Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
PELAYAN yang biasanya menyapa mereka tidak ada malam itu. Nadine memperhatikan pintu sebentar, seolah menunggu seseorang yang tidak akan datang. Angin malam berhembus lebih kencang dari biasanya, membuat rambutnya tergerai dan beberapa ujungnya menempel di pipi. Langkahnya pelan, tapi pasti, seolah tubuhnya sudah menghapal jalan ini. Di seberang, Leo melambaikan tangan, wajahnya setengah diterpa cahaya lampu jalan.
Minggu malam selalu sepi. Kedai kopi ini seperti menahan napas di hari terakhir sebelum Senin. Hanya mereka berdua yang datang malam itu, setidaknya sejauh ini. Pelayan magang di balik meja menyambut dengan senyum kaku.
“Pesanan atas nama siapa?” tanya pelayan itu.
“Leo, Kak,” jawab Leo, agak ragu. Pelayan yang lama tak pernah perlu bertanya. Mereka sudah dikenalnya.
Tanpa menunggu, Nadine melangkah menuju pojok kanan, tempat kipas angin berputar malas di atas kepala. Ia duduk di kursi yang sama seperti setiap minggu. Leo mengikutinya, duduk di seberang, sedikit tidak sejajar, seperti dua bidak catur yang saling menimbang langkah.
“Minggu ini aku lebih sibuk dari biasanya,” kata Leo sambil menunduk ke ponselnya, dua jempolnya menari cepat di layar.
Nadine menatap ke arah lain. “Pasti lelah, ya?” suaranya datar, matanya mengarah ke pasangan di meja sebelah: si perempuan dengan kedua tangannya sibuk, si pria menatapnya dengan benar-benar mendengar.
Jam dinding di atas kepala Nadine berdetak lambat, detiknya menembus sunyi. Ia mengetukkan ujung sepatunya pelan ke lantai, waktu tak mau berjalan.
Aroma kopi yang hangat membuat ingatan Nadine bergeser ke minggu kedua bulan Agustus, tahun lalu. Saat mereka pertama kali datang ke sini. Waktu itu, tempat ini begitu tenang hingga Nadine bisa menumpahkan isi hatinya tanpa takut ada yang mendengar. Leo pun mendengarkannya dengan seksama.
Setelah beberes, Nadine berkata, “Kali ini aku yang bayar, ya?”
Leo tertawa kecil. “Iya Din”
Tapi sejak akhir tahun, ketika Leo naik jabatan, sesuatu perlahan bergeser. Ia mulai merasa semua hal adalah tanggungannya. Makan, keputusan, bahkan diam. Rasa sayangnya berubah bentuk menjadi kebiasaan. Di antara kebiasaan itu, sayang dan kuasa hanya dipisahkan garis yang sangat tipis. Pelayan datang membawa dua gelas, Nadine berhenti ke masa lalu.
“Pesanan atas nama Lio?” tanyanya.
Leo mengangkat tangan, tersenyum kecil. Nadine hanya menatap kopi hitam di depannya.
Leo teringat sesuatu, waktu itu Nadine marah karena pelayan menulis nama Leo salah.
“Leo, bukan Lio,” katanya waktu itu dengan nada tinggi.
Leo menenangkan, “Gapapa, kedengarannya masih mirip, kan?” Ia menambahkan, “Makasih, ya. Udah perhatian sama hal-hal kecil.”
Nadine tersipu waktu itu. Kini, memori itu datang seperti sinar samar dari masa yang lain.
Sunyi mengendap di antara mereka. Leo menghela napas. “Maaf. Aku salah. Aku bikin kamu ngerasa gak ada.”
Nadine menatap meja sejenak sebelum mengangkat pandangan. “Semuanya ada pelajarannya masing-masing, kan? Aku juga minta maaf, karena gak bisa jujur soal apa yang aku rasain”
Untuk pertama kalinya malam itu, mata mereka saling bertemu.
Nadine akhirnya berdiri. “Lain kali kita ketemu lagi, ya? Hari ini aku capek.”
Leo mengangguk pelan. Mereka berjalan menuju kasir, langkahnya beriring tapi tidak bersamaan, seperti dua bidak yang memilih berpapasan. Leo menatap layar kasir, tangannya membatalkan rencananya merogoh saku celana kanan. Leo berbalik ke Nadine.
“Kali ini aku yang bayar, ya?” tanyanya pelan.
Senyum Nadine muncul perlahan, hangat, jujur. “Iya.”
Bersama senyumnya, Nadine menghembuskan napasnya keluar bersama sesuatu yang lama ia simpan. Mungkin beban, mungkin cinta. Untuk sesaat, ia merasa dilibatkan lagi. Di antara aroma kopi yang perlahan mendingin, Leo tahu, beberapa senyum tidak berarti selamat tinggal, tapi juga tidak menjanjikan pulang. [T]
Penulis: I Made Dwipayana
Editor: Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...