Puisi-puisi Mujamin Jassin | Aku Sebilah Pelor

Mujamin Jassin
by Mujamin Jassin — Oktober 19, 2025 in Puisi

Tatkala.co

Aku Sebilah Pelor

Wahai raja diraja
Kukatakan apa adanya
Tidak kukurangi, tak dilebih-lebihkan

Bahwa sebilah pelor
Ambisiku ingin sekelas penyair tulen
Bermartabat pelakon sandiwara
Tukang pemahat keringat awan budayawan

Aku tidak mau hanya dikenal sebagai pelawak plagiat
Piawai tiru cara bicara para-para negarawan
Mengisi panggung dengan sebatas lelucon

Pastilah kata-kataku sarat dengan makna, nilai, berisi keindahan
Bukan berlumuran caci makian, sumpah serapah, hasutan atau kedengkian

Bukan seperti selama ini kau yang ragam watak
Terima pesan puisi partai politik
Memelas minta dibayar dengan harga yang pantas

Kau seniman tak otentik tak punyai reputasi
Duh hanya seorang pecundang
Mengais derma dari menjual sejumput puisi murahan tanpa makna

Jangan Menangis Lagi

Negeri salah urus
Tanah airku penggalan surga, besar, luas nan kaya
Tapi, reputasi itu bocor
Lantaran kualitas kepemimpinan kelas recehan
Pamong negara semuanya pongah
Tidak peka penderitaan rakyat

Kerusakan, reruntuhan dan ada lagi yang mati
Sementara pemimpin pekok pasti sedang pulas
Gebrak meja bisa!
Pidato nada tinggi bisa!
Tapi tong kosong isinya

Ambisi sapu bersih, nyatanya bangkai koruptor dan_
Para sindikat tak punya jasa
Diberi penghargaan tinggi negara

Cukup sudah kaucakan
Bangun kembali yang hilang
Perjuangan adalah keyakinan perbaikan
Ingat 66 dan 98 catatan kelam
Ibu pertiwi jangan menangis lagi

Nafas kehidupan bersimbiosis
Para brutus sumber kekacauan itu
Besar lahir dari kekerasan dan penindasan
Mereka sebentar lagi akan sunyi

Kawan Menolak Kawan

Tidurlah dulu sang pujaanku
Teduh sebelum juga datang sekawanan perih
Pagi terlalu pagi untuk bersandar pada malam
Kesadaran ingat pesta makan bakso

Terkejut hilang ingat kawanku
Ia tampil narsistis tak urung jadi badut
Apa yang dicari? ganasnya ambisi tahta? atau serakah setali tiga harta?
Pasti kapan masa jawabanya akan rungkul datang

Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak
Itu pepatah-pepitih tak guna!
Kesialan ini seperti ada yang bilang
Dosa yang membuah
Memang begitu pakem bekerja, ada langsung dan terkadang nanti

Bila sedang ketiban, tampil norak bin udik
Ia nggak sadar memparodikan skandal-skandalnya sendiri
Pada akhirnya berbuah bencana bagi semesta
Dan bencana bagi sindikatnya

Belasungkawa

Biarlah segelintir orang yang ambil untung
Duka lara dijadikan bargaining chis untuk kepentingan politik dan ekonomi
Percayalah itu ia sedang menggali liang lahat sendiri

Duka lara
Panas proyektil malah di musim penghujan
Bukannya halilintar yang menyambar
Tapi tubuh basah lunglai malah dilindas rantis

Perasaan aku membuncah hancur
Melihat kawan semata wayang luka menganga
Teriak menjerit kesakitan minta pertolongan

Aku meratap-ratap
Negeri kini dilanda bencana
Menggores luka yang dalam tersambung sulit dihapus

Pulanglah
Kami takkan surut meski dihadang risiko banjir letusan gas airmata
Istirahat abadimu mengubah iba kami saling tatap
Paham pamor penguasa yang rusak adalah ancaman bagi negara

.

Penulis: Mujamin Jassin
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

Mujamin Jassin

Related Posts
Cerpen

Gabriela

BY Putri Handayani Juli 03, 2016

Cerpen: Putri Handayani   “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...

Read More
Cerpen

Wanita Senja

BY Satia Guna Juni 25, 2016

Cerpen: Satia Guna                Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...

Read More