Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
SETELAH merilis debut solo “Kerlingan Merekah” pada Maret 2025, musisi muda I Putu Gd Raditya Wirabawa (22) atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Dickde, kembali muncul dengan single terbaru berjudul “Ketut Jegeg Bulan”, tetap dengan warna surf rock yang menjadi identitas musikalnya, single ini dikemas dalam bentuk musik instrumental. Lewat single kedua ini, Dickde semakin menegaskan posisinya sebagai solois dengan karakter kuat, di tengah minimnya musisi Bali yang menekuni genre tersebut.
Di luar proyek solo, Dickde juga dikenal sebagai salah satu personel band rock alternative, Kuda Tua. Meski begitu, melalui proyek solonya, ia ingin mengeksplorasi kebebasan kreatif yang lebih personal. “Surf rock ini seperti ruang bermain saya sendiri,” ucapnya.
Lagu “Ketut Jegeg Bulan” lahir dari momen sederhana namun berkesan. Dickde bercerita, ide itu muncul saat ia sedang duduk santai di Pantai Pering, mendengarkan suara ombak yang berkejaran. “Begitu pulang ke rumah, spontan saja saya ambil gitar dan bikin demonya,” ceritanya.
Di Bali sendiri, skena surf rock mulai hidup kembali lewat beberapa nama seperti Fluctus, The Poppies, dan The Cattas. Kini, daftar itu bertambah satu lagi dengan hadirnya Dickde, yang menghadirkan pendekatan berbeda: memadukan gaya surf rock dengan sentuhan lokal Bali. Ia menyebut beberapa nama besar yang menginspirasinya, mulai dari The Ventures, The Panturas, Los Straitjackets, Messer Chups, The Mentawais, Southern Beach Terror, hingga Dick Dale. Semua referensi itu ia olah dengan identitas musiknya sendiri.

Dickde mengatakan, judul “Ketut Jegeg Bulan” muncul dari imajinasi ringan. “Judul ini murni dari imajinasi, alasannya simpel saja, Ketut yang biasa saja sudah jarang lahir ke dunia, apalagi Ketut yang secantik bulan, haha” ucapnya sembari tertawa.
Ketika ditanya soal kemungkinan merilis album, Dickde mengaku belum ingin terburu-buru. “Kalau memungkinkan, saya berencana merilis EP (mini album) dulu, tapi lagunya dalam bentuk instrumental dan berlirik yang track list-nya diurut zig-zag,” jelasnya. Ada semacam keisengan kreatif yang ia pertahankan, sekaligus keinginannya untuk tetap bebas bermain dalam struktur karya.
Nama panggung Dickde sendiri punya kisah personal di belakangnya. Itu adalah panggilan sang ibu saat ia kecil, ‘Dik De’. Nama itu kemudian dimodifikasi dengan menambahkan huruf C agar terlihat lebih estetik. Dari panggilan rumah hingga identitas panggung, ada benang merah yang sama: kejujuran dan kesederhanaan.
Kini “Ketut Jegeg Bulan” sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming digital. Melalui “Ketut Jegeg Bulan”, Dickde tidak hanya berkontribusi pada lanskap surf rock di Bali, tetapi juga menunjukkan bahwa inspirasi sejati sering datang dari hal-hal yang paling sederhana, seperti duduk di pantai, mendengarkan ombak, lalu membiarkan imajinasi bekerja tanpa banyak kepura-puraan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...