Narasi Keriangan Indonesia di Festival Tepi Sawah
FESTIVAL Tepi Sawah yang digelar di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, Bali, 4-5 Juni 2017, memang diniatkan untuk membawa pesan tentang kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Namun...
KOTA Denpasar dini hari. Tak ada kehidupan, orang-orang sudah tertidur lelap. Sebagian besar jalanan sudah sepi. Ditambah lagi dengan situasi ekonomi yang tidak menentu; angka pertumbuhan ekonomi menurun.Banyak orang susah. Bayang-bayang PHK di mana-mana. Masih bekerja saja sudah syukur. Malam kota Denpasar mengingatkan saya pada satu kata, yakni, tenget.
Dalam bahasa Bali tenget artinya angker, keramat, wingit; sesuatu yang membuat kita berhati-hati dan penuh rasa hormat. Bagi masyarakat Bali, kata ini tidak sekadar soal rasa takut, tetapi tentang kesadaran bahwa ada sesuatu yang tak kasatmata, sesuatu yang sakral dan harus dihormati. Tempat-tempat tertentu disebut tenget karena diyakini ada kekuatan spiritual di dalamnya. Ada pura, pohon beringin, atau persimpangan jalan yang dianggap “tenget”. Kita diajarkan untuk permisi, nyelang margi, sebelum melintasinya.
Banyak dari kita menganggap tenget itu identik dengan desa, padahal tidak. Justru di kota, hidup terasa tenget. Di desa, masyarakat sudah terbiasa hidup beriringan dengan tempat-tempat keramat, dengan “niskala” yang menyelimuti keseharian. Di kota, tenget datang bukan dari pohon besar, bukan dari pura tua, bukan dari roh leluhur.
Di kota, tenget lahir dari jiwa manusia; persaingan antar tetangga, saling membicarakan orang lain di belakang, rasa iri dan dengki, tak mau “dikalahkan”, aturan sosial yang mengekang kebebasan individu. Budaya dan cara hidup yang seragam (dan diseragamkan) membuat jiwa-jiwa kreatif dan pemberontak seperti seniman, penulis, penyair merasa hidup di kota kering dan hampa. Tenget
Di jalan-jalan kota, kita melihat wajah-wajah yang jarang tersenyum. Logika dan cara pikir “lu jual, gua beli” menjadikan hubungan antarmanusia begitu transaksional. Kota menjelma pasar raksasa, bukan rumah bagi jiwa. Segalanya dihitung, dinegosiasikan, dinilai dengan uang. Keakraban berubah menjadi modal sosial yang penuh perhitungan.
Sebaliknya, di desa—walau kini makin terkikis—kepolosan dan “kebaikan” masih bisa kita temui. Tak semua hal dimaknai dengan uang. Masih ada rasa gotong-royong dan tolong-menolong yang tulus. Warga datang membantu tetangga tanpa pamrih. Ritual adat masih menjadi perekat sosial, bukan beban semata.
Namun hidup di desa meskipun terasa damai, upah pekerja kecil. Padahal upah minimum kabupaten telah ada dan ditetapkan setiap tahun. Masih banyak pengusaha yang belum mampu membayar pekerja dengan layak sesuai aturan pemerintah. Ada yang mampu, tapi membandel, tak mau menaati peraturan.
Jadi sesungguhnya tak ada yang “tenget” di desa meskipun banyak tempat angker dan sakral. Warga desa telah terbiasa dengan itu. Mereka hidup berdampingan dengan pohon besar, kuburan tua, atau pura kecil di sudut banjar tanpa merasa terancam. “Tenget” bagi mereka adalah bagian alamiah dari hidup. Mereka tahu cara berhubungan dengan yang tak kasatmata dengan hormat, dengan banten, dengan doa.
Di kota, tenget kebanyakan berasal dari manusia yang beragam budaya, cara pikir, dan cara hidup. Pendapatan minim, tapi gaya selangit. Miskin tapi belagu, meminjam ungkapan khas Betawi. Lebih suka mengurusi kehidupan orang lain daripada mengurusi diri dan keluarga. Mulut-mulut yang gemar bergosip dan bergunjing; seakan diri mereka paling suci dan baik. Inilah “roh halus” kota yang sebenarnya—bukan makhluk gaib, melainkan atmosfer sosial yang menyesakkan dada.
Zaman edan? Mungkin saja. Hanya sikap “eling lan waspada” yang akan bisa menyelamatkan manusia dari kegilaan ini, mengutip syair pujangga asal Jawa, Ronggowarsito, berabad-abad lalu. Tenget itu hidup yang kebanyakan aturan. Manusia sekarang suka merumit-rumitkan sesuatu yang sebenarnya bisa disederhanakan. Akhirnya pusing sendiri, mirip jaring laba-laba yang menyesatkan pembuatnya.
Di kota, tenget hadir juga lewat arsitektur dan tata ruang. Beton dan aspal menutup tanah, pohon-pohon ditebang, ruang hijau menyusut. Kota menjadi panas, bising, dan asing. Tidak ada tempat untuk “napas”. Tidak ada jeda bagi jiwa. Rumah-rumah bersekat tinggi, apartemen-apartemen yang menelan privasi. Bahkan tetangga pun tak saling mengenal. Inilah “angker” baru, keterasingan di tengah keramaian.
Sementara itu, pusat perbelanjaan dibangun megah dengan kaca-kaca mengilap. Tapi di balik kilau itu, ada para pekerja bergaji pas-pasan, buruh kontrak yang mudah di-PHK, pengemudi ojek daring yang berdesakan menunggu order. Mereka adalah arwah-arwah hidup yang gentayangan di malam kota. Mereka pulang larut dengan wajah letih, menanggung hutang dan tuntutan keluarga. Bukankah ini juga tenget?
Bahkan media sosial memperkuat aura tenget di kota. Orang-orang memamerkan gaya hidup, pencapaian, liburan, barang-barang baru. Yang melihat merasa tertinggal, iri, atau tertekan. Kota menjadi panggung besar penuh ilusi, tempat orang berlomba-lomba menampilkan yang terbaik, padahal hatinya rapuh. Senyum palsu tak hanya di wajah, tapi juga di layar ponsel.
Desa memang tidak suci dari masalah. Politik uang merambah banjar, budaya konsumtif menyelinap lewat televisi dan gawai. Tapi ritme hidupnya masih memberi ruang bagi pertemuan yang tulus, untuk bertatap muka tanpa perantara layar. Tenget di desa masih “klasik”; pohon tua, kuburan, pura kecil. Sementara tenget di kota adalah modern; persaingan, kesepian, dan tekanan sosial.
Karena itu, kita perlu mendefinisikan ulang “tenget”. Ia tidak lagi sekadar soal tempat keramat, tetapi atmosfer sosial yang menakutkan. Ia bukan sekadar soal niskala, tetapi soal sekala kebijakan kota yang menyingkirkan ruang publik, sistem ekonomi yang menekan rakyat kecil, gaya hidup yang memuja citra di atas substansi.
Jika di desa tenget membuat orang berdoa dan berperilaku hormat, di kota tenget justru membuat orang keras hati, apatis, dan paranoid. Orang takut ditipu, takut disalip, takut kalah. Orang menutup pintu rumah rapat-rapat, memasang CCTV, mengunci diri. Sementara di desa, orang masih bisa menitip pesan pada tetangga, meninggalkan pintu terbuka.
Apakah kita harus kembali ke desa? Tidak juga. Tapi kita bisa belajar dari desa tentang kesederhanaan, tentang gotong-royong, tentang hidup berdampingan. Kita bisa membawa nilai-nilai itu ke kota, mengikis aura tenget yang kita ciptakan sendiri.
Mungkin kita juga harus mengubah cara pandang menganggap kota bukan sebagai arena perang, tetapi sebagai rumah bersama. Mengembalikan ruang publik, ruang hijau, dan budaya saling menyapa. Membuka diri untuk kejujuran dan solidaritas. Tidak mudah, tetapi tanpa itu, kota hanya akan menjadi tempat berhantu—tenget dalam arti yang paling mencekam.
Dan pada akhirnya, seperti kata leluhur, semua kembali ke sikap batin kita sendiri. Tenget akan tetap ada di mana-mana selama kita memeliharanya dalam hati iri, dengki, serakah, pura-pura baik. Tapi tenget juga bisa sirna bila kita mengisinya dengan ketulusan, kejujuran, dan kesadaran. Kota pun bisa terasa teduh dan suci, meski penuh beton. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
FESTIVAL Tepi Sawah yang digelar di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, Bali, 4-5 Juni 2017, memang diniatkan untuk membawa pesan tentang kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Namun...
MULAI Juni 2017, majalah remaja "Hai" menutup edisi cetaknya dan beralih ke medium digital. Satu lagi media cetak yang sudah cukup tua harus menyerah kalah, setelah sebelumnya ada...
SAYA, sebagai fans sejati Juventus, tidak akan sakit hati, karena pada akhirnya sepakbola tetaplah hanya sebuah permainan bin pertandingan yang ada kalah menangnya. Saya mungkin se...
“Awas, waspada, hati-hati, tukang gebeg lontar sedang beraksi di Bali. Jika tak ingin banyak tahu, cepat sembunyikan lontar Anda. Jika tak ingin sadar akan pentingnya warisan kekay...
INI perjalanan ke desa, seperti perjalanan gaib ke tanah leluhur. Bolehlah disebut berwisata, karena nikmat keindahan alam sungguh memanjakan mata. Tapi jika sempat termenung sedik...
HAMPIR semua pemeluk agama memvisualisasikan tuhan sebagai sosok laki-laki. Sebagian besar sebagai laki-laki yang berkharisma dan berwibawa. Ini merupakan wujud dari berjayanya ide...
JANGAN rendah diri sebagai bangsa dari timur yang begitu percaya mitos-mitos. Lha, di Eropa, belahan dunia yang konon amat modern, mitos tetap dijadikan rujukan untuk memprediksi f...
DARI namanya, Festival Tepi Sawah, kita tahu apa-apa saja yang ada, apa-apa yang disuarakan, pesan apa-apa saja yang disampaikan dalam festival itu. Tepi sawah, sebuah tempat yang...
SATU hal yang paling saya syukuri dari masa kecil saya adalah bertemu dengan kisah-kisah pewayangan. Saya rela berjalan kaki atau begadang untuk menyaksikan dalang yang nrek (penta...
BELAKANGAN ini disibukkan dengan berbagai peristiwa sosial, hukum, dan politik, yang berhubungan dengan NKRI. Semboyan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu, menjadi l...