Senin, 20 Oktober 2005, saya melakukan perjalanan dari Singaraja, Bali, menuju Semarang, Jawa Tengah. Setelah menimang-nimang perjalanan ke Bandara Ngurah Rai dari Desa Les, tempat tinggal saya, membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam, akhirnya saya putuskan naik bus, tepatnya sleeper bus.
Lumayan dapat selonjoran dan menikmati setiap titik dan kota di sepanjang jalur.
Ini pertama kalinya saya pergi ke Kota Semarang, tapi sudah begitu sering mendengar tentang lumpia, Lawang Sewu, Kota Tua dan Asam Jawa. Sehingga tak sabar saya tiba di kota itu.
Meski ke kota itu tujuan untuk presentasi pada acara resmi, tapi semangat saya untuk jalan-jalan sambil mencicipi kuliner di seputaran kota Semarang justru menggebu-gebu.
Dari Singaraja bus berangkat jam 12 siang menuju Pelabuhan Gilimanuk. Tepat Jam 5 sore, saya berganti bus dan melakukan penyeberangan menuju Ketapang, Banyuwangi. Hari mulai senja tampak nelayan sekitarnya melaut di tengah laut yang tenang.
Selanjutnya bus melakukan perhentian untuk makan malam, lanjut terus sambil sesekali bus berhenti menaikan paket barang bawaan yang akan dikirim sepanjang kota yang dilalui.
Mata saya mulai mengantuk, tak tahan menahan dinginnya AC bus yang mengalahkan cuaca panas beberapa pekan di hampir seluruh wilayah negeri. Bangun, tidur lagi dan bangun lagi.
Tepat pukul 4.30 pagi terdengar awak bus berteriak, "Banyumanik, Banyumanik".
Saya melihat tiket dan bergegas untuk segera turun dan berberes barang bawaan. Banyumanik adalah terminal destinasi yang berada di kawasan Semarang bagian atas. Saya turun sambil menahan perut yang sudah lumayan ingin ke toilet. Hari masih lumayan gelap, saya memutuskan untuk mencari transportasi via aplikasi online.
Berselang 5 menit, anak muda dengan city car datang dengan semangat menyapa selamat pagi, seperti lagu yang sering diputar di platform pemutar lagu.
"Selamat pagi," balas saya.
"Sugeng rawuh," tambah anak muda itu lagi.
Sampai di hotel saya langsung beristirahat. Bangun di siang hari tepat di tanggal 21 Oktober 2005 saya memutuskan untuk pergi sembahyang ke Pura Giri Natha.
Menariknya di Pura ini ada sekretariat Kelompok Sadar Wisata. Ada pasraman dan pastinya tampak sangat bersih. Di bagian belakang ada Pujasera. Saya mampir dan makan di warung Bli Made, perantau Bali dari Gianyar. Masakan Bali, lawar, sate dan kuah babi menjadi andalan.
Selanjutnya saya berkeliling kota dengan berjalan kaki ke lorong-lorong tua jalan Kota Lama, Semarang. Ingatan kembali kepada kolonial dan beberapa tempat sangat mirip dengan di Hanoi, Vietnam, sampai Melaka, Malaysia.
Tak lupa saya mencicipi lumpia Semarang, wingko babat sampai bandeng presto.
Seperti biasa saya keliling dulu sebelum presentasi di tanggal 22 Oktober 2025 di Grand Suri Ball Room. Acara yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan Pemkot Semarang ini mengambil tema "Rekomendasi" yang merupakan singkatan Roadshow komunikasi dan Edukasi Bank Indonesia"
Saya sendiri dalam presentasi bicara tentang Desa wisata, UMKM dan lokalitas.
Hal-hal yang selalu menyenangkan bertemu orang baru dengan frekuensi sama, saling bertukar pikiran adalah representasi dari presentasi hidup yang sesungguhnya. Acara dimoderatori oleh mantan penyiar TV nasional, dan dia saya belajar bagaimana puisi adalah koentji.
Mbak Dita Faisal yang merupakan pembawa acara berita Indonesia, mengutip lewat puisi tentang bagaimana wisata dan lokalitas harus diselaraskan.
Hampir satu jam setengah, saya juga akhiri presentasi dengan sebuah pantun umtuk mengajak siapun yang mau bergerak.
Buat apa membeli sepeda Kalau bukan sepeda jengki Buat apa bicara pariwisata Kalau tidak untuk bumi yang harus lestari
Yang menarik untuk direnungkan dalam perjalanan ini adalah tentang kota tua, kota baru, masa lalu dan masa kini. Banyak kota punya masa lalu yang indah, dan hingga kini tetap indah. Banyak kota yang punya masa lalu gemilang, tapi kini tak terurus dengan baik. Tiba-tiba saya merenungkan soal Kota Singaraja di Buleleng, Bali, tempat tinggal saya yang punya peninggalan-peninggalan masa lalu yang bagus, namun kini tak terurus dengan baik. Dan saya membandingkan dengan Semarang. Maaf. [T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...