DARI “Summertime Song” hingga “Star”, Zarra Apsara (13) selalu identik dengan keceriaan. Tapi Minggu, 5 Oktober 2025, di Level 21 Mall Denpasar, ia resmi memperlihatkan sisi lain. Single keenamnya, “Haunted House Party”, membawa Zarra keluar dari zona nyaman dan mempertemukannya dengan dunia yang justru paling ia takuti: horor.
Jika sebelumnya Zarra dikenal lewat lagu-lagu anak yang riang, kini ia hadir dengan sesuatu yang berbeda 180 derajat. “Saya sendiri takut horor, takut banget. Tapi, saya mau mencoba banyak hal untuk semakin bertumbuh. Selagi positif, saya akan lakukan,” ucap Zarra sembari tersenyum.
“Haunted House Party” bagi Zarra bukan sekadar lagu baru, tapi sebuah babak baru. Di tangan duo produser kreatif Aya dan Lala (Alien Child) dari Maranda Productions, Zarra diajak menampilkan sisi teatrikal yang belum pernah ia tunjukkan. Lagu ini bercerita tentang seorang gadis yang salah masuk pesta Halloween—dan justru berhadapan dengan hantu sungguhan. Ide kreatif sekaligus mengejutkan itu membuat Zarra langsung membayangkan konsep video, kostum, hingga proses peluncuran lagunya.
Foto bersama setelah sesi talkshow│Foto: tatkala.co/Dede
Video musiknya sendiri digarap layaknya sebuah potongan musikal, lengkap dengan atmosfer rumah berhantu, kontras warna dramatis, dan detail artistik yang kuat. Zarra, yang biasanya dikenal enerjik dan riang, kini tampil sebagai karakter misterius.
“Video musiknya sungguh luar biasa. Editing, kontras warna, semuanya pas. Saya benar-benar terkejut sekaligus bersyukur bisa merilis karya seperti ini,” ujar Zarra.
Dari sisi produksi, Aya dan Lala yang menggawangi Maranda Productions menuturkan bahwa “Haunted House Party” memang dirancang untuk membawa Zarra keluar dari zona nyaman.
“Kami ingin mendorong Zarra untuk berani mengeksplorasi sisi teatrikalnya. Dia selalu siap dengan tantangan, dan hasilnya bisa dilihat sendiri dalam single ini,” kata Lala Maranda.
Inspirasi lagu ini, menurutnya, datang dari pengalaman menyaksikan Zarra dan rekan rekannya di Janawati Academy di bawah arahan Heny Janawati, vocal coach yang juga mendampingi Zarra dalam proses rekaman. Proses kreatif dimulai dengan pembuatan demo lengkap dengan lirik, aransemen, dan melodi oleh Aya dan Lala.
Karena hubungan kerja yang sudah terjalin erat, proses berjalan lancar. Zarra dan keluarganya langsung menyukai demo yang ditawarkan. Rekaman pun dilanjutkan dengan pengawasan ketat Heny Janawati untuk memastikan kualitas vokal terbaik Zarra, sementara tahap mixing dan mastering dipercayakan kepada IWAS, rekan dekat Aya dan Lala.
Sesi talkshow dipandu oleh I Made Adnyana (pengamat musik)│Foto: tatkala.co/Dede
Untuk kesekian kalinya, Zarra Apsara kembali mempercayakan penggarapan video musiknya kepada Matakarsa Visual. Kolaborasi ini melibatkan tim yang sudah terbiasa bekerja sama, sehingga setiap detail dikerjakan dengan usaha terbaik untuk menghasilkan karya maksimal. Proyek ini digarap oleh sutradara Larasati Maranda (Lala) dan Yudi Pranatha, dengan storyboard yang juga ditangani langsung oleh Lala. Alit Surya berperan sebagai director of photography sekaligus camera operator bersama Refly Hendrawan, sedangkan proses penyuntingan dikerjakan Alit Surya dan Yudi Pranatha.
Pemutaran video musik “Haunted House Party”│Foto: tatkala.co/Dede
Di balik ketakutannya pada horor, Zarra Apsara justru menemukan keberanian untuk menantang diri sendiri. Dan mungkin, justru dari ketakutan itulah lahir sebuah karya yang paling berkesan.
Dengan dukungan keluarga dan tim produksi, “Haunted House Party” tidak hanya memperpanjang daftar karya Zarra, tapi juga mengukuhkan namanya sebagai penyanyi muda dengan potensi besar. Single ini sudah tersedia di berbagai platformstreaming digital, sementara video musik resminya bisa disaksikan di kanal YouTube Maranda Productions. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...