Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Bali adalah salah satu pulau di Nusantara yang penduduknya sebagian besar beragama "Hindu Bali", yang tata cara beragamanya berbeda dengan Hindu di India (asalnya). Hindu Bali mengajarkan tentang Tuhan Penguasa alam semesta yang termanisfestasi dalam dewa-dewa (sinar/cahaya/spirit) dan bhuta-butha (material/alam dan seisinya). Tujuan manusia Bali Hindu beragama dan berkeyakinan adalah mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin.
Sebagai mahluk sosial, seorang manusia memerlukan eksistensi; sesuatu kondisi yang membuat seseorang 'ada' (dianggap dan menganggap diri ada).
Di Bali, di lingkungan keluarga, banjar, adat, dan lain-lain (organisasi sosial tradisional) dan sekitarnya, orang Bali pada dasar eksis (punya eksistensi diri). Eksistensi diri ini menjadi modal dasar/awal untuk mendapatkan kebahagiaan lahir batin yang menjadi tujuan manusia beragama.
Saat bertugas sebagai Dirjen Kebudayaan yang mengantarkan Seniman Indonesia untuk melakukan pentas di Eropa, Ida Bagus Mantra mulai menyadari budaya kekurangpercayaan diri Seniman Indonesia yang menyanyikan lagu Barat, bukan lagu Indonesia (nusantara).
Kesadaran akan budaya kekurangpercayaan diri inilah yang konon membuat beliau saat dipercaya sebagai gubernur Bali untuk membuat Pesta Kesenian Bali tahun 1978.
Gerakan untuk membudayakan kepercayaan diri tak hanya melibatkan organisasi tradisional juga melibatkan organisasi modern, negara dari tingkat desa kecamatan, tingkat 2 dan provinsi ini awalnya telah berhasil membuat orang Bali memiliki kepercayaan pada seni dan budayanya sendiri.
Kepercayaan diri yang telah membudaya inilah yang membuat seni dan budaya Bali dikagumi orang-orang luar (Indonesia dan dunia), yang akhirnya memunculkan organisasi sosial modern, pemeritah, swasta, dan ading yang berusaha memelihara, mengembangkan seni budaya Bali untuk mendapatkan kemajuan, keuntungan yang sebanyak-banyaknya.
Ekspos secara cepat, luas dan besar-besaran ini menjadikan orang Bali (pribadi/sosial), pemimpin, dan pemerintah menjadi sangat percaya diri (over confident) terhadap seni dan budaya Bali sebagai media untuk mendapatkan kebahagian lahir (kekayaan, kekuasaan, kemajuan, kemasyhuran dll) dan mengabaikan kebahagiaan batin (rasa teduh, aman, nyaman, damai) bagi Pulau Bali sebagai alam dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Kepercayaan Diri masyarakat Bali sebenarnya sempat jatuh saat tahun 2002 saat terjadi bom Bali pertama, sehingga para cendikiawan yang difasilitasi oleh Media Bali Post, membuat gerakan yang dikenal dengan istilah "Ageg Bali" yang secara berangur-angsur mampu memulihkan kepercayaan diri masyarakat Bali, meskipun sempat diguncang kembali dengan Bom Bali kedua.
Setelah diguncang bom dua kali, ternyata masyarakat Bali dapemimpin-pemimpinnya tak berusaha untuk instropeksi diri terhadap tingkah laku dan bentuk program-pragramnya sebagai orang Bali yang beragama Hindu.
Kepercayaan diri yang terlalu tinggi pada seni dan budaya Bali secara pribadi maupun sosial, lagi-lagi hanya terpaku pada kebahagiaan lahir dan telah mengabaikan kesejukan, keamanan, kenyaman dan kedamaian, Bali sebagai alam dan penghuninya, dengan investasi, pembangunan masif yang merusak alam.
Banjir besar tanggal 9 September 2025 yang bertepatan dengan Hari Raya Pagerwesi, semoga menjadi pengingat bagi Bali, pemimpin Bali, penduduk Bali untuk berendah hati, agar tak abai pada kebahagian batin alam Bali, dan penghuninya. Kepercayaan diri penting tapi kepercayaan diri yang terlalu tinggi pasti akan dijatuhkan. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...