lampu kota menemani
Tergantikan cahaya terang Ilahi,
Belum sempat tersambar Sang Yama
Terengah-engah aku turun,
Keluar menghadapi jiwa-jiwa kelaparan
Bapa tersenyum,
“Cantik”, katanya.
Menghibur perubahan dalam jeruji kebisingan
Sepi memudar,
Mendoakan gadis kecilnya,
Semoga sehat selalu.

RUMAHKU

Fermentasi lontar + kopi dingin sisa perdebatan
Asap kretek, perut kosong
Menghangatkan setiap rongga dalam tubuh
Di bawah pohon mangga, pun menghadap pohon durian

Perempuan bernyanyi santai, satunya bekerja keras memelihara
Menghasilkan susu sapi, terperah
Berpayungkan romantisme pembaruan
Mengalunkan nada kecemerlangan
Lelaki bertelanjang dada mengupayakan ketidakmungkinan

Bangun pagi tanpa arah,
Pulang tanpa harap
Melingkar kembali membentuk persekutuan kecil
Buku-buku kemakmuran serupa pajangan
Membentang menggaungkan pesimisme, pun bahasa kawan

Tetap di sini, merangkul
Meluapkan uap sisa kabut semalam
Tetes-tetesnya diusap oleh tangan kecil
Direnggut perpisahan

Pabila reinkarnasi betulan ada,
Ingin ku kecap penderitaan bersama,
sekali lagi.
Ditempatkan di tengah lingkar kecil
Mengharap hidup berjalan lambat

Untukku, untukmu, untuk kita semua.
Dihadapan botol-botol kosong
dan cangkir bekas ribuan mayat hidup.
Serupa bunga matahari tertanam dalam plastik bekas pembawa penderitaan.
Mari kita upayakan lagi, omong kosong berkepanjangan.
Di dalam sepetak ruang, di luar kebun harapan.
Tumbuh, tumbuhlah liar serupa gulma.
Di hadapan pohon pisang serba guna.

.

Penulis: Nanda Gayatri
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

Nanda Gayatri

Related Posts