Lupita Sari Dewi dan Andy Sri Wahyudi berpameran bersama dengan menampilkan karya-karya rupa yang menarik perhatian di Museum dan Tanah Liat, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Pameran itu dibuka 27 September 2025 dalam suasana penuh canda dan kekeluargaan.
Dua perupa itu menyebut diri mereka Duo Wanara, alias dua monyet. Nama itu muncul karena secara kebetulan mereka mempunyai Shio yang sama: monyet, yang dalam jagad Jawa (pewayangan) disebut Wanara.
"Nah, karakter Wanara yang aktif, dinamis, riang dan kreatif menjadi spirit proses kerja kreatif kami," kata Andy Sri Wahyudi atau biasa juga dipanggil Andy SW.
Karya-karya Lupita Sari Dewi
Meski menyebut diri mereka Dua Wanara, namun karya-karya mereka bukan tentang monyet, tapi barangkali bisa disebut tentang sesuatu yang melampaui monyet. Dalam karya Lupita Sari Dewi bisa ditemukan karya dengan gambaran hewan yang lucu dan manis, seperti kucing dan anjing. Juga, ada hewan lain, atau mahluk yang barangkali susah diberi nama, apakah ia monyet, kucing, anjing atau manusia siluman binatang.
Mahluk itu, baik gambaran Lupita Sari Dewi, maupun citraan Andy Sri Wahyudi, tentu saja memang ada dalam imajinasi siapa pun, dalam bentuk apa pun, secara misterius, mistis, atau gambaran nyata yang hanya ada dalam mimpi-mimpi kita.
Seluruh bentuk, baik abstrak, mistis, absurd, atau apa pun namanya dalam karya-karya mereka berdua sesungguhnya bisa juga dibayangkan sebagai wujud dari tingkah-polah kreatif mereka dalam melahirkan karya-karya besar itu.
Karya Lupita Sari Dewi
"Selama enam bulan kami berproses kreatif di L'ASRY (Bimbingan Informal Seni Rupa Yogyakarta). Kami menjalaninya dengan gegap gempita. Hingga kebosanan ternikmati. Hingga keringat terasa legi. Dengan jiwa berseri-seri kami memainkan jari jemari setiap hari," kata Andi SW.
Dalam berproses itu, kata Andy SW, karakter dan tingkah polah mereka seperti wanara. Meskipun satu kelas hanya berdua tapi vibe-nya serasa duapuluh murid. Ada saja hal-hal yang bikin kelas jadi seru dan kadang kacau sendiri.
"Canda tawa saling olok dan mengejek menjadi sarapan sehari-hari kami. Menyanyi sekenanya, menyampar cat, menumpahkan cat air, joget-joget sendiri, main silat-silatan dan masih banyak lagi tingkah polah konyol yang bikin kangen," kata Andy SW.
Namun tak hanya hal konyol dan urakan yang membuat mereka terus bertahan dan berproses di L"ASRY (Bimbingan Informal Seni Rupa Yogyakarta). Karakter wanara itulah yang membuat mereka terus bergerak dan tumbuh. Semangat hidup dan karakter wanara dijadikan spirit dalam bekerja: aktif, dinamis, riang dan Kreatif.
Karya-karya Andy SW
"Setiap hari kami berangkat untuk membuat karya demi karya yang selalu kurang dan jelek di mata para pembimbing. Justru itulah mental kami kian hari kian menguat dan terus berusaha semampu kami untuk menjadikan karya seistimewa mungkin," ujar Andy SW.
Ada lima kelas pertemuan dalam seminggu yang mereka ikuti. Nirmana, Sketsa, Gambar Bentuk, Lukis dan Media Alternatif. Secara teori hanya dua jam pertemuan tapi praktiknya berjam jam. "Meskipun demikian kami betah-betah saja," kata Andy SW.
Mereka berdua semakin menyadari dimana titik titik lemah dan kekuatan yang ada dalam diri ini. Kelemahan akan terus diasah dan kekuatan terus mereka olah. Maka jadilah hasil kerja kreatif yang mewujud dalam pameran berdua di Kasihan, Bantul, itu.
Selamat, Duo Wanara selalu bersemi dari hari ke hari hingga kelak kemudian hari. [T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...