BALI tidak sedang baik-baik saja. Berbagai fenomena sosial, budaya, ekologi, ekonomi dan politik menghantui Bali. Diakui atau tidak, semua itu akibat dari dampak buruk industri pariwisata yang begitu masif. Kapitalisme global telah menggurita dan mencengkeram Bali dari berbagai penjuru. Dan, sayangnya, masyarakat Bali masih terlena dengan puja-puji, yang pada akhirnya memberangus pemikiran kritis.
Penyair WS Rendra telah mengingatkan dampak buruk industri pariwisata yang terjadi di Bali jika tidak dikelola dengan pemikiran kritis dan bijaksana. Pada tahun 1977, Rendra menulis puisi pamflet berjudul “Sajak Pulau Bali”. Salah satu baitnya bernada sangat satir:
Dan Bali, dengan segenap kesenian, kebudayaan, dan alamnya, harus bisa diringkaskan, untuk dibungkus dalam kertas kado, dan disuguhkan pada pelancong.
“Sajak Pulau Bali” adalah puisi yang sangat keras mengritik industri pariwisata yang berkembang di Bali. Tapi siapa yang peduli pada isi puisi pada era itu? Dengan tekanan masif dari Bapak Pembangunan, Presiden Soeharto, Bali pada era itu terus menggenjot pembangunan di sektor pariwisata.
Dari tahun ke tahun, berhektar-hektar lahan pertanian beralih fungsi menjadi bangunan-bangunan beton yang mengakibatkan subak mati perlahan-lahan. Berhektar-hektar tanah di Pecatu dibebaskan dengan paksa melalui intimidasi dan kekerasan. Pulau Serangan dan Teluk Benoa direklamasi demi memuaskan nafsu investor serakah.
Pemodal-pemodal besar dari Jakarta dan luar negeri terus berdatangan ke Bali dengan tujuan menguasai Bali dan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari industri pariwisata. Dan, tentu saja ada yang dikorbankan. Rendra menulis dalam puisinya: Maka di Bali / hotel-hotel pribumi bangkrut / digencet oleh packaged tour.
Kini, kapitalisme global semakin menggurita di Bali. Tidak banyak yang kritis. Tidak banyak yang gelisah menghadapi dampak buruk industri pariwisata. Di antara yang tidak banyak itu muncul nama I Ketut Putrayasa. Dia adalah salah satu seniman yang masih memiliki sikap kritis terhadap berbagai fenomena yang terjadi di Bali.
I Ketut Putrayasa adalah seniman kelahiran Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, Bali, 15 Mei 1981. Ia lulusan Program Pascasarjana Penciptaan Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) - Bali. Ia telah banyak membuat patung dan seni instalasi bernuansa satir. Di antaranya adalah The Giant Octopus (2019), Pandora Paradise (2020), Ubud is Winter - 10 Degree Celcius (2021), The Golden Toilet in Winter (2022), The Last Stronghold (2022), Proyek Mengeringkan Air (2023), Warring Images (2023), Selilit (2025), Vanitas (2025), Oryzamorgana (2025), The Octopus Queen (2025). Karya-karya patungnya juga terpajang di beberapa tempat di Bali, Jakarta, Singapura, Belgia, Perancis, Turkey.
The Giant Octopus
Berangkat dari kegelisahan dan pemikiran kritis terhadap tanah kelahirannya sendiri, Putrayasa pada tahun 2019 menciptakan patung anyaman bambu berjudul The Giant Octopus dalam rangka Berawa Beach Arts Festival II. Patung itu berwujud gurita raksasa setinggi 18 meter dengan tentakel-tentakel ratusan meter yang menjalar di Pantai Berawa, Kuta Utara, Bali. The Giant Octopus adalah karya seni yang satir. Lewat patung itu, Putrayasa mengritisi berbagai fenomena dan dampak buruk pariwisata yang terjadi di Bali.
Patung The Giant Octopus di Berawa
Kapitalisme pariwisata seperti gurita raksasa dengan tentakel-tentakelnya yang mencengkeram setiap target-targetnya. Hotel, villa, restaurant, bar, dan berbagai fasilitas pariwisata tumbuh menjamur di Bali selatan. Alih fungsi lahan pun terjadi di mana-mana. Sawah-sawah yang dulu menghampar luas di Canggu dan Berawa kini menjadi kawasan hunian dan fasilitas pariwisata. Sungai-sungai dan pantai tercemar berbagai limbah. Jalan-jalan macet dengan berbagai jenis kendaraan. Persoalan sosial, budaya, ekonomi, lingkungan menjadi menu sehari-hari.
Tak dapat dipungkiri, Bali telah dikuasai para pemilik modal, baik dari luar Bali maupun luar negeri. Pemujaan industri pariwisata yang berlebihan dan mentalitas “belog-ajum” membuat orang Bali lupa diri dan terlena sehingga menjadi babu di rumahnya sendiri. Lama kelamaan orang Bali tidak lagi memiliki tanah dan semakin terpinggirkan. Istilah “jaen hidup di Bali” (enak hidup di Bali) pada akhirnya menjadi lelucon dan sindiran bagi orang Bali sendiri.
Petatah-petitih seperti “ede ngaden awak bisa, depang anake ngadanin” (jangan mengira diri pintar, biarkan orang lain menilai) yang sejatinya untuk bersikap rendah hati, malah memunculkan sikap rendah diri, akibat persaingan kehidupan yang semakin tajam. Pemikiran kritis dan sikap tegas perlahan menghilang. Karena uang adalah raja, pemerintah pun tak berkutik dicengkeram gurita kapitalisme global. Bahkan, tanah aset pemerintah pun disewakan dengan harga murah kepada investor, seperti yang terjadi di Pantai Nyanyi, Tabanan.
The Octopus Queen
Setelah The Giant Octopus, pada tahun 2025 Putrayasa kembali menampilkan karya patung yang metaforis dan satir berjudul The Octopus Queen. Patung itu terbuat dari kerangka baja yang dibalut anyaman bambu. Dengan tinggi 25 meter dan lebar 12 meter, patung itu berwujud tokoh setengah badan di mana pada bagian dada tampak bolong. Dari kepala patung menjulur tentakel-tentakel gurita. Kedua tangannya menengadah, sekuntum teratai mekar di sana.
Patung anyaman bambu terbesar di Indonesia yang tercatat dalam Rekor MURI itu berdiri dengan gagah di atas tebing karang di kawasan Broken Beach (Pasih Uug), Desa Sakti, Nusa Penida, Klungkung, Bali. Dengan latar lautan luas, wajah patung itu menghadap ke utara, seolah sedang memantau daratan Bali.
Karya seni rupa seringkali memunculkan beragam penafsiran dari penikmatnya. The Octopus Queen bisa ditafsirkan sebagai Ratu Gurita. Sepintas perwujudan patung itu mirip Medusa, perempuan berambut ular dari mitologi Yunani. Siapa pun yang menatap mata Medusa bisa berubah menjadi batu.
The Octopus Queen dibangun di kawasan destinasi wisata yang paling ramai dikunjungi di Nusa Penida, untuk mengingatkan bahwa industri pariwisata selalu bermuka dua. Di satu sisi, pariwisata meningkatkan perekonomian warga. Namun, di sisi lain, bisa mendatangkan berbagai problem sosial, budaya, ekologi.
Tentakel-tentakel gurita yang menjulur-julur dari kepala patung adalah metafora bahwa kapitalisme pariwisata bisa menggurita dan menguasai kawasan Nusa Penida dan meminggirkan penduduk lokal, seperti yang terjadi di kawasan Bali selatan. Gurita kapitalisme selalu bernafsu mencari dan menguasai lahan baru untuk dinasti dan kroninya, tak terkecuali di kawasan Nusa Penida.
Kedua tangan patung itu tampak dalam posisi meminta sesuatu. Dan sekuntum teratai mekar di situ. Dalam konteks Buddhisme, teratai adalah simbol pencerahan. Namun dalam konteks patung ini, teratai adalah simbol kapitalisme. Seperti teratai, kapitalisme pun bisa tumbuh di kawasan berlumpur yang kotor, namun tak tersentuh lumpur. Begitulah kapitalisme pariwisata, seolah tampak suci, sehingga dipuja sebagai harapan atau pemberi pencerahan atas penderitaan umat manusia karena tercekik persoalan ekonomi dan kemiskinan.
Patung The Octopus Queen di Nusa Penida
Para pemilik modal dengan menbawa beribu janji dan harapan cenderung menyasar daerah-daerah terbelakang dan miskin namun kaya sumber daya alam. Dengan beribu janji dan harapan itu, mereka dengan mudah mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia di daerah sasarannya. Di sinilah kita perlu berpikir kritis dalam menghadapi serbuan kapitalisme global.
The Octopus Queen dibuat dengan dada bolong. Selain untuk menjaga keseimbangan patung dari terpaan angin, dada bolong bisa dibaca sebagai metafora yang satir. Ketika kepala (pikiran) telah dicengkeram tentakel-tentakel gurita kapitalisme, seringkali dada (hati, perasaan) menjadi berlubang, kehilangan simpati dan empati.
Di Bali dengan mudah kita menemukan berita-berita kekerasan, pertikaian, perkelahian, bahkan pembunuhan karena persoalan ekonomi, rebutan lahan, rebutan tanah warisan. Diakui atau tidak, ini adalah dampak buruk dari perkembangan pariwisata yang tidak terkendali. Harga tanah semakin mahal dan segala sesuatu diukur dengan materi. Bahkan alih fungsi lahan terjadi sangat masif yang berdampak pada persoalan sosial, budaya, lingkungan. Tidak hanya itu, tanah pelaba pura pun bisa menjadi sengketa karena kerakusan manusia yang telah kehilangan hati nurani termakan janji-janji investor serakah.
Nusa Penida adalah sebuah pulau yang kini bersolek menyambut kedatangan wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Sekitar tiga hingga enam ribu wisatawan mengunjungi Nusa Penida setiap hari dengan tujuan utama, antara lain Broken Beach, Kelingking Beach. Ruas-ruas jalan yang sempit menjadi padat dengan kendaraan yang melintas. Hotel, villa, restaurant dan berbagai fasilitas wisata lainnya tumbuh menjamur di sana.
Sejak lama investor dari luar Bali dan luar negeri telah mencaplok tanah di Nusa Penida. Tanah yang dulunya tandus dan berkarang, menjadi lahan yang menggiurkan bagi para investor. Orang-orang kaya baru pun banyak bermunculan di Nusa Penida. Bagi yang pandai memanfaatkan uangnya, mereka menggunakannya untuk hal-hal positif. Namun, tidak sedikit yang menggunakan uangnya untuk berfoya-foya, berjudi, dan bergaya hidup mewah, hingga lama kelamaan uang habis, tanah ludes, otak pun stres.
Cepat atau lambat Nusa Penida akan mengulang sejarah pariwisata di Bali selatan. Jika tidak disadari dan diantisipasi, Nusa Penida bisa menjadi bom waktu yang meledakkan koflik sosial dan ekonomi. The Octopus Queen menjadi pengingat bahwa industri pariwisata harus disikapi dengan pemikiran kritis dan bijaksana sehingga tidak berdampak buruk bagi warga lokal.
Bali Merenung
Dengan kehadiran The Giant Octopus di Pantai Berawa dan The Octopus Queen di Broken Beach seharusnya membuat Bali merenung. Cengkeraman tentakel-tentakel gurita kapitalisme global adalah suatu keniscayaan. Pertumbuhan industri pariwisata yang tidak terkendali hanya akan semakin memunculkan dampak buruk bagi Bali. Seperti yang ditulis Rendra dalam puisinya: Di Bali / pantai, gunung, tempat tidur dan pura, / telah dicemarkan.
Bali tidak bisa diam. Sudah saatnya Bali berani bersikap tegas menolak investor yang merugikan Bali. Para pemimpin Bali harus berani bersikap dan bersuara kritis terhadap tekanan-tekanan dari pihak luar yang ingin menghancurkan Bali dengan industri pariwisata yang tak terkendali. Sudah saatnya para pemimpin Bali mulat sarira demi masa depan Bali yang lebih baik. [T]
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara membutuh...
SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran International Automodified (...
Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu panggung, keindahan kimono...
KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I Gede Lecir dan adiknya, I Made Geta...
SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka Fine Art Gallery, Gianyar, yang terletak di Jl. Pro...
KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan telinga seakan terpikat oleh keselarasan ekspresi (...
Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari. Itu pun jari kiri. Saya tidak tahan dengan k...
LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada.
Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol, lubang di setiap pengunci pintu, dan l...
Pelancong Gersang
Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah.
Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,mema...
"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah."
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Singaraja, ia dapat m...