Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
Di tengah hiruk-pikuk dunia usaha yang kerap menekankan keuntungan, efisiensi, dan angka, ada satu ungkapan nyeleneh yang justru membangkitkan kesadaran lebih tinggi: “Belanja Tidak Belanja Tetap Tengkiu.” Kalimat ini bukan sekadar ucapan basa-basi, melainkan sebuah filsafat bisnis yang dalam, bahkan spiritual. Diucapkan dengan ringan oleh Joseph Theodorus Wuliandi, yang lebih dikenal sebagai Mr. Joger, pendiri dan pemilik “Pabrik Kata-Kata” di Bali, sekaligus pemilik buku tertipis di dunia. Dia menyentuh sisi terdalam pelayanan yang tak bersyarat.
Sekitar tahun 2002, kami dari komunitas Denpasar Entrepreneur University yang dimentori owner Primagama Bapak Purdi E. Chandra, mendapat kesempatan belajar langsung dari Mr. Joger. Sosoknya sederhana, jenaka, namun tajam dan jernih dalam melihat hidup. Salah satu wejangan yang paling membekas dari beliau adalah filosofi tadi, yang sepintas sederhana, namun sesungguhnya mengandung makna spiritual yang mendalam: melampaui dualitas.
Guruji Anand Krishna sering menyampaikan bahwa seseorang yang telah tercerahkan bukanlah orang yang tidak mengalami duka atau suka, melainkan orang yang telah melampaui keduanya. Dalam konteks bisnis, ini berarti pelayanan yang tidak bersyarat, tidak tergantung pada transaksi, laba, atau nilai pembelian. Seperti alam yang melayani semua makhluk tanpa pilih kasih — hujan turun untuk petani maupun pengusaha, matahari bersinar untuk pejalan kaki maupun raja — demikian pula pelayanan sejati adalah ekspresi cinta yang tidak mengharap imbalan.
Ungkapan Mr. Joger “belanja tidak belanja tetap tengkiu” adalah perwujudan dari nilai ini. Ia menegaskan bahwa rasa terima kasih bukanlah transaksi, melainkan penghargaan terhadap eksistensi orang lain.
Sebagai pembanding, saya teringat pengalaman lain di sebuah toko elektronik di Jalan Gajah Mada, Denpasar. Saat saya menanyakan harga antene TV dan merasa harga cukup mahal, saya menanggapi dengan jujur: “Kok mahal, ya?” Pelayan toko menjawab dengan nada ketus, “Di sini memang mahal, Pak. Silakan beli di tempat lain.” Saya pun membisu dan berlalu.
Tidak ada kehangatan, apalagi pelayanan. Yang tersisa hanya keterkejutan dan rasa asing. Di sini tidak ada filosofi pelayanan — hanya transaksi kering dan harga dingin. Tidak ada “tengkiu”, apalagi untuk pelanggan yang tidak membeli.
Kisah ini menjadi semacam cermin. Bahwa di mana tidak ada kasih, di situ tidak ada pelayanan sejati.
Pelayanan bukan sekadar etika bisnis. Dalam banyak tradisi spiritual, pelayanan — atau seva — adalah bentuk tertinggi dari pengabdian. Dalam Bhagavad Gita, Krishna berkata bahwa orang bijak melayani dunia bukan karena keharusan, tetapi karena kesadaran. Mereka sadar bahwa seluruh semesta saling terhubung. Dalam tradisi Bali, dikenal pula prinsip Tat Twam Asi — "Aku adalah kamu, kamu adalah aku" — sehingga melayani orang lain adalah melayani aspek ilahi dalam dirimu sendiri.
Dalam konteks ini, ungkapan Mr. Joger bukan hanya sekadar sopan santun. Ia adalah pengingat bahwa kita hidup bukan hanya untuk berdagang, tetapi untuk berbagi makna. Sebab, orang yang datang ke toko, meski tidak membeli, telah berbagi energi, perhatian, bahkan mungkin senyuman. Apakah itu tidak layak dihargai dengan “tengkiu”?
Mr. Joger adalah perwujudan hidup dari paradoks Zen. Ia jenaka, tetapi serius. Ia nyeleneh, tetapi bijak. Melalui pabrik kata-katanya, ia menggugah kesadaran masyarakat untuk berpikir di luar kotak, dan lebih dari itu — merasakan dengan hati. Kata-katanya bukan sekadar permainan bahasa, tetapi sarana untuk membangkitkan humor spiritual. Di sini, kita melihat bahwa bisnis tidak harus kaku dan kering. Ia bisa menjadi ruang bermain kesadaran.
Filosof Perancis Gilles Deleuze menyebut “deterritorialisasi” sebagai pelepasan dari batas-batas mapan. Joger, dengan kejenakaannya, mendeterritorialisasi bisnis — membebaskannya dari kekakuan, dari orientasi laba semata. Ia membuat toko menjadi panggung kesadaran, tempat orang bisa tersenyum, merenung, bahkan tercerahkan.
Lihatlah pohon mangga: ia memberikan buah bahkan pada orang yang melempar batu. Lihatlah sungai: ia mengalir tanpa menuntut. Lihatlah matahari: ia menyinari tanpa syarat. Inilah prinsip pelayanan universal yang juga tercermin dalam semangat Joger. Bisnis, jika diarahkan dengan jiwa yang melampaui pamrih, bisa menjadi praktik spiritual yang nyata.
Pelayanan seperti ini tidak hanya memberi manfaat bagi pelanggan, tetapi juga bagi pelaku usaha itu sendiri. Dalam penelitian tentang happiness economics, ditemukan bahwa pelaku bisnis yang tulus melayani dengan penuh cinta, lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih sejahtera dalam jangka panjang.
Dunia usaha hari ini dipenuhi dengan istilah seperti “customer satisfaction,” “value proposition,” atau “brand loyalty.” Tapi sejatinya, semua itu tidak akan bermakna jika tidak disertai jiwa. Mr. Joger menunjukkan bahwa jiwa itu bisa hadir bahkan dalam papan bertuliskan ucapan terima kasih. Bahkan bisa hadir dalam candaan, dalam pelayanan yang ringan tapi bermakna.
Pelayanan bukan tentang menjual sesuatu, tetapi tentang menghadirkan rasa manusia. Dalam hal ini, Joger telah memberikan sumbangsih besar dalam membumikan kesadaran spiritual dalam praktik ekonomi.
Filosofi “belanja tidak belanja tetap tengkiu” adalah doa diam-diam dari seorang pedagang yang menyadari bahwa setiap tamu adalah guru. Bahwa pelanggan bukan hanya pembeli, tetapi penyambung hubungan antarmanusia. Ketulusan adalah mata uang spiritual, yang nilainya tidak pernah turun, bahkan di tengah krisis.
Mungkin sudah saatnya dunia bisnis — terutama UMKM di Indonesia — belajar dari filosofi ini. Menanamkan rasa terima kasih yang tulus, bukan sebagai strategi pemasaran, tetapi sebagai praktik batin. Karena siapa tahu, pelanggan yang tidak jadi membeli hari ini, bisa jadi adalah pembawa rezeki atau pelajaran jiwa yang tak ternilai.
Dan untuk semua itu, kita pun pantas berkata:
Belanja Tidak Belanja, Tetap Tengkiu. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...