Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali
LEBARAN di Denpasar, Bali, tidak datang dengan gegap gempita. Tidak ada iring-iringan kendaraan yang padat sejak subuh, tidak ada suara petasan bersahutan. Jalanan justru terasa l...
Di tengah hiruk-pikuk dunia usaha yang kerap menekankan keuntungan, efisiensi, dan angka, ada satu ungkapan nyeleneh yang justru membangkitkan kesadaran lebih tinggi: “Belanja Tidak Belanja Tetap Tengkiu.” Kalimat ini bukan sekadar ucapan basa-basi, melainkan sebuah filsafat bisnis yang dalam, bahkan spiritual. Diucapkan dengan ringan oleh Joseph Theodorus Wuliandi, yang lebih dikenal sebagai Mr. Joger, pendiri dan pemilik “Pabrik Kata-Kata” di Bali, sekaligus pemilik buku tertipis di dunia. Dia menyentuh sisi terdalam pelayanan yang tak bersyarat.
Sekitar tahun 2002, kami dari komunitas Denpasar Entrepreneur University yang dimentori owner Primagama Bapak Purdi E. Chandra, mendapat kesempatan belajar langsung dari Mr. Joger. Sosoknya sederhana, jenaka, namun tajam dan jernih dalam melihat hidup. Salah satu wejangan yang paling membekas dari beliau adalah filosofi tadi, yang sepintas sederhana, namun sesungguhnya mengandung makna spiritual yang mendalam: melampaui dualitas.
Guruji Anand Krishna sering menyampaikan bahwa seseorang yang telah tercerahkan bukanlah orang yang tidak mengalami duka atau suka, melainkan orang yang telah melampaui keduanya. Dalam konteks bisnis, ini berarti pelayanan yang tidak bersyarat, tidak tergantung pada transaksi, laba, atau nilai pembelian. Seperti alam yang melayani semua makhluk tanpa pilih kasih — hujan turun untuk petani maupun pengusaha, matahari bersinar untuk pejalan kaki maupun raja — demikian pula pelayanan sejati adalah ekspresi cinta yang tidak mengharap imbalan.
Ungkapan Mr. Joger “belanja tidak belanja tetap tengkiu” adalah perwujudan dari nilai ini. Ia menegaskan bahwa rasa terima kasih bukanlah transaksi, melainkan penghargaan terhadap eksistensi orang lain.
Sebagai pembanding, saya teringat pengalaman lain di sebuah toko elektronik di Jalan Gajah Mada, Denpasar. Saat saya menanyakan harga antene TV dan merasa harga cukup mahal, saya menanggapi dengan jujur: “Kok mahal, ya?” Pelayan toko menjawab dengan nada ketus, “Di sini memang mahal, Pak. Silakan beli di tempat lain.” Saya pun membisu dan berlalu.
Tidak ada kehangatan, apalagi pelayanan. Yang tersisa hanya keterkejutan dan rasa asing. Di sini tidak ada filosofi pelayanan — hanya transaksi kering dan harga dingin. Tidak ada “tengkiu”, apalagi untuk pelanggan yang tidak membeli.
Kisah ini menjadi semacam cermin. Bahwa di mana tidak ada kasih, di situ tidak ada pelayanan sejati.
Pelayanan bukan sekadar etika bisnis. Dalam banyak tradisi spiritual, pelayanan — atau seva — adalah bentuk tertinggi dari pengabdian. Dalam Bhagavad Gita, Krishna berkata bahwa orang bijak melayani dunia bukan karena keharusan, tetapi karena kesadaran. Mereka sadar bahwa seluruh semesta saling terhubung. Dalam tradisi Bali, dikenal pula prinsip Tat Twam Asi — "Aku adalah kamu, kamu adalah aku" — sehingga melayani orang lain adalah melayani aspek ilahi dalam dirimu sendiri.
Dalam konteks ini, ungkapan Mr. Joger bukan hanya sekadar sopan santun. Ia adalah pengingat bahwa kita hidup bukan hanya untuk berdagang, tetapi untuk berbagi makna. Sebab, orang yang datang ke toko, meski tidak membeli, telah berbagi energi, perhatian, bahkan mungkin senyuman. Apakah itu tidak layak dihargai dengan “tengkiu”?
Mr. Joger adalah perwujudan hidup dari paradoks Zen. Ia jenaka, tetapi serius. Ia nyeleneh, tetapi bijak. Melalui pabrik kata-katanya, ia menggugah kesadaran masyarakat untuk berpikir di luar kotak, dan lebih dari itu — merasakan dengan hati. Kata-katanya bukan sekadar permainan bahasa, tetapi sarana untuk membangkitkan humor spiritual. Di sini, kita melihat bahwa bisnis tidak harus kaku dan kering. Ia bisa menjadi ruang bermain kesadaran.
Filosof Perancis Gilles Deleuze menyebut “deterritorialisasi” sebagai pelepasan dari batas-batas mapan. Joger, dengan kejenakaannya, mendeterritorialisasi bisnis — membebaskannya dari kekakuan, dari orientasi laba semata. Ia membuat toko menjadi panggung kesadaran, tempat orang bisa tersenyum, merenung, bahkan tercerahkan.
Lihatlah pohon mangga: ia memberikan buah bahkan pada orang yang melempar batu. Lihatlah sungai: ia mengalir tanpa menuntut. Lihatlah matahari: ia menyinari tanpa syarat. Inilah prinsip pelayanan universal yang juga tercermin dalam semangat Joger. Bisnis, jika diarahkan dengan jiwa yang melampaui pamrih, bisa menjadi praktik spiritual yang nyata.
Pelayanan seperti ini tidak hanya memberi manfaat bagi pelanggan, tetapi juga bagi pelaku usaha itu sendiri. Dalam penelitian tentang happiness economics, ditemukan bahwa pelaku bisnis yang tulus melayani dengan penuh cinta, lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih sejahtera dalam jangka panjang.
Dunia usaha hari ini dipenuhi dengan istilah seperti “customer satisfaction,” “value proposition,” atau “brand loyalty.” Tapi sejatinya, semua itu tidak akan bermakna jika tidak disertai jiwa. Mr. Joger menunjukkan bahwa jiwa itu bisa hadir bahkan dalam papan bertuliskan ucapan terima kasih. Bahkan bisa hadir dalam candaan, dalam pelayanan yang ringan tapi bermakna.
Pelayanan bukan tentang menjual sesuatu, tetapi tentang menghadirkan rasa manusia. Dalam hal ini, Joger telah memberikan sumbangsih besar dalam membumikan kesadaran spiritual dalam praktik ekonomi.
Filosofi “belanja tidak belanja tetap tengkiu” adalah doa diam-diam dari seorang pedagang yang menyadari bahwa setiap tamu adalah guru. Bahwa pelanggan bukan hanya pembeli, tetapi penyambung hubungan antarmanusia. Ketulusan adalah mata uang spiritual, yang nilainya tidak pernah turun, bahkan di tengah krisis.
Mungkin sudah saatnya dunia bisnis — terutama UMKM di Indonesia — belajar dari filosofi ini. Menanamkan rasa terima kasih yang tulus, bukan sebagai strategi pemasaran, tetapi sebagai praktik batin. Karena siapa tahu, pelanggan yang tidak jadi membeli hari ini, bisa jadi adalah pembawa rezeki atau pelajaran jiwa yang tak ternilai.
Dan untuk semua itu, kita pun pantas berkata:
Belanja Tidak Belanja, Tetap Tengkiu. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole
LEBARAN di Denpasar, Bali, tidak datang dengan gegap gempita. Tidak ada iring-iringan kendaraan yang padat sejak subuh, tidak ada suara petasan bersahutan. Jalanan justru terasa l...
Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering disarankan orang-orang. *** Halaman rum...
Anaknya Bajang SudahPandai Merawat Bumi ibu tersenyum sewaktu anaknyabajang bilang. telah selesai membacabuku panduan merawat ibu anaknya bajang mulai rajinmenyirami tanaman...
Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam ingatan kita, seperti api unggun kecil yang terus meny...
MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu mengintervensi...
Dari Lorenz ke Kepakan Kesadaran Konsep butterfly effect lahir dari penelitian Edward Lorenz di Massachusetts Institute of Technology pada awal 1960-an. Saat itu, Lorenz mengul...
O SHIRINGUL Shiringul, masuk dan duduk dekatku. Namamu bergetar di celah gigi, tertahan di langit-langit mulut. Lantai semen Xinjiang menyedot hangat tubuhmu sampai dasar; ding...
DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan item yang mewakili ketidakmampuan finan...
UNIT rock tunanetra Filla kembali menegaskan eksistensinya di kancah musik lewat perilisan single terbaru berjudul I’m a Fire yang kini resmi tayang di YouTube. Lagu ini hadir seb...
“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan berpuasa, tapi malah makan besar.” Made Bagus...