JAKARTA, 18 Oktober 2025. Siang yang basah menutup doa yang panjang. Setelah suara lintas iman berhenti bergetar di Ballroom Kuningan City Mall, langit tiba-tiba berubah warna: kelabu, berat, lalu pecah menjadi hujan deras. Air itu seperti jawaban dari langit bahwa doa-doa yang baru saja dilantunkan anak bangsa tak berhenti di udara, melainkan diterima di pelataran kasih Tuhan.
Di ruang megah yang hangat oleh cahaya, sekitar seribu lima ratus manusia berdiri dalam satu napas. Tidak ada jarak antara rosario dan tasbih, antara dupa dan hio. Yang ada hanyalah manusia yang menundukkan kepala, mencari Tuhan dalam wajah Indonesia. Acara "Indonesia Berdoa: Bersatu, Berkeadilan, dan Sejahtera Melalui Semangat Kolaborasi" menjadi pertemuan batin yang langka di tengah zaman yang gaduh.
Acara “Doa untuk Indonesia” ini selain dihadiri Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, juga dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah, Ketua Pembina FORMAS Hashim Djojohadikusumo, Ketua Umum FORMAS Yohanes Handoyo Budhisedjati, Mahfud MD, Habib Luthfi bin Yahya, serta sejumlah tokoh nasional dan para pejabat termasuk pimpinan ormas lintas agama.
Nama-nama itu bukan sekadar daftar pejabat, melainkan tanda bahwa doa kali ini sungguh lintas sekat—lintas jabatan, lintas keyakinan, lintas kepentingan. Mereka duduk dalam satu ruang, menunduk dalam keheningan yang sama: Indonesia.
Hujan yang turun selepas doa seolah membawa pesan dari langit: bahwa air rahmat hanya turun ketika bumi berhenti saling membakar. Bahwa pertemuan manusia di bawah atap iman yang berbeda, tapi dengan hati yang sama, adalah bentuk paling lembut dari keindonesiaan yang kita rindukan.
Doa yang Menyatukan, Bukan Menyalahkan
Dr. H. Serian Wijatno, Ketua Panitia dan sekaligus Ketua Dewan Pakar FORMAS, berbicara dengan suara lembut namun tajam maknanya: doa bukan pelarian dari kenyataan, melainkan jalan menuju kebangkitan.
“Kami adalah anak-anak bangsa yang ingin menundukkan kepala, menenangkan hati, dan menyerahkan seluruh harapan kepada Tuhan,” ujarnya.
Baginya, doa lintas iman adalah kekuatan spiritual yang bisa memperkuat persatuan bangsa, seperti sungai-sungai kecil yang bermuara ke laut besar bernama Indonesia.
Serian mengingatkan: bangsa yang besar selalu memiliki kekuatan spiritual yang mempersatukan. Dari masjid hingga gereja, dari pura hingga vihara, dari klenteng hingga rumah sederhana semua ruang suci itu memantulkan gema yang sama: cinta, persaudaraan, dan pengharapan.
Ia mengajak seluruh warga berdoa bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan tindakan, kolaborasi, dan kasih.
Lukisan Tuhan dan Cermin Kebangsaan
Prof. KH. Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI, menambahkan nada lembut dari podium. Ia menyebut keberagaman Indonesia sebagai “lukisan Tuhan yang terindah di dunia.”
“Kebhinekaan ini adalah lukisan Tuhan, tidak boleh ada siapa pun yang merusaknya,” ucapnya.
Kalimat itu bergema seperti doa yang memeluk semua iman. Ia menegaskan perlunya memperbanyak ruang spiritualitas membangun lebih banyak tempat berdoa daripada tempat yang menumbuhkan kekerasan batin. Sebab semakin banyak rumah bagi Tuhan, semakin lapang hati bangsa ini untuk saling memahami.
Kolaborasi yang Menghidupkan
Sementara Hashim Djojohadikusumo, Ketua Dewan Pembina FORMAS, menegaskan bahwa bangsa yang kuat harus mencari titik temu, bukan menajamkan perbedaan.
Ia mengingatkan bahaya polarisasi dan menegaskan pentingnya mengawal pemerintahan agar bersih dari korupsi. Hashim menyebut program seperti Sekolah Rakyat sebagai bentuk nyata kolaborasi moral untuk memperbaiki nasib jutaan anak bangsa.
Dan Yohanes Handoyo Budhisedjati, Ketua Umum FORMAS, menutup dengan pesan yang merangkul seluruh makna perhelatan itu : bahwa doa lintas agama ini adalah perayaan satu tahun FORMAS, tetapi sesungguhnya lebih dari itu ia adalah tanda kesadaran spiritual kolektif bangsa yang rindu pulih dan berbenah menuju Indonesia Emas 2045.
Bangsa yang makmur bukan hanya karena ekonomi, tapi karena nilai dan keadaban yang tumbuh dari hati manusia-manusia jujur.
Puisi Sebagai Doa
Dalam suasana yang penuh getar itu, aku—Emi Suy turut mempersembahkan sebuah puisi berjudul “Indonesia Berdoa”. Puisi ini saya tulis khusus untuk acara ini, setelah berbincang panjang dengan Shinta Hudiarto—penggiat toleransi dari Yayasan Amal Bhakti Sahabat Madani Indonesia, yang menjadi konseptor kolaborasi antara pembacaan puisi dan lantunan alat musik Sape khas Kalimantan oleh Petrus Sandi.
Saya menulisnya dengan seluruh kesadaran batin tentang arah dan tema acara Indonesia Berdoa, kemudian menyerahkan naskah itu kepada Shinta untuk dikurasi dan dikoreksi, selanjutnya diberikan kepada Bapak Yohanes Handoyo Budhisedjati dan Bapak Dr. H. Serian Wijatno untuk direview. Keduanya menyetujui puisi itu untuk dibacakan dalam acara ini, dengan doa agar setiap katanya menjadi cahaya kecil bagi bangsa.
Puisi ini lahir dari luka dan harapan; dari jeritan nurani yang menelusuri setiap sila Pancasila—menanyakan apakah nilai-nilai itu masih hidup di dalam diri kita. Isi puisi mencerminkan kondisi Indonesia hari ini. Berangkat dari kenyataan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila telah nyaris ditinggalkan. Isinya mewakili jeritan nurani anak bangsa, sekaligus doa memohon pengampunan dan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Kami tidak ingin menyalahkan penguasa, tetapi mengajak setiap warga untuk melihat ke dalam diri sendiri bahwa kerusakan bangsa ini tidak hanya lahir dari kebijakan yang salah, melainkan juga dari kelalaian kolektif kita semua.
Puisi ini tidak menuding siapa-siapa. Ia hanya memantulkan wajah kita di cermin sejarah tentang Pancasila yang menangis, kemanusiaan yang terabai, dan persatuan yang harus dihidupkan kembali dari hati, bukan dari slogan.
Dan akhirnya, puisi itu berbisik lirih:
“Biarlah doa ini menjadi nyala kecil, nyala yang membakar ego, meleburkan dendam, menyatukan kembali bangsa ini dalam kasih-Mu yang tak terbagi.”
Bait-bait itu saya bacakan perlahan bersama Ozi sang pembaca Text Pancasila diiringi petikan sape yang hening dan purba.
Nada-nada kayu Kalimantan mengalun seperti air di hulu membawa kata ke dalam hati yang lama kering oleh bising dunia.
Banyak yang terdiam lama setelahnya.
Seolah setiap baris membuka ruang perenungan baru: bahwa jalan spiritual bangsa ini harus dimulai dari dalam diri setiap anak negeri.
Berikut ini saya tampilkan keseluruhan puisi yang dibacakan di atas panggung acara Indonesia Berdoa.’
PUISI INDONESIA BERDOA (karya : Emi Suy)
BAGIAN 1 - PANCASILA MENANGIS
Pancasila Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa Tapi doa dipagari Dan rumah ibadah dijaga aparat bersenjata Agama-agama saling menuding Seolah Tuhan bisa diperebutkan Bukankah Tuhan lebih dekat dari nadi kita? Ego manusia kita saja yang tak sanggup menyerap sifat kasih dan sayangNya.
Pancasila Dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Tapi penduduk sekedar diperlakukan sebagai angka Kemiskinan dipaksa diam Suaranya hanya dihitung saat pemilu Rakyat kecil hanya bisa menatap kosong melihat segelintir pejabat menari di atas pajak yang dikumpulkan dari keringat dan darahnya.
Pancasila Tiga, Persatuan Indonesia Atau ini hanya slogan di baliho kampanye ? Bendera satu warna tapi suku-suku masih saling curiga Anak Papua diabaikan Perempuan Tionghoa dihina dan diperkosa Minoritas menutup mulut agar tak dipersekusi Sementara yang kuat tertawa di televisi.
Pancasila Empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat… Tapi hikmat sudah tak lagi jadi cahaya ! Kebijaksanaan berdiri dengan pincang ! Reformasi sudah lewat tapi negeri ini belum beranjak ke mana-mana Apanya yang dimusyawarahkan ? Siapa yang sesungguhnya mereka wakili ?
Pancasila Lima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Mimpi ! Cuma bayangan di buku pelajaran ! Tanah air yang seharusnya jadi rahim kesejahteraan habis diperkosa, diperdagangkan, ditumpuk jadi gunung kekayaan bagi segelintir orang.
Masihkah Pancasila menjadi pedoman hidup kita ? Atau hati kita yang semakin retak membiarkannya jadi penghias buku sejarah ?
BAGIAN 2 - NYALA KECIL UNTUK NEGERI
Tuhan, kami datang dengan wajah yang berdebu sejarah, wajah yang menyimpan noda dari kelalaian panjang. Kami lelah bersembunyi di balik alasan, lelah menuding pemerintah semata.
Sebab luka bangsa ini bukan hanya karena tangan yang memegang kuasa, tetapi juga karena hati kami sendiri yang membiarkan retakan kecil tumbuh tanpa pernah kami rawat, seperti pohon yang layu di kebun sendiri.
Kami tahu, Tuhan, kesalahan ini bukan milik satu pihak, tetapi milik kita semua. Kami menutup mata ketika keadilan dirundung, kami bungkam saat dusta menjadi udara sehari-hari, kami sibuk dengan urusan kecil sementara rumah besar bernama negeri hampir runtuh oleh abai kami sendiri.
Ampuni kami, Tuhan. Hari ini kami berdiri di hadapan-Mu, bukan sebagai pejabat atau rakyat, bukan sebagai si kaya atau si miskin, tetapi sebagai manusia yang sama-sama rapuh, sama-sama haus, sama-sama penuh alpa.
Hari ini, Tuhan, izinkan kami bersujud dengan jujur mengakui bahwa bangsa ini jatuh karena kelalaian kami bersama. Dan dengan kesadaran ini, beri kami keberanian untuk berubah. Bukan esok, bukan lusa, tetapi kini, mulai dari diri kami sendiri.
Bangsa ini, Tuhan, adalah cermin yang memantulkan diri kami. Dan cermin itu retak, bukan hanya oleh tangan yang lalai, tetapi juga oleh goresan-goresan kecil yang kami biarkan menganga, di ruang-ruang sunyi hati kami.
Kami mentertawakan dusta seakan itu bukan racun. Kami membiarkan korupsi kecil menjadi kebiasaan yang diterima. Kami menyimpan kebencian dalam ruang keluarga, hingga rumah besar bernama negeri perlahan menjelma menjadi rumah penuh luka.
Kami sadar, Tuhan, retakan kecil yang diabaikan akan membesar menjadi jurang. Dan kini, bangsa ini nyaris pecah karena kami terlalu sering memilih diam.
Kami bangga dengan semboyan: Bhinneka Tunggal Ika. Kami menuliskannya di lambang negara, mengajarkannya kepada anak-anak, menyebutnya dalam pidato.
Namun lihatlah, Tuhan: suku saling mencaci hanya karena beda tradisi, kampung terbelah hanya karena beda agama, keluarga tercerai berai hanya karena beda pilihan.
Kami bicara persatuan, namun diam-diam menyimpan dendam. Kami bangga dengan semboyan, namun tak sanggup menghidupkannya.
Ampuni kami, Tuhan. Negara yang indah ini telah kami koyak dengan tangan sendiri, seperti kain yang dirajut panjang, lalu kami robek sepotong demi sepotong.
Tuhan, biarlah doa ini menjadi nyala kecil: nyala yang membakar ego, meleburkan dendam, menyatukan kembali bangsa ini dalam kasih-Mu yang tak terbagi.
Ajari kami, Tuhan, untuk memulai dari diri sendiri: dari cara memperlakukan tetangga, dari kejujuran di meja kerja, dari kesetiaan menjaga amanah kecil, sebelum bicara tentang negeri yang besar.
Indonesia berdoa, Tuhan. Dengan kesadaran pahit bahwa salah ini adalah salah kami bersama, dan pertobatan ini hanya mungkin jika dijalani bersama.
Biarlah doa ini menjadi gerakan batin yang tak berakhir, seperti sungai yang terus mengalir, mengikis kerak lama, membawa benih-benih baru, hingga negeri ini benar-benar bangkit dan bertumbuh.
SETIAP orang Bali, walaupun ia terlahir sebagai laki-laki, pasti pernah matanding atau majejahitan.
Matanding adalah kegiatan untuk menyanding-nyandingkan atau menata berbagai bah...
KINI anak-anak atau remaja bisa belajar menari dengan mudah, misalnya lewat video di youtube atau video dari CD. Itu boleh-boleh saja. Namun sebaiknya belajarlah menari dari guru t...
EUFORIA pemilukada serentak tahun 2017 resmi berakhir. Sisa endapan perseteruan, bahkan percikan kebencian tidak dapat ditunggu agar selesai, tapi harus diselesaikan.
Khusus di DK...
INGAT Pilgub Bali 2013? Made Mangku Pastika yang kali itu menjadi calon pertahana diusung Partai Demokrat setelah mengetahui partai yang mengusungnya pada Pilgub sebelumnya telah m...
OKELAH, aku harusnya menulis ini September tahun lalu. Entah mengapa ada saja kegiatan yang mesti didahulukan, sehingga tulisan ini menjadi selalu tertunda. Padahal, aku benci menu...
AKHIR-AKHIR ini sosial media banyak dipenuhi oleh poster ajakan untuk ikut seleksi kegiataan kepemudaan. Seleksi ini biasanya mengajak anak muda untuk ikut menjadi duta. Mulai dari...
SEJUMLAH remaja tampak heran dan sempat mengernyitkan dahi ketika masuk ke sebuah stand di areal pameran HUT ke-246 Kota Gianyar di Lapangan Astina, Senin 17 April 2017 malam. Para...
PATUNG atau tugu Singa Ambara Raja, landmark Kota Singaraja, yang berdiri tepat di depan Kantor Bupati Buleleng, bukanlah patung yang telah ada semenjak zaman kerajaan. Patung ini...
ADA lelucon yang bikin kuping saya sebagai “orang Tabanan” panas.
“Jika kamu berada di jalan desa, dan ingin tahu batas antara desa yang masuk Kabupaten Badung dan desa yang masuk...
HIDUPLAH seorang lelaki bernama Manik di gubuk tua di sebuah desa terpencil. Di desa terpencil itu, tidak ada lagi tumbuhan yang bisa hidup. Pohon-pohon sudah ditebang oleh para pe...