Dikritik Dulu, Dipuji Kapan-Kapan
DIKRITIK atau dipuji? Pilih mana? Tentu ada yang pilih dikritik atau pilih dipuji. Sudah pasti di antara kita ada yang suka dikritik saja atau dipuji saja. Ada juga yang suka kedua...
Bali adalah salah satu pulau di gugusan Nusantara, dulu kerap sebut sebagai Sunda Kecil, yang terpisah dari Sunda Besar. Lafal Bali yang diucapkan secara halus akan menjadi wali yang berarti perwakilan atau utusan.
Bali dikenal juga dengan nama banten, yang dalam bahasa Bali juga disebut wali. Banten sering dipadankan dengan istilah baan(karena)-enten (sadar), sesuatu yang dibuat dan dipersembahkan karena kesadaran. Jadi wali/banten bisa berarti utusan/wakil/yang berkesadaran, yang kemudian dikenal dengan istilah yadnya, persembahan yang tulus iklas. Sedang laku mempersembahkan dengan tulus iklas disebut "mayadnya".
Sebutan Bali sebagai Banten dikenal dari prasasti Bali kuna yang tersimpan di Pura Puncak Penulisan (dulu disebut Pura Tegeh Kahuripan)
Dalam prasasti ini termuat nama Śri Astasura Ratna Bumi Banten (ca. 1332-1343) (etimologi, Asta= Delapan, Sura= Dewa, Ratna= Permata, Bumi Banten= Tanah Bali) adalah Raja terakhir dari Kerajaan Bedahulu, Bali yang berkuasa pada tahun 1332 sampai dengan 1343 Masehi. Raja ini kemungkinan dikenal dengan sebutan raja Tapolung (pertapa ulung), yang juga disamakan dengan Maya Danawa (keturunan Maya Dewi/Dewa Danau seperti istilah Pandawa untuk keturunan Pandu dan Bargawa untuk keturunan Rsi Bergu)
Bali dengan segala sebutan dan istilahnya adalah sebuah pulau yang nyata, berfisik, dengan segala yang ada di dalamnya disebut sebagai 'palemahan', manusianya disebut 'pawongan' dan keyakinan yang menjiwai manusianya disebut 'pahyangan' yang ada di dalam dan di luar diri manusia (dalam bentuk alam, matahari, bintang, bulan, planet, manusia, binatang, pohon, bangunan, patung, waktu, ruang, jalan, perempatan dll).
Bali/Wali/Banten/Wakil/Utusan/Yang Berkesadaran juga adalah raga/fisik, jiwa dan perpaduan ragajiwa, yang melahirkan rasa, perasaan dan pikiran.
Leluhur Bali telah meletakkan dasar-dasar pengetahuan tentang cara-cara untuk bisa selalu berkesadaran, agar bisa menjadi orang Bali, Wali/wakil/utusan, salah satunya melalui 'mayadnya' melakukan pengorbanan yang tulus iklas. Intinya adalah tulus iklas.
Pengorbanan tulus iklas ini, melahirkan dresta (kebiasaan/tradisi) , sastra/ shaastra berasal dari kata dasar śās- atau shaas- (Sanskerta: शास्code: sa is deprecated ) yang berarti mengarahkan, mengajar (panduan tertulis), agama (yang dipegang dan diyakini) yang kemudian ditambah menjadi kula (kelompok/keluarga), dan kuno (masa lalu) dan seterusnya yang bisa berkembang dan berkembang lagi sesuai dengan tempat, ruang, waktu, situasi, kondisi dan toleransi yang melakukan pengorbanan tulus iklas itu.
Sangsih adalah istilah dalam bahasa Bali yang bermakna bersisian jalan, sehingga si pejalan hanya berimpasan saja, tanpa bertemu.
Sebagai seorang yang lahir, besar dan hidup di Bali, umumnya tradisi dalam keluarga telah mengajarkan seseorang untuk selalu berkorban dengan tulus iklas, tanpa dibarengi dengan penjelasan dan logika-logika yang masuk akal atas pengorbanan tulus iklas itu. Berbagai pertanyaan biasanya akan dijawab dengan satu kata sederhana "nak mula keto" (memang seperti itu) atau dalam pertanyaan lanjutan akan ditutup dengan kalimat, "aji wera" (itu pengetahuan rahasia).
Di sekolah dalam pelajaran agama, memang telah diajarkan pengorbanan suci tulus iklas yang harus dilakukan dalam bentuk Dewa Yadnya (Dewa/Tuhan) , Rsi Yadnya (pendeta/guru) Pitra Yadnya (leluhur/orang tua), Manusia Yadnya (manusia) dan Bhuta Yadnya (alam, binatang dan tumbuh- tumbuhan).
Hampir tak pernah ada penjelasan tentang, apa dan bagaimana bentuk pengorbanan tulus iklas pada Resi, Pitra, Manusa maupun Bhuta.
Penekanan yadnya di Bali saat ini hanya pada Dewa/Tuhan, melalui berbagai kualitas dan kuantitas bangunan dan upacara besar.
Teori dan praktek penerapan agama Hindu yang terjadi di Bali saat ini menurut saya sangat 'sangsih' bersisian jalan dengan hakekat sejati berupacara/mayadnya, karena jauh dari sang-sih (ia yang maha kasih) makna dari tulus iklas itu sendiri.
Kebiasaan sangsih, bersisian jalan dalam praktek antara Dewa Yadnya, dengan Rsi, Putri, Manusa dan Butha Yadnya ini, sangat sulit dipertemukan tanpa penyadaran dan proses penyadaran besar secara kualitas dan kuantitas.
Kesadaran bersifat sangat pribadi, hanya bisa dirasakan, diyakini dan untuk kemudian diimani oleh yang bersangkutan/dijiwai dalam pikiran kata dan perbuatannya.
Pengimanan, penjiwaan dalam satu kesatuan pikiran, kata dan perbuatan akan membentuk kesadaran, yang menjauhkan diri seseorang dari 'doh- sa',
'Nungkalik' berasal dari kata dasar tungkalik, yang dapat diartikan sebagai berlawanan/bertolak belakang, perubahan urup t menjadi n, menunjukan sifat aktifnya, sehingga menjadi bersifat terbalik.
Ketidaksatuan pikiran kata dan perbuatan "doh-sa' yang tidak diakui/diterima dan ditutupi dengan pikiran teori, dalil, kata-kata, dan perbuatan, akan berbalik melawan kata hatinya sendiri. Prilaku keterbalikan ini disebut " nungkalik" .
Kondisi Bali dan pemimpinnya kini sedang "nungkalik" jika banjir bandang pagerwesi yang menelan 18 korban jiwa, tak bisa menyadarkan masyarakat dan pemimpinnya akan "kesangsihan" jalan yang dipilih, bencana seperti apakah yang bisa membalikkan kesadaran manusia-manusianya? [T]
Denpasar, 18 Oktober 2025
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole
DIKRITIK atau dipuji? Pilih mana? Tentu ada yang pilih dikritik atau pilih dipuji. Sudah pasti di antara kita ada yang suka dikritik saja atau dipuji saja. Ada juga yang suka kedua...
WARGA di Kelurahan Kampung Singaraja tengah bergegas. Pria, perempuan, tua, anak-anak, semuanya bergegas. Mereka bergegas menuju Masjid Nurrahmah yang terletak di tengah-tengah pem...
AKHIRNYA DPD PDI-P Bali mengumumkan secara resmi bahwa Dewa Nyoman Sukrawan dipecat dari PDI-P. Ini bukan berita mengejutkan sesungguhnya. Karena jika berpatokan pada tabiat partai...
PROMOTOR adalah istilah untuk menyebut sekelompok penggagas sebuah kegiatan, di lingkungan lembaga formal dan non-formal. Promotor membangun dan mengembangkan ide serta inovasi-ino...
KINI Buleleng punya dua nama beken: Putu Agus Suradnyana dan Dewa Nyoman Sukrawan. Jangan mengaku keren jika tak kenal dua nama itu. Atau, bolehlah tidak kenal. Tapi sungguh keterl...
BALI dilanda banjir. Dan ketika banjir melanda, jalan seperti sungai, halaman rumah jadi kolam, dan lapangan bola serta taman kota jadi danau, maka beritanya langsung heboh di medi...
Cerpen: Yoyo Raharyo SUKRI masih duduk termenung di beranda rumah sepupunya, di sebuah desa yang tenang di Kota Air. Sore itu, lelaki 45 tahun ini membayangkan kembali kejadian sem...
APA kabar komik Indonesia? Bagaimana harimu saat ini? Masih dapatkah kujumpai serial pewayangan R.A Kosasih? Atau apa kabar aksi pahlawan “Si Buta dari Gua Hantu” yang sejak tahun...
“Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, Berilah aku sepuluh pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia” – Ir. Soekarno SEJARAH panjang mahasiswa dan...
Setiap manusia mengidamkan seorang pahlawan untuk hapuskan derita dari tirani yang usang yang kini kadaluarsa (Dimanakah Dia , Zat Kimia) DUA penggalan lirik i...