Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
BALI kini seperti tak pernah benar-benar tidur dari dentuman panggung musik. Hampir setiap pekan ada saja festival atau konser digelar, dari promotor besar hingga acara skala sekolah dan kampus, semua berlomba mengadakan konser yang ciamik. Di permukaan ini terlihat menggembirakan karena kreativitas tumbuh, ekonomi bergerak, dan ruang ekspresi kian meluas. Tetapi di balik euforia itu, ada satu hal yang justru terasa semakin memudar, yaitu kepercayaan.
Beberapa insiden belakangan menjadi indikator jelas bahwa antusiasme penyelenggara tidak selalu diiringi profesionalisme. Seperti baru-baru ini, ada kasus musisi yang melempar mikrofon karena sound system kacau, ada musisi yang terpaksa tampil tanpa formasi lengkap karena panggung tidak siap, bahkan ada festival besar ditinggalkan para pengisi acaranya akibat persoalan sponsor yang dianggap tidak sejalan dengan nilai yang mereka pegang. Semua itu menunjukkan satu pola yang sama, manajemen lemah dan komunikasi yang buruk dari pihak penyelenggara.
Fenomena ini tak hanya terjadi pada konser komersial. Di level sekolah dan kampus, semangat mengadakan konser kerap tidak diimbangi kemampuan teknis dan tanggung jawab. Tidak sedikit konser-konser itu berakhir dengan pembatalan mendadak, penundaan tanpa kejelasan, atau bahkan kecurigaan publik karena tiket sudah terjual tetapi acara tak pernah terjadi. Di titik ini, penonton mulai menyadari bahwa membeli tiket bukan sekadar transaksi hiburan, melainkan taruhan kepercayaan.
Kepercayaan publik kini menjadi sesuatu yang paling mahal dalam industri event. Sekali penonton merasa dikecewakan, mereka tak segan membatalkan niat datang, bahkan lebih jauh, mereka mulai menelusuri siapa promotornya, bagaimana reputasinya, dan apakah penyelenggara punya rekam jejak bersih atau penuh drama. Bali boleh dipenuhi panggung musik, tetapi tanpa profesionalisme dan transparansi, semua kemeriahan itu hanya akan menyisakan riuh tanpa makna.
Sebagai wilayah dengan budaya dan pariwisata bereputasi, Bali tidak bisa membiarkan berbagai event jatuh menjadi sekadar pesta yang dikelola serampangan. Karena bisa saja, hal tersebut merusak citra Bali sendiri. Konser musik seharusnya mampu menjadi ruang hiburan untuk masyarakat, bukan ajang untung-rugi sepihak. Ketika penyelenggara abai pada detail, publik berhak bersikap lebih kritis. Meskipun uang tiket bisa dicari lagi, tetapi kepercayaan yang hilang tak bisa dikembalikan dalam sekejap.
Kini, saat konser semakin banyak, tugas masyarakat bukan hanya membeli tiket dan bersorak di depan panggung. Tugasnya kini adalah mampu memilih dengan sadar, mendukung yang berintegritas, dan menolak konser yang menjadikan euforia palsu sebagai kedok ketidaksiapan. Sebab industri musik yang sehat bukan hanya dibangun oleh mereka yang tampil di atas panggung, tetapi juga oleh mereka yang berdiri di depan panggung dengan nalar yang tidak mudah diperdaya. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...