Wanita yang Belum Mengerti Tentang Kepergian
Cerpen: Alif Febriyantoro Ya. Saya tahu, bahwa saya adalah wanita yang belum mengerti tentang kepergian. Tapi pada akhirnya saya sudah berada di sebuah kereta me...
KOTA Denpasar dini hari. Tak ada kehidupan, orang-orang sudah tertidur lelap. Sebagian besar jalanan sudah sepi. Ditambah lagi dengan situasi ekonomi yang tidak menentu; angka pertumbuhan ekonomi menurun.Banyak orang susah. Bayang-bayang PHK di mana-mana. Masih bekerja saja sudah syukur. Malam kota Denpasar mengingatkan saya pada satu kata, yakni, tenget.
Dalam bahasa Bali tenget artinya angker, keramat, wingit; sesuatu yang membuat kita berhati-hati dan penuh rasa hormat. Bagi masyarakat Bali, kata ini tidak sekadar soal rasa takut, tetapi tentang kesadaran bahwa ada sesuatu yang tak kasatmata, sesuatu yang sakral dan harus dihormati. Tempat-tempat tertentu disebut tenget karena diyakini ada kekuatan spiritual di dalamnya. Ada pura, pohon beringin, atau persimpangan jalan yang dianggap “tenget”. Kita diajarkan untuk permisi, nyelang margi, sebelum melintasinya.
Banyak dari kita menganggap tenget itu identik dengan desa, padahal tidak. Justru di kota, hidup terasa tenget. Di desa, masyarakat sudah terbiasa hidup beriringan dengan tempat-tempat keramat, dengan “niskala” yang menyelimuti keseharian. Di kota, tenget datang bukan dari pohon besar, bukan dari pura tua, bukan dari roh leluhur.
Di kota, tenget lahir dari jiwa manusia; persaingan antar tetangga, saling membicarakan orang lain di belakang, rasa iri dan dengki, tak mau “dikalahkan”, aturan sosial yang mengekang kebebasan individu. Budaya dan cara hidup yang seragam (dan diseragamkan) membuat jiwa-jiwa kreatif dan pemberontak seperti seniman, penulis, penyair merasa hidup di kota kering dan hampa. Tenget
Di jalan-jalan kota, kita melihat wajah-wajah yang jarang tersenyum. Logika dan cara pikir “lu jual, gua beli” menjadikan hubungan antarmanusia begitu transaksional. Kota menjelma pasar raksasa, bukan rumah bagi jiwa. Segalanya dihitung, dinegosiasikan, dinilai dengan uang. Keakraban berubah menjadi modal sosial yang penuh perhitungan.
Sebaliknya, di desa—walau kini makin terkikis—kepolosan dan “kebaikan” masih bisa kita temui. Tak semua hal dimaknai dengan uang. Masih ada rasa gotong-royong dan tolong-menolong yang tulus. Warga datang membantu tetangga tanpa pamrih. Ritual adat masih menjadi perekat sosial, bukan beban semata.
Namun hidup di desa meskipun terasa damai, upah pekerja kecil. Padahal upah minimum kabupaten telah ada dan ditetapkan setiap tahun. Masih banyak pengusaha yang belum mampu membayar pekerja dengan layak sesuai aturan pemerintah. Ada yang mampu, tapi membandel, tak mau menaati peraturan.
Jadi sesungguhnya tak ada yang “tenget” di desa meskipun banyak tempat angker dan sakral. Warga desa telah terbiasa dengan itu. Mereka hidup berdampingan dengan pohon besar, kuburan tua, atau pura kecil di sudut banjar tanpa merasa terancam. “Tenget” bagi mereka adalah bagian alamiah dari hidup. Mereka tahu cara berhubungan dengan yang tak kasatmata dengan hormat, dengan banten, dengan doa.
Di kota, tenget kebanyakan berasal dari manusia yang beragam budaya, cara pikir, dan cara hidup. Pendapatan minim, tapi gaya selangit. Miskin tapi belagu, meminjam ungkapan khas Betawi. Lebih suka mengurusi kehidupan orang lain daripada mengurusi diri dan keluarga. Mulut-mulut yang gemar bergosip dan bergunjing; seakan diri mereka paling suci dan baik. Inilah “roh halus” kota yang sebenarnya—bukan makhluk gaib, melainkan atmosfer sosial yang menyesakkan dada.
Zaman edan? Mungkin saja. Hanya sikap “eling lan waspada” yang akan bisa menyelamatkan manusia dari kegilaan ini, mengutip syair pujangga asal Jawa, Ronggowarsito, berabad-abad lalu. Tenget itu hidup yang kebanyakan aturan. Manusia sekarang suka merumit-rumitkan sesuatu yang sebenarnya bisa disederhanakan. Akhirnya pusing sendiri, mirip jaring laba-laba yang menyesatkan pembuatnya.
Di kota, tenget hadir juga lewat arsitektur dan tata ruang. Beton dan aspal menutup tanah, pohon-pohon ditebang, ruang hijau menyusut. Kota menjadi panas, bising, dan asing. Tidak ada tempat untuk “napas”. Tidak ada jeda bagi jiwa. Rumah-rumah bersekat tinggi, apartemen-apartemen yang menelan privasi. Bahkan tetangga pun tak saling mengenal. Inilah “angker” baru, keterasingan di tengah keramaian.
Sementara itu, pusat perbelanjaan dibangun megah dengan kaca-kaca mengilap. Tapi di balik kilau itu, ada para pekerja bergaji pas-pasan, buruh kontrak yang mudah di-PHK, pengemudi ojek daring yang berdesakan menunggu order. Mereka adalah arwah-arwah hidup yang gentayangan di malam kota. Mereka pulang larut dengan wajah letih, menanggung hutang dan tuntutan keluarga. Bukankah ini juga tenget?
Bahkan media sosial memperkuat aura tenget di kota. Orang-orang memamerkan gaya hidup, pencapaian, liburan, barang-barang baru. Yang melihat merasa tertinggal, iri, atau tertekan. Kota menjadi panggung besar penuh ilusi, tempat orang berlomba-lomba menampilkan yang terbaik, padahal hatinya rapuh. Senyum palsu tak hanya di wajah, tapi juga di layar ponsel.
Desa memang tidak suci dari masalah. Politik uang merambah banjar, budaya konsumtif menyelinap lewat televisi dan gawai. Tapi ritme hidupnya masih memberi ruang bagi pertemuan yang tulus, untuk bertatap muka tanpa perantara layar. Tenget di desa masih “klasik”; pohon tua, kuburan, pura kecil. Sementara tenget di kota adalah modern; persaingan, kesepian, dan tekanan sosial.
Karena itu, kita perlu mendefinisikan ulang “tenget”. Ia tidak lagi sekadar soal tempat keramat, tetapi atmosfer sosial yang menakutkan. Ia bukan sekadar soal niskala, tetapi soal sekala kebijakan kota yang menyingkirkan ruang publik, sistem ekonomi yang menekan rakyat kecil, gaya hidup yang memuja citra di atas substansi.
Jika di desa tenget membuat orang berdoa dan berperilaku hormat, di kota tenget justru membuat orang keras hati, apatis, dan paranoid. Orang takut ditipu, takut disalip, takut kalah. Orang menutup pintu rumah rapat-rapat, memasang CCTV, mengunci diri. Sementara di desa, orang masih bisa menitip pesan pada tetangga, meninggalkan pintu terbuka.
Apakah kita harus kembali ke desa? Tidak juga. Tapi kita bisa belajar dari desa tentang kesederhanaan, tentang gotong-royong, tentang hidup berdampingan. Kita bisa membawa nilai-nilai itu ke kota, mengikis aura tenget yang kita ciptakan sendiri.
Mungkin kita juga harus mengubah cara pandang menganggap kota bukan sebagai arena perang, tetapi sebagai rumah bersama. Mengembalikan ruang publik, ruang hijau, dan budaya saling menyapa. Membuka diri untuk kejujuran dan solidaritas. Tidak mudah, tetapi tanpa itu, kota hanya akan menjadi tempat berhantu—tenget dalam arti yang paling mencekam.
Dan pada akhirnya, seperti kata leluhur, semua kembali ke sikap batin kita sendiri. Tenget akan tetap ada di mana-mana selama kita memeliharanya dalam hati iri, dengki, serakah, pura-pura baik. Tapi tenget juga bisa sirna bila kita mengisinya dengan ketulusan, kejujuran, dan kesadaran. Kota pun bisa terasa teduh dan suci, meski penuh beton. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Alif Febriyantoro Ya. Saya tahu, bahwa saya adalah wanita yang belum mengerti tentang kepergian. Tapi pada akhirnya saya sudah berada di sebuah kereta me...
“Saya salut dengan Putu Satria Kusuma,” begitu komentar Ida Bagus Martinaya (Gus Martin), dramawan dari Teater Agustus, usai menonton drama berjudul “Revolusi di Nusa Damai...
JENGAH. Itu kata yang memicu lahirnya Buleleng Festival, lima tahun silam. Bagaimana tidak jengah? Kesenian Buleleng hanya menjadi penonton pada ajang kesenian tingkat prov...
SIAPA bilang pertunjukan drama hanya soal romantisme dan balada cinta kawula muda saja? Seni drama dapat menjadi salah satu sarana edukasi bagi masyarakat, baik memberikan...
SEHABIS ngobrol bersama Dewa Gede Palguna di sebuah resto di Pantai Penimbangan Singaraja, beberapa bulan lalu, saya terus dihantui imajinasi keren. Seandainya dosen yang k...
DI Desa Tunjuk, Tabanan, terdapat sebuah kesenian tua yang kemudian memberi getaran pada tumbuhnya kesenian lain di desa itu. Namanya Tari Leko. Tarian itu berkembang sej...
[caption id="attachment_3927" align="alignnone" width="737"] Pameran Faces of Bali sampai akhir Agustus 2017[/caption] AGUSTUS menjadi bulan yang penuh dengan kegiatan sen...
DALAM jarak waktu yang tak terlalu lama, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, sudah dua kali main teater. Bukan main teater di panggung politik, bukan pula di panggung birokr...
TERINGAT kisah “Burung Bangau Mati Karena Kelobaannya” dari novel Tantri Karya Cok Sawitri. Apakah hanya karena keserakahan/kelobaan burung Bangau mati dijepit kepiting? Te...
HAI, mahasiswa baru, apakah kamu gelisah menghadapi detik-detik OKK (Orientasi Kegiatan Kampus) atau Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus)? Jika ya, maklum saja. T...