Puisi-puisi Yoga Wismantara | Selamat tidur, Saira

Yoga Wismantara
by Yoga Wismantara — Oktober 05, 2025 in Puisi

Tatkala.co

Bintang untuk Para Kaumnya

Lidah menjalar di langit luka
Dengan mudahnya mata itu bergerak
Sang langit hanya terdiam
Menatap asap yang terangkat

Kaum-kaum berlutut di bawah
Melantunkan doa dari kerongkongan kering
Seakan setiap kata menjadi rantai
Yang menahan gigi untuk tidak menutup dunia

Namun dunia sendiri hanyalah tubuh
Gunungnya tulang, lautnya darah
Kami, hanyalah sel-sel kecil
Yang akan terkelupas bila dunia menunjukkan taringnya

“Oh, engkaulah ibu, engkaulah kubur”
Engkaulah kasih yang lapar nan kabur”

Mereka mengulangnya bagai mantra
Sampai suara-suara itu menjadi serpihan malam

Datanglah, Ketenangan Batin

Wahai mata yang penuh genangan
engkau adalah jiwa yang suci
Aku melihatmu membusuk

Saat cermin berkata
“Engkau masih mengingat harapan”

Oh, jiwa yang suci
Mengapa engkau melakukan hal yang kau sukai?
Apakah sudah cukup?
Apakah tidak cukup?

Lagi dan lagi engkau menguburku
Aku mengubur diriku
Kita menguburku di tanah

Air memberiku kehangatan

Datanglah, Kematian yang Indah

Aku tahu telah mengecewakanmu
Ku pikir telah membodohi diriku
Tidakkah engkau berpikir seperti itu?

Aku harap, aku bisa kembali ke zaman dulu
Karena sekarang kesalahan berawal dariku
Aku tidak bisa hidup tanpa seseorang yang mencintaimu

Ku tahu, kita tak bisa ke masa lampau
Engkau pun tak bisa melupakan masa lalu
Karena itu akan membunuh batinku

Setelah semua kepedihan
Aku berpikir hal yang harus dilakukan
Yakni memutuskan sang insan

Apa yang terjadi biarlah terjadi
Apa yang sudah pergi biarlah pergi
Ku tak peduli lagi
Oh, duniaku kan berakhir

Saksi

Sungguh takdir yang tak pernah direstui
Tak terlintas dalam benak, engkau akan melihatku seperti ini
kutukan yang berseri

Hei, para penyelamat
Mengapa tak ada yang pernah memandangku?
Mengapa tak satu pun ada yang menghargaiku?
Mengapa tak ada yang pernah menyebut namaku?

Jika memang begitu, izinkanlah diri ini untuk melupakan semuanya
Tentu, rembulan masih menyinari kita
Hatiku yang retak tak berharap engkau akan mencariku

Maka aku semakin berdosa
Menghancurkan pikiranku, mengotori tanganku
Aku bersumpah pada malam tergelap
Kan ku akhiri semua

Aku bersaksi!

Yang tersisa hanyalah kenanganmu
Bawa aku ke tempat jiwa yang hidup tenang
Tujuan terakhir, bukankah begitu?

Sampai hari ini
Aku tetap merasakan gelisah jiwa
Inilah kutukan yang bernama keadilan
Yang tak pernah engkau tahu

Selamat Tidur, Saira

Selamat tidur, Saira
Pejamkan matamu dan tinggalkan mimpi ini
jatuh seakan hari-hari terus berjalan
Layaknya bunga yang tak pernah layu

Selamat tidur, Saira
Aku tahu itu sulit untuk dilakukan

Lelaplah
Tak apa-apa
Semua akan baik-baik saja
Labirin menyesatkan

Engkau hanya…
Hanya…
Hanya…

.

Penulis: Yoga Wismantara
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

Yoga Wismantara

Related Posts