Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
POLA hidup vegetarian kini bukan hanya tren global, melainkan juga semakin mendapat tempat di Bali. Pada 2018, saya pernah menulis esai berjudul Pengalaman Susah Senang Menjadi Vegetarian.
Esai tersebut menceritakan bagaimana saya mengurangi daging secara bertahap, mendengarkan tubuh sendiri, lalu merasakan perubahan fisik dan batin, Saya merasa lebih ringan, lebih tenang, lebih sadar akan makanan yang masuk ke tubuh. Cerita itu mengingatkan saya pada pengalaman saat mahasiswa pernah menekuni spiritualitas, termasuk pantang makan daging.
Menjadi vegetarian bukan sekadar soal diet. Ini adalah pola hidup yang ditempuh oleh orang-orang yang mendengarkan tubuh dan hatinya. Di Indonesia, Kaka Slank menjadi salah satu contoh publik yang memilih pola makan nabati. Di tingkat global, George Harrison sejak lama dikenal sebagai musisi yang menghubungkan musiknya dengan ajaran spiritual Hare Krishna, termasuk pola makan vegetarian.
Esai ini adalah upaya merangkai pengalaman pribadi, tren lokal Bali, dan figur publik tersebut agar kita bisa melihat vegetarianisme bukan sebagai jalan sunyi yang asing, tetapi sebagai pilihan sadar yang semakin relevan.
Di Bali, pelaku vegetarian sering mendasarkan pilihannya pada alasan kesehatan sekaligus spiritual. Dalam ajaran Veda, makanan dibagi menjadi tiga kategori, antara lain rajas (menimbulkan sifat aktif dan agresif), tamas (menimbulkan sifat malas dan lembam), dan sattvika (murni, menumbuhkan keseimbangan). Makanan vegetarian dikategorikan sebagai sattvika dan sangat disarankan bagi mereka yang mendalami spiritualitas.
Tak makan daging diyakini mampu meningkatkan rasa welas asih karena tidak mendukung pembunuhan terhadap hewan bahan makanan. Vegan, istilah lainnya, juga diyakini membuat aliran prana dalam tubuh menjadi lebih lancar dan membuat tubuh lebih sehat. Mahatma Gandhi (1869–1948), tokoh politik dan spiritual India, pernah mengatakan bahwa kemajuan rohani menuntut pada suatu tahap kita berhenti membunuh makhluk hidup demi kepuasan jasmani kita. Gandhi dikenal sebagai vegetaris yang ketat; ia tidak mengonsumsi telur bahkan tidak meminum susu.
Di Bali, gaya hidup tanpa makan daging biasanya terbentuk lewat pergaulan di komunitas seperti ashram dan pasraman. Di tempat-tempat ini orang mendapatkan dukungan kelompok yang membuat pilihan hidup berbeda ini terasa lebih mudah.
Namun menjadi berbeda di Bali juga memiliki tantangan. Banyak orang mempertanyakan pilihan hidup vegetarian karena berbenturan dengan adat dan budaya di mana kebanyakan orang masih mengonsumsi daging. Pola hidup vegetarian dianggap fenomena baru dan belum populer. Di masa lalu masyarakat Bali sebenarnya tidak terlalu banyak mengonsumsi daging. Mereka memakan daging hanya pada saat hari raya seperti Galungan, Kuningan, dan piodalan di pura. Kini daging sangat mudah didapat dan kebiasaan memakan daging menjadi hal yang lumrah.
Saya sendiri pernah menjalani diet tanpa daging selama empat tahun saat tinggal dan belajar di sebuah ashram di Denpasar. Berdasarkan pengalaman tersebut, vegetarian/vegan membuat tubuh lebih ringan dan pikiran menjadi lebih tenang. Rasa kasih dan kepedulian terhadap makhluk hidup semakin besar.
Susahnya menjadi vegetarian adalah saat pulang ke kampung halaman di mana keluarga besar sebagian besar masih memakan daging. Lebih repot lagi ketika ada upacara adat dan ditawari makan. Jika tidak makan takut melukai perasaan tuan rumah, tetapi jika memakan makanan yang mengandung daging terasa tidak setia dengan pilihan hidup yang dijalani bertahun-tahun.
Di situlah muncul dilema: satu sisi ingin menjadi bagian dari komunitas komunal yang menomorsatukan persatuan, tetapi di sisi lain ingin hidup lebih sehat secara spiritual sesuai sastra dan kitab suci. Menjadi berbeda di Bali memang sulit. Jangankan pola makan, kadang perbedaan pendapat saja bisa memunculkan pengucilan. Meski tidak semua orang Bali bersikap seperti itu, tekanan sosial tetap ada.
Di kota besar dengan pola pikir lebih moderat, perbedaan tersebut lebih bisa ditolerir. Jika ada keluarga atau sanak saudara yang bergabung dengan kelompok spiritual tertentu yang biasa menganjurkan pola hidup vegetarian mereka tidak terlalu mempermasalahkannya. Berbeda dengan di desa di mana budaya kebersamaan dipegang teguh, menjadi vegetarian biasanya dianggap tidak lumrah dan kurang menghormati adat-istiadat..
Pilihan untuk tidak makan daging bukan hanya dilakukan oleh para yogi atau orang yang tinggal di ashram. Sejumlah figur publik dunia musik juga melakukannya, menjadikannya bagian dari identitas dan pesan yang mereka bawa.
Di Indonesia, salah satu contoh yang paling dikenal adalah Kaka Slank. Vokalis band legendaris ini sejak beberapa tahun lalu memilih menjadi vegetarian. Dalam berbagai wawancara, Kaka menyebut alasan utamanya adalah kesehatan dan kepedulian terhadap hewan. Ia merasa tubuh lebih bugar, suara lebih terjaga, dan pola pikir lebih jernih ketika tidak mengonsumsi daging. Sebagai figur publik dengan penggemar lintas generasi, langkah Kaka menjadi inspirasi bagi banyak orang muda yang ingin mencoba gaya hidup serupa tanpa merasa aneh di tengah masyarakat yang masih sangat karnivora.
Di tingkat global, salah satu contoh ikonik adalah George Harrison, gitaris The Beatles. Harrison dikenal sebagai sosok yang spiritual; ia mendalami filsafat India, rajin meditasi, dan sejak akhir 1960-an bergabung dengan gerakan Hare Krishna (ISKCON). Sejak itu, ia menjadi vegetarian yang ketat bahkan cenderung vegan. Dalam wawancara dan lirik lagu-lagunya, Harrison kerap menyinggung ajaran welas asih, reinkarnasi, dan karma—konsep yang sejalan dengan gaya hidup tanpa kekerasan terhadap hewan. Ia memandang makanan nabati bukan sekadar pola diet, melainkan bagian dari praktik bhakti (pengabdian) dan cara menyucikan diri. Sikap konsisten Harrison ini memperkuat citranya sebagai “Beatle yang spiritual” dan memperkenalkan nilai-nilai Timur kepada jutaan pendengar Barat.
Kehadiran figur publik semacam ini menunjukkan bahwa vegetarianisme bisa melintasi batas budaya dan agama. Kaka dan Harrison berasal dari latar berbeda, Jakarta dan Liverpool, namun keduanya menemukan nilai yang sama: tubuh yang lebih sehat, pikiran lebih jernih, dan rasa welas asih yang lebih besar. Bagi pembaca di Bali, kisah ini memberi pesan bahwa jalan vegetarian tidak hanya milik kalangan tertentu di ashram atau komunitas spiritual, tetapi juga dapat menjadi pilihan sadar orang modern, pekerja kreatif, dan musisi papan atas.
Di Bali, vegetarian punya konteks budaya tersendiri. Dalam tradisi Hindu Bali, makanan berkaitan dengan yadnya atau persembahan. Hewan kurban memang masih digunakan pada upacara tertentu, tetapi setelah itu dagingnya dibagikan. Di sisi lain, ajaran ahimsa (tidak menyakiti makhluk hidup) juga menjadi dasar bagi sebagian pemuka agama dan penghayat spiritual untuk memilih vegetarian.
Banyak umat memilih jalan tengah: mengurangi daging, memperbanyak sayur dan buah, atau berpantang daging pada hari-hari tertentu seperti purnama dan tilem. Menu vegetarian lokal pun mudah ditemukan: lawar nangka, jukut urab, plecing kangkung, sayur ares. Ini menunjukkan bahwa pola makan nabati bukan hal asing di Bali.
Di kota-kota seperti Denpasar, warung dan restoran vegan semakin banyak. Anak-anak muda Bali memilih vegetarian karena alasan kesehatan atau lingkungan, bukan hanya karena ajaran agama. Fenomena ini menunjukkan bahwa vegetarian ala Bali adalah gabungan antara tradisi dan gaya hidup modern.
Saya pernah merasakan sendiri manfaatnya. Tubuh lebih ringan, pikiran lebih tenang, tidur lebih nyenyak, rasa empati tumbuh lebih kuat. Tetapi saya juga pernah merasakan sulitnya, terutama di acara keluarga atau upacara adat. Pada titik itu saya belajar bahwa vegetarianisme bukan hanya soal makanan, melainkan latihan kesabaran dan komunikasi.
Melihat Kaka Slank dan George Harrison membuat saya menyadari bahwa vegetarian bukan monopoli satu agama atau budaya. Ia bisa muncul dari motivasi spiritual, lingkungan, kesehatan, atau empati. Di Bali, jalan vegetarian punya akar budaya yang dalam sekaligus terbuka bagi pembaruan.
Kaka menunjukkan bahwa seorang musisi Indonesia bisa peduli pada bumi dan tubuhnya. Harrison menunjukkan bahwa seorang Beatle bisa tetap memainkan musik sambil memegang nilai vegetarian. Banyak generasi muda kini mencoba belajar dari keduanya: dari menu lokal seperti lawar nangka hingga cerita tentang meditasi Hare Krishna, dari Slankfest hingga konser Concert for Bangladesh.
Esai ini bukan ajakan untuk menjadi vegetarian total. Ini adalah refleksi tentang pola makan nabati yang dipilih sebagian orang. Kita bisa mulai dengan langkah kecil, mendengarkan tubuh sendiri, dan mempertimbangkan dampaknya bagi lingkungan.
Vegetarian adalah perjalanan kesadaran. Kadang kita berada di tahap masih makan daging, kadang sudah vegan. Yang penting adalah mendengarkan tubuh, menjaga bumi, dan mengasah empati. Kaka Slank, George Harrison, dan tradisi Bali bisa menjadi contoh. Sisanya tergantung pada pilihan kita sendiri. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...