’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi
If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana, tetapi di zaman kontemporer ia menjelma gugatan eksi...
Wahai raja diraja
Kukatakan apa adanya
Tidak kukurangi, tak dilebih-lebihkan
Bahwa sebilah pelor
Ambisiku ingin sekelas penyair tulen
Bermartabat pelakon sandiwara
Tukang pemahat keringat awan budayawan
Aku tidak mau hanya dikenal sebagai pelawak plagiat
Piawai tiru cara bicara para-para negarawan
Mengisi panggung dengan sebatas lelucon
Pastilah kata-kataku sarat dengan makna, nilai, berisi keindahan
Bukan berlumuran caci makian, sumpah serapah, hasutan atau kedengkian
Bukan seperti selama ini kau yang ragam watak
Terima pesan puisi partai politik
Memelas minta dibayar dengan harga yang pantas
Kau seniman tak otentik tak punyai reputasi
Duh hanya seorang pecundang
Mengais derma dari menjual sejumput puisi murahan tanpa makna
Negeri salah urus
Tanah airku penggalan surga, besar, luas nan kaya
Tapi, reputasi itu bocor
Lantaran kualitas kepemimpinan kelas recehan
Pamong negara semuanya pongah
Tidak peka penderitaan rakyat
Kerusakan, reruntuhan dan ada lagi yang mati
Sementara pemimpin pekok pasti sedang pulas
Gebrak meja bisa!
Pidato nada tinggi bisa!
Tapi tong kosong isinya
Ambisi sapu bersih, nyatanya bangkai koruptor dan_
Para sindikat tak punya jasa
Diberi penghargaan tinggi negara
Cukup sudah kaucakan
Bangun kembali yang hilang
Perjuangan adalah keyakinan perbaikan
Ingat 66 dan 98 catatan kelam
Ibu pertiwi jangan menangis lagi
Nafas kehidupan bersimbiosis
Para brutus sumber kekacauan itu
Besar lahir dari kekerasan dan penindasan
Mereka sebentar lagi akan sunyi
Tidurlah dulu sang pujaanku
Teduh sebelum juga datang sekawanan perih
Pagi terlalu pagi untuk bersandar pada malam
Kesadaran ingat pesta makan bakso
Terkejut hilang ingat kawanku
Ia tampil narsistis tak urung jadi badut
Apa yang dicari? ganasnya ambisi tahta? atau serakah setali tiga harta?
Pasti kapan masa jawabanya akan rungkul datang
Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak
Itu pepatah-pepitih tak guna!
Kesialan ini seperti ada yang bilang
Dosa yang membuah
Memang begitu pakem bekerja, ada langsung dan terkadang nanti
Bila sedang ketiban, tampil norak bin udik
Ia nggak sadar memparodikan skandal-skandalnya sendiri
Pada akhirnya berbuah bencana bagi semesta
Dan bencana bagi sindikatnya
Biarlah segelintir orang yang ambil untung
Duka lara dijadikan bargaining chis untuk kepentingan politik dan ekonomi
Percayalah itu ia sedang menggali liang lahat sendiri
Duka lara
Panas proyektil malah di musim penghujan
Bukannya halilintar yang menyambar
Tapi tubuh basah lunglai malah dilindas rantis
Perasaan aku membuncah hancur
Melihat kawan semata wayang luka menganga
Teriak menjerit kesakitan minta pertolongan
Aku meratap-ratap
Negeri kini dilanda bencana
Menggores luka yang dalam tersambung sulit dihapus
Pulanglah
Kami takkan surut meski dihadang risiko banjir letusan gas airmata
Istirahat abadimu mengubah iba kami saling tatap
Paham pamor penguasa yang rusak adalah ancaman bagi negara
.
Penulis: Mujamin Jassin
Editor: Adnyana Ole
If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana, tetapi di zaman kontemporer ia menjelma gugatan eksi...
SASTRA lama sering kali dipandang sebelah mata, dianggap sebagai artefak usang yang sudah ketinggalan zaman (out of fashion). Namun, sebuah pertanyaan kritis muncul: sejauh mana k...
LEBARAN tahun ini saya tidak ikut larut seperti masyarakat lain mengunjungi objek wisata. Tidak juga berdesak-desakan menghabiskan uang di pusat perbelanjaan. Hari fitri tahun ini...
PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil itu pula, narasi tentang filosofi...
Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok ini justru hadir dalam kea...
BEL istirahat berbunyi. Anak-anak tampak sangat antusias dan sumringah keluar dari kelas melepas jenuh setelah hampir satu jam lamanya duduk menyimak pelajaran. Bebera...
Di Bali, pertanian sawah dan Subak bukan sekadar cara bercocok tanam, melainkan manifestasi dari political will penguasa sejak era awal terbentuknya kerajaan Bali kuno. Ketika...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 22 Maret 2026 TAHUN 1995-1997 secara khusus saya mengatur waktu teratur berkunjung ke Ubud dan menginap bahkan tinggal di sana. Niatnya sederha...
YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah, yang dilindas sejarah besar....
Di hari yang seharusnya penuh pelukan, tidak semua orang benar-benar merasa pulang. Lebaran selalu datang dengan janji yang sama. Tentang maaf, tentang kembali, tentang kebahag...