Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
DULU, dahulu kala. Pernah terbit majalah seni di Bali. Namanya SUARDI. Semboyan yang diusung yakni “Suara Dunia Seni”. Di edisi Januari 2005, redaksi menjelaskan Suardi adalah media seni sebagai penyerta kegiatan kesenian sekaligus merespon isu kesenian yang berkembang di masyarakat pecinta seni. Suardi juga diterbitkan untuk memunculkan gagasan atau penemuan-penemuan baru di bidang kerja kreatif dan disajikan kepada masyarakat luas sebagai informasi yang berfaedah. Sebuah niat baik, dan agung. Namun, tak semua niat baik dapat terwujud di lapangan. Pasar pembaca tak selalu siap mendukung keberlangsungan sebuah media cetak, apalagi media dengan segmen spesifik.
Penerbit Suardi yakni PT Suara Dunia Seni. Di edisi April 2005, pemimpin perusahan dipegang A.A. Gede Rai Sudhana, kemudian Pemimpin Redaksi oleh I Wayang Suardika, Redaktur Pelaksana: Hardiman, Redaksi Yudhis Muh. Burhanudin, dan Sekretaris Redaksi dipegang Made Dwi Kusumaningrum. Di posisi produksi ada Ketut Sulastana, Umum oleh I Nyoman Sudiarsa, dan Sirkulasi dikelola I Komang Agus Sugita, I Made Budarana, dan Komang Siwita. Namun di edisi Juni 2006 dan Oktober 2006, formasi pengelola telah berubah.
Nama yang tercantum di boks tersisa A.A. Gede Rai Sudhana (pemimpin perusahaan), I Wayang Suardika (pemimpin redaksi) dan Henny Handayani (redaksi). Harga jual tahun 2005 masih Rp. 8000 per eksemplar, langganan per tahun untuk daerah Bali Rp. 65.000, sedangkan pelanggan di luar Bali dibiayai Rp. 105.000. Sebenarnya, majalah yang bermarkas di Denpasar ini bermula sebagai free magazine. Edisi Desember 2004 hingga Maret 2005 digratiskan. Pengelola kemudian mengubah kebijakan, sejak edisi April 2005, mau tak mau, SUARDI harus pasang harga. Kemungkinan demi keberlangsungan. Iklan ada terus di edisi 2005 dan 2006, baik dari kalangan seniman, pecinta seni maupun dari galeri.
Sebagai media seni, Suardi termasuk banyak memuat tulisan dan karya dari kontributor luar. Ada tulisan I Wayan Setem, Arif Bagus Prasetyo, Hartanto, Luh Ketut Suryani, Seriyoga Parta, Wayan Kun Adnyana, I Wayan Sukra, A.A. Ngurah A. Mayun K. Tenaya, Wayan Adimawan, Hardiman, Arief Budiman, dan lainnya. Para kontributor menulis sesuai dengan minat masing-masing, dengan gaya sendiri. Karya tulis mereka menunjukkan luasnya jaringan kerja Suardi, sekaligus menunjukkan keberagaman isu yang digarap majalah ini.
Suardi bukan sekadar majalah seni, ia penanda zaman. Saat itu, Suardi bersaing merebut perhatian pembaca bersama Surat (Yayasan Seni Cemeti), Visual Arts, majalah Gong, Gracia, dan lainnya. Saat itu, ada euforia media seni. Bersilang merebut pasar wacana seni. Suardi jelas punya kekuatan sendiri dalam membentuk jaringan informasi dan wacana seni di Indonesia, terutama Bali.
Dunia seni pun ibarat pasar. Seni tak lagi soal kontemplasi sunyi. Seni didorong jadi aset, simbol status yang didamba. Peran pun berganti. Majalah seni kemudian memediasi nilai komersial. Artikel bersalin rupa menjadi perayaan. Potensi investasi mengalahkan gugatan sosial-politik. Seni yang dulu menjadi alat untuk mempertanyakan dunia, kini berisiko menjadi aksesori kehidupan.
Kemudian, kertas pun luruh. Layar smartphone mulai berpendar. Era digital tiba, membawa janji sekaligus paradoksnya sendiri. Nama-nama seniman baru muncul di ranah maya, meruntuhkan sekat geografis. Seni tak lagi terkurung di galeri fine art. Seni tak lagi butuh stempel dari ruang pamer pemerintah. Karya seni tak harus dipromosikan media cetak. Informasi mengalir deras, menjangkau siapa saja. Demokratisasi wacana seni terasa begitu dekat.
Namun, di tengah lautan informasi, kita terancam tenggelam. Klik dan keterbagian menjadi berhala baru. Kualitas, otentisitas, dan kedalaman wacana diuji oleh derasnya arus. Dulu, ada gerbang editorial yang menyaring. Kini, suara kritik profesional, opini pribadi, dan konten pemasaran berbaur tanpa batas.
Inilah paradoksnya. Tulisan tentang seni melimpah ruah, namun otoritas kritis justru merapuh. Pertanyaan lama, "Di mana saya bisa membaca tentang seni?", telah usang. Kini, sebuah pertanyaan baru menggema di benak kita: "Di antara riuh suara ini, siapa yang layak didengar, dan mengapa?" Tanggung jawab itu kini tak lagi di tangan editor, tetapi di pundak kita masing-masing. Simaklah riuh seni di seni.co.id, moreartmoreit.com, pojokseni.com, artnusantara.com, dan lainnya.
Kembali ke Suardi. Perjalanan majalah Suardi adalah sebuah mikrokosmos seni di Indonesia. Disana ada negosiasi tanpa henti antara identitas lokal dan pengaruh global, antara kebebasan berekspresi dan kontrol, antara pencarian intelektual dan realitas komersial. Suardi sudah menunjukkan kepada sejarah ihwal kerja budayanya.
Kini, lanskap media seni menghadapi tantangan baru. Pertanyaan lain kembali muncul. Mengapa Suardi tak muncul dalam versi online? Mengapa Suardi tak kembali turun gunung meramaikan seni di Bali dan Indonesia? Pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh para pengelola Suardi.
Atau malah nantinya, para generasi baru akan hadir dengan platform media seni yang lebih diskursif. Bagaimana pun juga, Bali masih membutuhkan media khusus seni. Setidaknya untuk merawat diskursus seni di Bali, agar terus bergelora. [T]
Gianyar, 2025
Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis ARIEF RAHZEN
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...