Puisi-puisi Kadek Wisnu Oktaditya | Untuk Seorang Dalam Jeritannya

Kadek Wisnu Oktaditya
by Kadek Wisnu Oktaditya — Oktober 11, 2025 in Puisi

Tatkala.co

Untuk Seorang Dalam Jeritannya

Aku ingat saat itu
kau menjagaku
dalam waktu yang
kauhitung satu persatu

Begitu nyaman aku
ketika kau bentangkan payung
meneduhkanku
dari malam hitam berganti biru

Jelas kuingat hari itu
kau terbaring layu dan selalu
titipkan pesan untukku

Kapan lagi kutemui senyumanmu
yang sepuluh tahun lalu itu?

Kini jika sampai payungmu robek
dan air menetes
dari celah-celah yang terkoyak
aku ingin genangannya
membasuh tubuhku

Kuingin kau tak menyirami
tubuhmu sendiri
meski pun itu terjadi
seperti yang kau minta
di hari penantian nanti.

Di kehidupan kedua
mungkin kau tak sama seperti
biasanya, tapi janganlah kau
tangisi diriku
dan tinggalkanlah semua
gelisah matamu

Singaraja, 2025

Hidup Pun Sekali-kali

Pemuda rumahan, trotoar pinggir jalan
yang basah penuh air hujan
Pemuda sekolahan, kembali hidup-hidup
dari kanvas corat-coret kemarin malam

Mencari pelarian yang sudah basi
seperti warna-warni foto selfie.
Melukiskan diri sendiri dengan
obsesi tenang tanpa henti

Anak tanpa nama validasi
mengisi kamar haus mimpi-mimpi
Dan kapan lagi ia menikmati waktu
penuh tekstur keras kasar imajinasi

“Apa kau sudah cukup, Anak Pendrama!”

Panggil saja drama-drama yang
lama-lama menjadi nyata,
mengalir dari arteri menuju diafragma

Dor!
Dor!
Dor!

Tembakan penghancur gelisah
menjadi dasar keresahan
orang-orang sekitar

“Haruskan aku menikmati derita diri sendiri?”

Anak yang tak puas-puas
berpesan dalam bentuk lukis-lukis dirinya
di buku hitam kesayangan

Menyebar layaknya kanker
yang jadi dua tak karuan-karuan
membelah sel-sel dalam lukisan
merah pekat tanpa tujuan

“Bolehkah aku terbang jauh, dan
mengepakkan sayap menuju langit-langit
kurungan bingkai kanvas usang
sekali saja.”

Dor!
Dor!
Dor!

“Hidup pun sekali-kali,
kapanku benar-benar
hidup seperti lukisanku, delapan
puluh tahun lagi.“

Singaraja, 2025

Manusia Dua Kali

“Namaku Sakra!
Manusia penuh senyum di
tengah-tengah masyarakat
menengah.”

“Namaku Sakra!
Manusia munafik di
tengah-tengah kericuhan
tanpa belas kasihan.”

Aku dan Sakra yang menari saling
melengkapi, berterima kasih pada
diri sendiri sepenuh hati

Aku dan Sakra yang hipokrit
bersama-sama, tawa penuh
kepura-puraan pada orang-orang
sekitar

Singaraja, 2025

Seribu Tuan

Bangun di ruangan sunyi;
tolong jangan cari aku, tuan.

Kurung diri di kamar sendiri;
anggap saja aku mati, tuan.

Singaraja, 2025

Selamat Mati, Kawan

Kau yang baik di sana
berisi doa sialan keluarga berbisa;
siapa peduli!

Kau yang bawa uang mati
ke rumah barumu;
makanlah diriku lagi, sahabatku.

“Siapa yang akan datang ke rumahmu nanti?”

“Siapa yang sedih bila kau pergi?”

Jangan tarik aku ke dalam rumah barumu!
Jangan bujuk aku ke kamar-kamar kecil itu!

Singaraja, 2025

.

Penulis: Kadek Wisnu Oktaditya
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

Kadek Wisnu Oktaditya

Related Posts