Bupati dan Puisinya – Kisah Kecil dari Flores Timur
TENTU banyak juga bupati yang diam-diam menulis puisi. Namun bupati yang tidak diam-diam menulis puisi mungkin sedikit orang saja. Salah satunya yang saya kenal adalah Bupati Flore...
Wahai raja diraja
Kukatakan apa adanya
Tidak kukurangi, tak dilebih-lebihkan
Bahwa sebilah pelor
Ambisiku ingin sekelas penyair tulen
Bermartabat pelakon sandiwara
Tukang pemahat keringat awan budayawan
Aku tidak mau hanya dikenal sebagai pelawak plagiat
Piawai tiru cara bicara para-para negarawan
Mengisi panggung dengan sebatas lelucon
Pastilah kata-kataku sarat dengan makna, nilai, berisi keindahan
Bukan berlumuran caci makian, sumpah serapah, hasutan atau kedengkian
Bukan seperti selama ini kau yang ragam watak
Terima pesan puisi partai politik
Memelas minta dibayar dengan harga yang pantas
Kau seniman tak otentik tak punyai reputasi
Duh hanya seorang pecundang
Mengais derma dari menjual sejumput puisi murahan tanpa makna
Negeri salah urus
Tanah airku penggalan surga, besar, luas nan kaya
Tapi, reputasi itu bocor
Lantaran kualitas kepemimpinan kelas recehan
Pamong negara semuanya pongah
Tidak peka penderitaan rakyat
Kerusakan, reruntuhan dan ada lagi yang mati
Sementara pemimpin pekok pasti sedang pulas
Gebrak meja bisa!
Pidato nada tinggi bisa!
Tapi tong kosong isinya
Ambisi sapu bersih, nyatanya bangkai koruptor dan_
Para sindikat tak punya jasa
Diberi penghargaan tinggi negara
Cukup sudah kaucakan
Bangun kembali yang hilang
Perjuangan adalah keyakinan perbaikan
Ingat 66 dan 98 catatan kelam
Ibu pertiwi jangan menangis lagi
Nafas kehidupan bersimbiosis
Para brutus sumber kekacauan itu
Besar lahir dari kekerasan dan penindasan
Mereka sebentar lagi akan sunyi
Tidurlah dulu sang pujaanku
Teduh sebelum juga datang sekawanan perih
Pagi terlalu pagi untuk bersandar pada malam
Kesadaran ingat pesta makan bakso
Terkejut hilang ingat kawanku
Ia tampil narsistis tak urung jadi badut
Apa yang dicari? ganasnya ambisi tahta? atau serakah setali tiga harta?
Pasti kapan masa jawabanya akan rungkul datang
Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak
Itu pepatah-pepitih tak guna!
Kesialan ini seperti ada yang bilang
Dosa yang membuah
Memang begitu pakem bekerja, ada langsung dan terkadang nanti
Bila sedang ketiban, tampil norak bin udik
Ia nggak sadar memparodikan skandal-skandalnya sendiri
Pada akhirnya berbuah bencana bagi semesta
Dan bencana bagi sindikatnya
Biarlah segelintir orang yang ambil untung
Duka lara dijadikan bargaining chis untuk kepentingan politik dan ekonomi
Percayalah itu ia sedang menggali liang lahat sendiri
Duka lara
Panas proyektil malah di musim penghujan
Bukannya halilintar yang menyambar
Tapi tubuh basah lunglai malah dilindas rantis
Perasaan aku membuncah hancur
Melihat kawan semata wayang luka menganga
Teriak menjerit kesakitan minta pertolongan
Aku meratap-ratap
Negeri kini dilanda bencana
Menggores luka yang dalam tersambung sulit dihapus
Pulanglah
Kami takkan surut meski dihadang risiko banjir letusan gas airmata
Istirahat abadimu mengubah iba kami saling tatap
Paham pamor penguasa yang rusak adalah ancaman bagi negara
.
Penulis: Mujamin Jassin
Editor: Adnyana Ole
TENTU banyak juga bupati yang diam-diam menulis puisi. Namun bupati yang tidak diam-diam menulis puisi mungkin sedikit orang saja. Salah satunya yang saya kenal adalah Bupati Flore...
BULAN Desember 2016 lalu Federasi Teater Indonesia menganugerahkan penghargaan kepada tiga tokoh yang dianggap berjasa dalam perkembangan Teater Indonesia yakni penggerak teater Az...
MANUSIA adalah makhluk yang tak pernah puas dengan kenikmatan duniawi. Berbagai hal yang sudah ada sampai saat ini belum mampu memuaskan hasrat hidup manusia. Selalu saja ada hal y...
MOBIL Pusling (perpustakaan keliling) Perpustakaan Kota Denpasar tampak parkir di bawah tenda putih. Sejumlah buku tampak bersusun kurang rapi di dalam mobil tersebut. Dari buku an...
BAGI orang Bali (Hindu) tentu saja tak ada masalah dengan perayaan Tahun Baru, meski sesungguhnya Hindu memiliki Tahun Baru sendiri yang dirayakan dengan Nyepi. Tak masalah juga Ba...
APA yang ada di pikiranmu saat bicara soal topi? Topi, kadang menjadi hal yang tidak penting, bagi yang tidak membutuhkan. Itu sangat jelas. Tapi, bagi sebagian orang, kehadiran t...
Cerpen: Komang Astiari APAKAH kiamat itu benar benar nyata? Jika iya jawabnya,maka bagaimana engkau melukiskannya? Barangkali kemunculan kiamat itu bak tsunami yang meluluhlantakk...
Selamat Tahun Baru 2017!!! Selamat merayakan Tumpek Wayang, untuk krama Hindu Bali! Suatu kebetulan yang langka, akhir tahun 2016 bertepatan dengan tumpek terkeramat dalam keperc...
“AKU lagi diet instagram bulan ini, jadi nggak tahu informasi yang lagi hits,” jawab seorang kawan dengan ketus, saat saya menanyakan informasi konser musik bulan Desember. Teman...
TAHUN baru 2017 tinggal mengitung jam. Entah apa yang spesial pada pergantian tahun kali ini, mengingat rasanya sama saja pergantian tahun dari tahun ke tahun. Kembang api, terompe...