Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
Bali adalah salah satu pulau di gugusan Nusantara, dulu kerap sebut sebagai Sunda Kecil, yang terpisah dari Sunda Besar. Lafal Bali yang diucapkan secara halus akan menjadi wali yang berarti perwakilan atau utusan.
Bali dikenal juga dengan nama banten, yang dalam bahasa Bali juga disebut wali. Banten sering dipadankan dengan istilah baan(karena)-enten (sadar), sesuatu yang dibuat dan dipersembahkan karena kesadaran. Jadi wali/banten bisa berarti utusan/wakil/yang berkesadaran, yang kemudian dikenal dengan istilah yadnya, persembahan yang tulus iklas. Sedang laku mempersembahkan dengan tulus iklas disebut "mayadnya".
Sebutan Bali sebagai Banten dikenal dari prasasti Bali kuna yang tersimpan di Pura Puncak Penulisan (dulu disebut Pura Tegeh Kahuripan)
Dalam prasasti ini termuat nama Śri Astasura Ratna Bumi Banten (ca. 1332-1343) (etimologi, Asta= Delapan, Sura= Dewa, Ratna= Permata, Bumi Banten= Tanah Bali) adalah Raja terakhir dari Kerajaan Bedahulu, Bali yang berkuasa pada tahun 1332 sampai dengan 1343 Masehi. Raja ini kemungkinan dikenal dengan sebutan raja Tapolung (pertapa ulung), yang juga disamakan dengan Maya Danawa (keturunan Maya Dewi/Dewa Danau seperti istilah Pandawa untuk keturunan Pandu dan Bargawa untuk keturunan Rsi Bergu)
Bali dengan segala sebutan dan istilahnya adalah sebuah pulau yang nyata, berfisik, dengan segala yang ada di dalamnya disebut sebagai 'palemahan', manusianya disebut 'pawongan' dan keyakinan yang menjiwai manusianya disebut 'pahyangan' yang ada di dalam dan di luar diri manusia (dalam bentuk alam, matahari, bintang, bulan, planet, manusia, binatang, pohon, bangunan, patung, waktu, ruang, jalan, perempatan dll).
Bali/Wali/Banten/Wakil/Utusan/Yang Berkesadaran juga adalah raga/fisik, jiwa dan perpaduan ragajiwa, yang melahirkan rasa, perasaan dan pikiran.
Leluhur Bali telah meletakkan dasar-dasar pengetahuan tentang cara-cara untuk bisa selalu berkesadaran, agar bisa menjadi orang Bali, Wali/wakil/utusan, salah satunya melalui 'mayadnya' melakukan pengorbanan yang tulus iklas. Intinya adalah tulus iklas.
Pengorbanan tulus iklas ini, melahirkan dresta (kebiasaan/tradisi) , sastra/ shaastra berasal dari kata dasar śās- atau shaas- (Sanskerta: शास्code: sa is deprecated ) yang berarti mengarahkan, mengajar (panduan tertulis), agama (yang dipegang dan diyakini) yang kemudian ditambah menjadi kula (kelompok/keluarga), dan kuno (masa lalu) dan seterusnya yang bisa berkembang dan berkembang lagi sesuai dengan tempat, ruang, waktu, situasi, kondisi dan toleransi yang melakukan pengorbanan tulus iklas itu.
Sangsih adalah istilah dalam bahasa Bali yang bermakna bersisian jalan, sehingga si pejalan hanya berimpasan saja, tanpa bertemu.
Sebagai seorang yang lahir, besar dan hidup di Bali, umumnya tradisi dalam keluarga telah mengajarkan seseorang untuk selalu berkorban dengan tulus iklas, tanpa dibarengi dengan penjelasan dan logika-logika yang masuk akal atas pengorbanan tulus iklas itu. Berbagai pertanyaan biasanya akan dijawab dengan satu kata sederhana "nak mula keto" (memang seperti itu) atau dalam pertanyaan lanjutan akan ditutup dengan kalimat, "aji wera" (itu pengetahuan rahasia).
Di sekolah dalam pelajaran agama, memang telah diajarkan pengorbanan suci tulus iklas yang harus dilakukan dalam bentuk Dewa Yadnya (Dewa/Tuhan) , Rsi Yadnya (pendeta/guru) Pitra Yadnya (leluhur/orang tua), Manusia Yadnya (manusia) dan Bhuta Yadnya (alam, binatang dan tumbuh- tumbuhan).
Hampir tak pernah ada penjelasan tentang, apa dan bagaimana bentuk pengorbanan tulus iklas pada Resi, Pitra, Manusa maupun Bhuta.
Penekanan yadnya di Bali saat ini hanya pada Dewa/Tuhan, melalui berbagai kualitas dan kuantitas bangunan dan upacara besar.
Teori dan praktek penerapan agama Hindu yang terjadi di Bali saat ini menurut saya sangat 'sangsih' bersisian jalan dengan hakekat sejati berupacara/mayadnya, karena jauh dari sang-sih (ia yang maha kasih) makna dari tulus iklas itu sendiri.
Kebiasaan sangsih, bersisian jalan dalam praktek antara Dewa Yadnya, dengan Rsi, Putri, Manusa dan Butha Yadnya ini, sangat sulit dipertemukan tanpa penyadaran dan proses penyadaran besar secara kualitas dan kuantitas.
Kesadaran bersifat sangat pribadi, hanya bisa dirasakan, diyakini dan untuk kemudian diimani oleh yang bersangkutan/dijiwai dalam pikiran kata dan perbuatannya.
Pengimanan, penjiwaan dalam satu kesatuan pikiran, kata dan perbuatan akan membentuk kesadaran, yang menjauhkan diri seseorang dari 'doh- sa',
'Nungkalik' berasal dari kata dasar tungkalik, yang dapat diartikan sebagai berlawanan/bertolak belakang, perubahan urup t menjadi n, menunjukan sifat aktifnya, sehingga menjadi bersifat terbalik.
Ketidaksatuan pikiran kata dan perbuatan "doh-sa' yang tidak diakui/diterima dan ditutupi dengan pikiran teori, dalil, kata-kata, dan perbuatan, akan berbalik melawan kata hatinya sendiri. Prilaku keterbalikan ini disebut " nungkalik" .
Kondisi Bali dan pemimpinnya kini sedang "nungkalik" jika banjir bandang pagerwesi yang menelan 18 korban jiwa, tak bisa menyadarkan masyarakat dan pemimpinnya akan "kesangsihan" jalan yang dipilih, bencana seperti apakah yang bisa membalikkan kesadaran manusia-manusianya? [T]
Denpasar, 18 Oktober 2025
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...