PAGI di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Buleleng, selalu datang dengan caranya yang pelan. Udara sejuk menelusup ke sela-sela tembok, sementara langkah mahasiswa KKN dari IAHN Mpu Kuturan menyusuri jalan desa menuju tempat mereka mengabdi. Hari itu, mereka tak sedang menuju pura, atau pertemuan adat, melainkan ke sekolah dasar—tempat di mana ilmu pertama kali tumbuh di hati anak-anak.
Dalam program kerja KKN tahun ini, beberapa mahasiswa merealisasikan apa yang mereka pelajari selama di bangku kuliah. Ada yang dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), ada pula dari Teologi Hindu, Filsafat Hindu, Pendidikan Agama Hindu (PAH), dan Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali (PSABB). Mereka menyatu dalam satu tujuan, berbagi ilmu dengan ketulusan. Tiga sekolah menjadi tempat mereka menabur pengetahuan— SD 1, SD 2, dan SD 3 Ambengan —tiga taman belajar yang mengajarkan hal sama, tapi dengan atmosfer yang begitu berbeda.
SD Negeri 1 Ambengan, Keheningan yang Mengajarkan Kesabaran
SD Negeri 1 Ambengan berlokasi di dusun Ambengan, berdiri sederhana di antara rumah-rumah penduduk. Sekolah ini tidak terlalu luas, ruang-ruangnya dibangun secukupnya untuk menampung semangat anak-anak desa yang haus belajar. Lantai masih berplester halus, dan masih merelevankan lonceng dari besi tua dan klep mobil sebagai pemukulnya, penanda waktu—seolah mengembalikan siapa pun yang mendengarnya ke masa sekolah dasar tahun 90-an. Di sekolah ini, satu kelas hanya berisi sekitar belasan anak.
Suasana di kelas SD Negeri 1 Ambengan
Dengan fokus mengajar ke beberapa anak dari jenjang kelas 1-4, beberapa masih terbata-bata dalam mengenal huruf. Mereka mengingat urutan A hingga Z, tetapi bila hurufnya diacak, mereka berhenti sejenak, menatap, lalu tersenyum malu. Para mahasiswa mendekat dengan sabar, satu per satu. Huruf demi huruf mereka kenalkan dengan permainan, lagu, dan pujian pembangkit semangat hati-hati kecil itu.
Kadang di ujung jari anak-anak itu masih tersisa bekas penghapus di buku—tanda perjuangan kecil dalam mengenal setiap huruf dan angka. Keterbatasan fasilitas tidak menghapus semangat. Di pojok tiap kelas, berdiri lemari baca yang dihiasi bunga-bunga kertas warna-warni. Di sanalah semangat kecil itu tumbuh, pelan-pelan tapi pasti. Di SD Negeri 1 Ambengan, kesabaran terasa menjadi bentuk cinta yang paling nyata.
SD Negeri 2 Ambengan, Riuh Semangat yang Menyala
Berjarak sekitar lima puluh meter dari SD 1, SD Negeri 2 Ambengan menyambut siapa pun dengan keriangan. Lapangan yang luas, dihiasi bunga-bunga mekar di tepinya, dan suara anak-anak menggema. Proyektor yang terpampang di setiap kelas—tanda bahwa kemajuan sudah mengetuk pintu sekolah ini. Di sini, satu kelas bisa berisi tiga puluh siswa. Mereka sudah mengenal huruf dan bisa menulis, hanya saja masih kesulitan dalam membaca.
Proses mengajar di SD Negeri 2 AmbenganSDN 2 Ambengan
Tapi semangat mereka luar biasa, tangan-tangan kecil itu sering terangkat tinggi, meski kadang jawaban yang mereka berikan kurang tepat. Yang pentig bagi mereka bukan siapa yang paling cepat paham, tapi siapa yang berani mencoba. Bagi para mahasiswa, SD 2 menjadi ruang belajar baru tentang bagaimana menghadapi semangat yang meluap-luap.
Mengajar di sini bukan hanya soal menyampaikan materi, tapi juga menenangkan gelora, membimbing energi anak-anak agar mengalir di jalur yang benar dan serentak. Dalam tawa dan kebisingan itulah, makna pendidikan terasa hangat—bahwa belajar adalah tentang menemani, bukan sekedar mengajar.
SD Negeri 3 Ambengan, Keindahan di Atas Bukit
SD Negeri 3 Ambengan terletak agak jauh, di ujung desa yang tenang, tepatnya Dusun Pebantenan. Sekolah yang dikelilingi pohon cengkeh semerbak aromanya. Dari kejauhan, suara burung bersautan, dan udara terasa sejuk. Saat mahasiswa tiba, mereka disambut oleh barisan Polisi Cilik (POLCIL) —anak-anak mengenakan rompi rapih berdiri tegap di halaman, bak layaknya OSIS nya SD. Sebuah pemandangan yang jarang terlihat di sekolah dasar lain.
Polcil (Polisi Cilik) SD Negeri 3 Ambengan
Sekolah yang memiliki pemandangan paling indah, dan tenang. Anak-anaknya cepat akrab, menyapa dengan tawa lepas dan rasa ingin tahu yang besar, tak lupa memberi salam di awal pertemuan. Untuk anak kelas 1-4, rata-rata mereka sudah mengenal banyak huruf, meski masih sering menukar bentuknya—huruf “e” yang kadang menjadi angka “9”, atau “n” yang tertukar dengan “h”.
Kembali lagi, ada ketulusan tidak dibuat-buat di baliknya. Belajar seperti bukan beban bagi mereka, melainkan permainan yang menyenangkan. Mahasiswa yang datang merasa seperti kembali ke masa-masa kecil—masa di mana papan tulis, dan senyum guru menjadi segalanya, keceriaan menjadi cara belajar yang paling alami.
Satu Desa, Tiga Atmosfer, Satu Tujuan
Terlepas dari segala perbedaan fasilitas, suasana, dan tantangan, satu hal yang menyatukan ketiga sekolah ini, semangat belajar yang tulus. Dari mahasiswa PGSD mengajarkan calistung (membaca, menulis, berhitung), hingga Teologi, PAH, dan Filsafat Hindu yang berbagi nilai-nilai pasraman dan mejejaitan, serta PSABB yang memperkenalkan keindahan lewat nyanyian Dharma Gita—semua bertemu dalam satu ruang kecil bernama pengabdian. “meski atmosfernya berbeda, kami tetap mengajar dengan ketulusan.
Suasana mengajar mejejaitanFoto bersama mahasiswa KKN di Desa Ambengan
Harapannya, dua bulan ke depan, anak-anak yang belum mengenal huruf bisa mulai membaca dan mengeja dengan baik” ujar hangat Wanda, selaku Kepala Bidang Pendidikan dan Lingkungan Hidup KKN Desa Ambengan 2025. Kalimat itu seperti doa yang dalam. Sejatinya, perbedaan bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk disadari bahwa setiap ruang punya caranya sendiri dalam menumbuhkan ilmu.
Desa Ambengan mengajarkan satu hal penting bagi siapa pun yang datang, bahwa pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat memahami, tapi siapa yang paling sabar menuntun dan siapa yang mau dituntun. Terakhir, ketika anak-anak itu melambaikan tangan sambil tersenyum ringan, para mahasiswa tahu, di balik semua kelelahan, ada sesuatu yang tumbuh diam-diam. Rasa Syukur karena telah menjadi bagian kecil dari perjalanan mereka menuju terangnya pengetahuan. [T]
Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan di Desa Ambengan, Sukasada, Buleleng
Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...