17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
ADA penyair yang tak benar-benar pergi. Ia hanya berpindah tempat: dari tubuh ke kata, dari suara ke gema, dari dunia ke kenangan banyak orang. Salah satunya adalah Joko Pinurbo, atau yang lebih akrab disebut Jokpin. Namanya seperti tidak pernah benar-benar selesai diucapkan. Ia hidup di antara halaman, di sela jeda napas pembacanya, di antara senyum getir seseorang yang tiba-tiba menemukan dirinya dalam satu bait puisi.
Puisi-puisi Jokpin sering disangka sederhana bahkan bersahaja tetapi di balik kesederhanaan itu bersembunyi kedalaman yang halus dan menggigit, seperti mata pisau yang dibungkus kapas. Ia menulis tentang tubuh yang mencari Tuhan, tentang rumah yang berubah menjadi doa, tentang kehidupan sehari-hari yang diam-diam memantulkan absurditas manusia modern.
Humor dalam puisinya bukan sekadar permainan kelakar, melainkan strategi spiritual untuk menjinakkan luka. Sementara duka yang muncul bukan bentuk keputusasaan, melainkan jalan menuju penerimaan. Dalam bahasa filsuf Albert Camus, Jokpin adalah penyair yang menertawakan absurditas untuk tetap waras di tengahnya. Ia tidak mendramatisasi kesedihan, melainkan mengelolanya—seperti seseorang yang belajar berdamai dengan cermin dirinya sendiri.
Karena itu, ketika nama Joko Pinurbo kembali disebut dalam JaliJali Fest 2: Jelajah Sastra Indonesia, di acara bertajuk “Mengenang Joko Pinurbo”, kita tidak sedang melayat. Kita sedang menyalakan kembali cahaya yang dulu pernah dititipkan kepadanyacahaya yang kini diwariskan kepada siapa pun yang percaya bahwa bahasa masih bisa menyelamatkan manusia.

Acara tersebut berlangsung pada Sabtu, 4 Oktober 2025, pukul 18.30–21.30 WIB di Baca Di Tebet Perpustakaan dan Ruang Temu (Ruang Roy B.B. Janis). Tempat ini, perlahan tapi pasti, tumbuh menjadi rumah bagi percakapan, pertemuan, dan ingatan tentang sastra Indonesia. Di bawah lampu temaram dan aroma buku yang lembab oleh waktu, para penyair, musisi, dan pembaca berkumpul—bukan hanya untuk membacakan puisi, tetapi untuk menyambung kehidupan yang pernah diserahkan Jokpin kepada kata-kata.
Nama-nama yang hadir malam itu mencerminkan keberagaman wajah sastra Indonesia: Fikar W. Eda, Emi Suy, Debra Yatim, Kurnia Effendi, Biondi Noya, Tiara Widjanarko, Nadia Hastarini, dan Once Mekel. Mereka datang membawa suaranya masing-masing, namun dalam satu napas yang sama: penghormatan pada puisi, dan pada kehidupan. Acara dipandu oleh Mia Ismi dan Haikal Baron, dua sosok yang menjembatani antara teori dan getar batin, antara pengetahuan dan rasa.
Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2025—sebuah sinyal penting bahwa negara, setidaknya malam itu, hadir untuk menyapa puisi dengan cara yang lembut.
Nama Baca di Tebet sendiri mengandung lapisan makna yang menarik. Ia bukan hanya perpustakaan, tapi juga ruang hidup bagi gagasan tempat di mana buku tidak hanya disusun, melainkan dihidupkan kembali lewat dialog dan pertemuan.
Ruang ini lahir dari semangat Kanti W. Janis, putri dari almarhum Roy B.B. Janis, yang dikenal sebagai pemikir dan pejuang demokrasi dengan keyakinan bahwa kebudayaan adalah fondasi kemerdekaan berpikir. Nama Roy diabadikan sebagai nama ruang baca utama, sebuah penghormatan pada gagasan bahwa membaca adalah tindakan politik yang paling tenang, tapi paling subversif.

Kini, semangat itu diteruskan oleh Kanti bersama Wien Muldian, pegiat literasi dan pustakawan yang telah lama mengabdi pada keyakinan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga tindakan spiritual.
Wien, dalam banyak forum, sering menyebut bahwa literasi bukan hanya perkara “menjaga buku”, melainkan “mengelola hidup” menata kesadaran agar tetap waras di tengah arus dunia yang cepat berubah. Pandangan itu tercermin dalam cara mereka mengelola Baca di Tebet: tidak kaku, tidak eksklusif, tapi lentur, hidup, dan terus berdenyut.
Baca di Tebet tumbuh menjadi titik temu lintas generasi dan disiplin antara penyair dan musisi, penulis muda dan pembaca setia, antara yang datang untuk menulis dan yang datang hanya untuk duduk mendengar. Dalam ruang ini, sastra menemukan bentuk sosialnya: bukan hanya karya yang dibaca, tapi relasi yang dihidupkan.
Seperti dikatakan Raymond Williams, budaya adalah “cara hidup secara keseluruhan.” Maka, membaca pun di sini bukan sekadar kegiatan, melainkan laku hidup, cara untuk tetap terhubung pada akar kemanusiaan di tengah kemajuan yang sering memisahkan.
Dalam konteks itu, mengenang Joko Pinurbo menjadi lebih dari sekadar upacara. Ia adalah refleksi tentang keberlanjutan kesadaran manusia di hadapan bahasa.
Jokpin bukan penyair yang berteriak. Ia tidak ingin menjadi nabi kata, tapi menjadi teman duduk di teras sunyi. Ia menulis bukan untuk mengguncang, tapi untuk mengingatkan. Dalam puisinya, tubuh dan rohani tidak bertentangan; kehidupan dan kematian hanya dua kamar yang saling menatap.
Kita masih bisa mendengar suaranya dalam larik-larik seperti:
“Puisi yang baik adalah puisi yang bisa membuatmu pulang.”
Atau dalam kejenakaan yang menyesakkan:
“Tuhan terlalu sibuk, maka aku menulis puisi untuk mengingatkan-Nya.”
Larik-larik itu, jika dibaca pelan, mengandung semangat humanisme sehari-hari. Jokpin mengembalikan puisi ke asalnya: tempat manusia bercermin pada dirinya sendiri. Ia tidak menulis dari menara gading, melainkan dari kamar sederhana, dari ruang mandi, dari kasur yang dingin. Ia membuat yang remeh menjadi sakral, yang banal menjadi bahan renungan.

Dalam konteks teori sastra, Jokpin menggeser posisi penyair dari “penyampai makna” menjadi pengelola keseharian sebuah estetika yang dekat dengan poetics of the everyday yang dikembangkan oleh Gaston Bachelard dan Henri Lefebvre: puisi sebagai cara tinggal di dunia.
Malam di Tebet itu menjadi bukti bahwa puisi masih memiliki denyut sosial. Setiap bait yang dibacakan bukan hanya penghormatan, melainkan pengakuan bahwa kita masih membutuhkan bahasa yang menenangkan, bahasa yang tidak menuntut, bahasa yang memberi ruang bagi kesedihan untuk bernafas.
Suara-suara yang hadir malam itu seakan menyambung satu sama lain: antara yang menulis dan yang membaca, antara yang hidup dan yang telah berpulang. Di situ, kita tidak sekadar mengenang Joko Pinurbo, tapi juga mengenang diri kita sendiri yang pernah disentuh oleh puisinya.
Di antara rak buku, cahaya temaram, dan aroma kertas, gema halus itu kembali terdengar: bahwa puisi tidak pernah mati. Ia hanya menunggu dibacakan kembali oleh hati yang masih ingin percaya pada keajaiban kata.

Malam di Tebet itu bukan sekadar kenangan, melainkan pelajaran tentang kesinambungan tentang bagaimana satu jiwa yang telah berpulang bisa terus hidup di dalam bahasa orang lain. Seperti lilin yang menyalakan lilin lain, cahaya Jokpin kini menyala dalam diri siapa pun yang masih percaya bahwa menulis adalah bentuk cinta, dan membaca adalah bentuk ibadah yang paling sunyi.
Dan mungkin, di antara halaman yang terbuka, di udara yang penuh wangi kertas dan kopi, Joko Pinurbo masih tersenyum kecil, sambil menulis satu baris baru, entah untuk siapa:
“Aku tidak mati. Aku hanya berpindah kamar dari dunia ke puisi.” [T]
Cengkareng, 5 Oktober 2025
Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...