Pemandangan yang menyambut kita sebelum mendarat di airport Ngurah Rai Bali adalah wajah bopeng pesisir terumbu karang ratusan hektar Pulau Serangan yang luluh lantak direklamasi, berwajah sangat aneh, yang kini diberi nama Pulau Kura-Kura.
Bagi mereka yang akrab dengan pewayangan Bali dan Jawa, tak pelak wajah bopeng berantakan Pulau Kura-Kura hasil reklamasi sekitar 400 hektar lebih ini serupa penampakan wajah seram keraksasaan Bhuta Kala Wilkataksini atau umumnya disingkat Kala Kataksini.
[Lihat gambar Bhuta Kala Kataksini dan ‘penampakan’ dari tanah-urug (reklamasi) pesisir Pulau Serangan yang kini disebut sebagai Pulau Kura-Kura].
Kala Kataksini adalah pasukan sergap Rahwana. Kala Kataksini berperan sebagai bhuta yang penunggu pesisir dan laut, perebut tanah negeri dan yang rakus makan tanah. Kala Kataksini menyelam di lautan. Tinggal di pesisir dan dalam lautan, bisa ke darat bahkan terbang meloncat mencari dan mecaplok manusia sebagai mangsanya.
Dalam budaya Bali dan literatur lontar Kawi, di darat di 'karang tenget’ (tanah angker) disebutkan penguasanya adalah ‘bhuta-kala’. Di pesisir dan laut ada bhuta-kala. Kala Kataksini adalah bhutakala penguasa lautan dan pesisir.
Kala Kataksini muncul dalam kisah Hanoman Obong. Hanoman yang terbang di atas lautan disedot dan dimakan. Hanoman yang punya kesaktian luar biasa pun tidak lepas dari sedotannya. Hanoman terjerembak dalam jebakan perut bedog Kala Kataksini. Ia mendekam dan berontak, tak kuasa dikunyah perut berlendir Kataksini. Hanoman tidak mau kehilangan kendali diri , ia bermeditasi dan bertiwikrama. Ia menjadi besar dan berhasil menjebol rongga mulut Wilkataksini.
Urug Sempadan dan Reklamasi Mengundang Bhuta-Kala
Leluhur Jawa Kuno dan Bali mewariskan ajaran yang isinya etika dan sakralitas lingkungan dalam membangun. Jika salah membangun rumah di ‘karang tenget’ — seperti ‘rejeng’, ‘abing tukad’, ‘pangkung’, ‘loloan tukad’, ‘campuhan', 'urugan pasih’, dll. — sebagaimana disebutkan dalam lontar-lontar Kawi dan Bali, serta terbukti menjadi pengalaman hidup leluhur berabad-abad, maka orang yang membangun tersebut sama dengan MANGUNDANG KALA.
Mengurug sawah, saluran air, sempadan sungai, adalah tindakan mengundang bhuta-kala. Terlebih reklamasi, ini adalah kegiatan 'mengundang Maha Bhuta Kala', yang artinya dengan mengundang maha-mara-bahaya. Alih-alih mencari selamat dan berkah, tetapi reklamasi adalah identik dengan mengundang kematian dan kutukan, kedukaan dan perih persoalan yang tiada henti.
Bhuta-kala datang ketika ada orang berani mengurug ‘karang tenget’ — entah itu ‘ngurug pengalapan carik ‘ (menimbung titik sakral air sawah)’, ‘nindingin abing tukad’ (menembok dan pondasi sempadan sungai dan membangun rumah atau fasilitas di atasnya), ‘nyeder pangkung’ (mengurug ceruk sungai atau lembah), ‘ngematiang telabah’ (membunuh saluran air),. Apalagi sampai ‘ngurug lolohan’ (mereklamasi muara sungai) dan ‘ngurug pasih’ (mereklamasi pantai). Jelas-jelas ini adalah mengundang adalah dedengkotnya bhuta-kala atau Maha Bhuta Kala untuk tinggal di sana. Hasil urugan reklamasi akan menjadi 'stana Bhuta Kala (istana dari Bhuta Kala).
Bhuta Kala adalah roh-roh Alam Bawah yang naik ke Alam Manusia karena manusia berperilaku busuk tercela melakukan perusakan alam, dan atau kejam pada sesama. Bhuta Kala tugasnya adalah ‘nadah’ (memakan tumbal). Tumbal dari Bhuta Kala adalah manusia. Bentuknya bisa berupa sakit tidak jelas sumbernya, di Bali disebut 'ngreres' (sakit setengah-setengah kehilangan koordinasi bagian tubuh lalu mati secara perlahan-lahan).
Bentuk dasyat dari Bhuta-Kala adalah kisruh kemanusiaan, perang, manusia saling bunuh karena 'kesusupan kala'. (kesurupan bhuta kala).
Jika tanah urugan atau hasil reklamasi dijadikan fasilitas usaha/bisnis maka akan ditimpa celaka, usaha tidak akan jalan, terus timbul masalah, pemilik dan para pekerja sakit-sakitan, anak dan keluarganya merana terus ribut bermasalah sekalipun berlimpah uang dan kekayaan. Senantiasa tidak putus duka lara. Itulah perwujudan Bhuta Kala.
Mendekati airport Ngurah Rai biasanya pesawat berputar sebentar. Wajah Pulau Kura-Kura yang sangat mirip penampakan Kala Kataksini menyambut pendaratan di Pulau Bali, dengan gemuruh turbulensi deru mesin mengeras berputar-putar. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...