Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
MALAM, 28 September 2025, di satu hamparan sawah di Desa Marga Dauh Puri, Tabanan, sebuah tari kontemporer dipertunjukkan dengan begitu padu dan riang. Tarian itu ditampilkan anak-anak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Satyam Siwam Sundaram, Universitas Udayana (Unud), Denpasar, serangkaian acara Festival ke Uma 2025.
Tarian bukan tari Bali yang biasa ditonton, misalnya dalam Pesta Kesenian Bali (PKB), namun tarian itu mencoba bicara tentang Bali sebagai panggung Dunia, dengan label eksotis: "Surga Dunia" yang mengundang jutaan wisatawan. Surga yang telah laris manis dalam industri wisata, belum menunjukan masyarakat yang sejahtera pada tekanan kebutuhan hidup dan tekanan budaya yang harus tetap lestari.
Ini tarian yang membaca zaman dan bicara tentang zamannya. Bagaimana proses terciptanya tari Noris itu, sikan baca artikel Karista Denianti dari UKM Satyam Siwam Sundaram:
***
SEBAGAI Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berada di ruang lingkup Fakultas Ilmu Budaya, UKM Satyam Siwam Sundaram atau yang lebih dikenal sebagai UKM SSS punya peran penting untuk mempersiapkan kontingen untuk mewakili Fakultas Ilmu Budaya pada ajang perlombaan Dies Natalis Universitas Udayana pada cabang seni Tari Kontemporer. Lomba itu memang rutin dilaksanakan setiap tahunnya pada bulan Oktober.
Begitulah awal proses tari kontemporer yang kami garap ini. Awal proses pembentukan karya bermula pada bulan Mei. Kami mulai merencanakan konsep dan isu apa yang sekiranya akan kami bawakan dalam lomba itu sebagai wakil dari FIB tahun ini.
Perencanaan kami lakukan bersama dua koreografer yangsekaligus jadi konseptor, yakni Mahijasena dan Dhegung. Dua orang yang sudah memiliki kedekatan tersendiri dengan kami di Fakultas Ilmu Budaya khususnya UKM SSS. Apalagi dua tahun belakang ini kami sudah melakukan kolaborasi yang serupa dalam proses pembentukan karya tari kontemporer.

Saya sendiri sebagai penari yang sudah dua tahun berproses bersama koreografer Mahijasena dan beberapa kali juga sempat berposes pada karya tahun lalu bersama Dhegung. Ini merupakan pertama kali saya sebagai penari juga ikut serta dalam proses di balik penciptaan karya ini.
Walaupun pada saat itu tema besar dari panitia belum keluar, kami mencoba berdiskusi dan berdialog mengenai permasalahan yang sering terjadi di sekitar kita. Dari diskusi itu kami bertemu pada satu kesepakatan, yaitu “Bali Terkini”. Dari dua kata kunci tersebut kami mencoba untuk menelaah fenomena-fenomena kebudayaan masyarakat Bali, dan menemukan banyak sekali aspek dari fenomena itu, yang akan kami kembangkan pada proses eksplorasi gerak visual bersama penari.
Materi yang diberikan pertama kali kepada penari adalah latihan fisik dasar sebelum benar-benar masuk ke proses eksplorasi gerak bersama pelatih. Dengan bermodalkan materi yang sudah diajarkan kepada kami selama dua tahun terakhir, kami berusaha mentransfernya kepada penari.
Dalam proses ini, ada beberapa kendala yang mereka alami, mulai dari kondisi tubuh yang belum beradaptasi, bahkan sampai ada yang memundurkan diri karena kondisi fisiknya tidak bisa menyesuaikan dengan latihan fisik yang bisa dibilang lumayan intens dan berat. Dari yang awalnya jumlah penari sebanyak 8 orang, hanya tersisa 5 orang yang bertahan.

Pada proses awal kami juga sempat turun ke lapangan untuk mengeksplorasi data mengenai aktivitas masyarakat di Kota Denpasar. Menelusuri lapangan Puputan yang ada di pusat kota dan melihat aktifitas yang dilakukan oleh orang orang di sana. Penari lalu diminta untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk visual tubuh yang ditarikan sesuai kreativitas mereka.
Aktivitas seperti bermain catur, jogging, bermain bola, aktivitas berjualan, dan lain-lain diperagakan oleh mereka. Dari banyaknya data yang didapat, kemudian dikembangkan lagi menjadi banyak variasi dan nantinya akan menjadi dasar gerakan choreography dalam karya ini.
Ada satu hal yang mungkin membedakan karya tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu tidak menggunakan musik sama sekali, melainkan menonjolkan vokal dari penari langsung. Dimana konsep yang direncanakan awalnya yaitu lecturing atau guiding, yang nantinya penari akan berperan menjadi pencerita dan juga aktor yang berperan dalam cerita yang dibawakan.
Ini akan menjadi tantangan tersendiri, karena penari harus menari sambil mengeluarkan vokal secara bersamaan dan tanpa musik latar belakang.
Pada tanggal 28 September 2025 kami mendapat sebuah kesempatan untuk menampilkan tari kontemporer Noris untuk pertama kalinya pada Festival ke Uma di Marga, Tabanan. Hasil proses eksplorasi selama kurang lebih dua bulan akhirnya bisa diperlihatkan ke hadapan publik, sebelum nantinya akan benar benar ditampilkan untuk perlombakan.

Kenapa pada akhirnya kami memutuskan setuju menampilkan Noris ke publik padahal karya ini merupakan karya untuk lomba, karena sejak awal memang ada kesepakatan bahwa pembentukan Noris tidak hanya untuk diperlombakan, melainkan kami akan menciptakan lebih banyak ruang untuk bisa menampilkan tarian itu. Supaya nantinya apa yang ingin disampaikan melalui karya ini bisa tersampaikan kepada masyarakat luas dan tidak hanya ditampilkan sekali lalu tidak ada keberlanjutan sama sekali.
Karya ini mendapat tanggapan yang beragam dari penonton. Banyak dari pelaku seni yang saat itu menonton mengapresiasi karya ini. Menurut beberapa orang yang menghampiri penari setelah perform, premis yang diangkat sangat menarik dan bahkan memberikan beberapa saran dan masukan terhadap karya ini.
Namun di satu sisi, beberapa orang dari pihak kampus yang kami undang untuk menonton penampilan Noris justru memberikan respon yang berbeda. Saya menanyakan beberapa orang mengenai tanggapan mereka setelah menonton, beberapa orang yang memang tidak terlibat dari proses awal karya ini sama sekali tidak bisa memahami apa yang ditampilkan penari pada saat itu. Bahkan beberapa dari mereka ada yang tertawa karena menganggap beberapa gerakan aneh dan konyol, bahkan bertanya, “mereka ngapain sih?”.
Memang secara visual keseluruhan di karya ini tidak terlalu menampilkan pola-pola koreografi yang indah, bahkan bisa dibilang aneh. Apalagi dalam karya ini kami tidak menggunakan musik sama sekali dan hanya terdapat vokal dari penari yang melantunkan kata “ditut”, “dangtut”, “pak” secara berulang-ulang. Dan itu yang mungkin akan menyebabkan beberapa orang tidak bisa sepenuhnya menikmati atau bahkan mengerti karya ini, karena dianggap tidak menghadirkan keindahan estetika visual yang memanjakan mata penonton.
Melalui Noris, kami ingin menghadirkan sudut pandang yang lebih jujur dan getir dari realitas Bali yang sering dijuluki sebagai “Surga Dunia”. Menghidangkan paradoks budaya yang membelit masyarakat Bali saat ini, dimana pariwisata sering dijadikan sebagai lahan untuk menjual identitas lokal: menyesuaikan dengan keadaan pasar, tanpa sadar sebenarnya kita telah dirancang untuk menjadi lahan komersial dan telah mempertaruhkan antara budaya lokal, kebutuhan pasar, dan juga tuntutan ekonomi yang pada akhirnya membentuk masyarakat yang tunduk pada pariwisata.

Seperti judulnya, “Noris” yang berarti “tampil”, kami berharap penonton bisa menyaksikan penampilan dengan pengalaman yang berbeda. Bahwasanya, karya ini bisa ditafsir secara luas dan tidak hanya menilai penampilan karya ini berdasarkan keindahan estetika visual gerakan atau pola-pola tarian yang indah.
Terlepas apapun hasilnya, Noris merupakan hasil dari mengkritisi fenomena di pulau tercinta kita yang tidak pernah sepi akan permasalahan. Melahirkan sebuah tontonan untuk membaca kembali Bali yang penuh dengan paradoks budaya. Noris menjadi ruang reflektif bagi kita semua dalam menghadapi wajah Bali yang kian hari makin terhimpit arus pariwisata tanpa jeda. [T]
Penulis: Karista Denianti
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...