JIKA sakit dan perlu obat, maka pergilah ke dokter atau apotek.Demikianlah di jaman sekarang yang kita tahu solusi menuju jalan kesembuhan secara cepat.
Tapi apakah ada jalan lain, yang lebih alternatif?
Ada, kata I Made Radia, seorang penekun tanaman obat, ketika berbicara di depan anak-anak pada acara workshop Mengenal Tanaman Herbal, serangkaian acara Festival ke Uma V tahun 2025 di areal Subak Sidang Rapuh, Marga Dauh Puri, Tabanan, Minggu, 28 September 2025.
Made Radia, biasa dipanggil Pak Made, adalah seorang pensiunan penyuluh Dinas Pertanian Buleleng, yang kini menekuni tanaman obat mengisi hari pensiunnya.
Banyak menanam obat-obatan di pekarangan rumahnya sekarang, sebagai toga (tanaman obat keluarga). Di acara itu, ia menjadi narasumber. Membagi ilmunya pada—yang sebagian besar pesertanya, adalah anak-anak dari SD No.1 Marga Dauh Puri. Juga membagi tanamannya ke mereka.
Gasti—atau biasa juga disapa Dede, siswa kelas 3, bersama teman-temannya sudah duduk di tenda beratap anyam daun-daun kelapa, menunggu Pak Made datang. Ias siap belajar.
Made Radia
Mereka tampak senang ketika Pak Made mulai terlihat dari pintu masuk festival, melewati lelakut, terlihat menjinjing sekantong tanaman obat berupa daun-daun dan akar.
Gasti duduk di baris paling belakang sisi kanan. Ikut menyimak ketika Pak Made mulai menjelaskan, yang dibawanya adalah tumbuhan obat-obatan. Murah meriah. Mudah dijumpai, dan beberapa langka tak mudah dijumpai. Yang perlu dikembangkan di pekarangan rumah.
“Hari ini kita mengenal tanaman obat-obatan yang biasa tumbuh di pekarangan rumah. Tanaman ini sebagai pertolongan pertama, dengan cara meramu daun-daun atau akar,” kata Pak Made.
Mengusir rasa penasaran anak-anak dari apa-apa yang dibawanya itu di kantong plastik. Segera Pak Made mengeluarkannya satu-satu. Ada jahe emprit keluar, daun binahong, dan ada daun sirih. Kemudian ada sreh, dan Jambu atawa sotong.
Kunyit. Terus daun sela (singkong) dan daun kitulud, serta buah tibah juga dikeluarkannya. Tanaman-tanaman itu dibawanya langsung dari rumah.
Mengenal Tanaman Obat dan Manfaatnya
Segeralah Pak Made menjelaskan tentang jahe emprit. Tentang bentuknya, yang membedakan jahe emprit dengan jahe putih, atau jahe lainnya, yaitu pada bentuk.
Jahe emprit bentuknya lebih kecil, karena akarnya tidak panjang sampai lebih dari 30 cm. Jahe ini juga bentuknya lebih pipih, dan warnanya kekuningan dengan serat yang lembut.
Soal manfaat, jahe emprit atau nama lain dari Zingiber Officinale, itu bisa meningkatkan ketahanan tubuh. Juga bisa meningkatkan nafsu makan.
Anak-anak memegang tanaman obat
Cara mengkonsumsinya, bisa dengan cara digeprek, di masukan ke dalam gelas berisi air panas, lalu diminum. Ini ramuan mudah, dan tidak menumbuhkan efek samping.
Lebih lanjut tentang jahe emprit, bisa direbus dan menambahkannya pada racikan kopi di suasana hari yang dingin. Ya, cocok sebagai hidangan penghangat. Dan tanaman ini bisa dibudidayakan dengan mudah di pekarangan rumah. Bahkan, hama untuk mengganggu tanaman ini, nyaris jarang.
"Yang kedua, ada sirih. Untuk menyetop pendarahan, seperti mimisan. Tinggal ambil, bejek, terus ditempel ke bolong hidung," lanjut Pak Made.
Selain itu, sirih atau nama lain dari piper betle, juga bisa digunakan untuk merawat gigi, agar kuat. Biasanya orang tua dulu itu menggunakannya dengan cara nginang. Sehingga tak aneh jika gigi-gigi orang yang nginang itu sehat, dan bau nafasnya selalu segar.
Lebih lanjut, sirih juga bisa mencegah mual kata Pak Made. Dengan cara direbus lima daun. Lalu meminumnya hangat-hangat. Tanaman ini bisa tumbuh dengan mudah di pekarangan rumah, siapa saja boleh menanamnya.
Manfaat daun singkong, sama seperti daun sirih. Bisa menghentikan pendarahan.
"Yang ketiga, sreh. Bisa memperlancar peredaran darah. Dan juga bisa mengusir nyamuk," jelas Pak Made.
Tanaman ini bisa dengan mudah ditanam, dan awas, ini tumbuhan mirip sangat dengan ilalang panjang. Jangan salah tanam jangan salah potek. Anak-anak tertawa. Tumbuh sreh juga biasa disebut cimbopogon citratus.
Setelah itu, Pak Made menjelaskan daun binahong (madeira vine). Tumbuhan yang merambat ini, ternyata memiliki khasiat yang penting. Yaitu bisa mempercepat kering luka saat labuh (terjatuh), atau luka bakar.
Jenis-jenis tanaman obat
Daunnya juga bisa mempercepat penyembuhan pasca operasi sesar—bagi perempuan. Dengan cara direbus, diminum airnya. Sedang untuk luka bakar, dengan cara diwejek daunnya, lalu dibubuhkan atau dioleskan di bagian yang luka. Tunggu beberapa waktu agar khasiat bekerja.
Berbeda dengan khasiat daun kitolod (Hippobroma longiflora). Yang berguna itu dibagian bunganya. Lima atau enam bunga, bisa dimasukkan ke dalam air di dalam gelas. Terus dibasuhkan ke mata, untuk menyembuhkan mata yang rabun atau sakit, kata Pak Made.
"Terus ada juga daun salam. Untuk menurunkan asam urat. Harus sering rutin diminum setiap hari," lanjut Pak Made.
Kemudian daun basa-basa, atau daun ketapang. Selain biasa digunakan di upacara yadnya. Daun ini juga bisa berfungsi sebagai obat. Berguna untuk menghangatkan tubuh, baik biji atau akar atau batangnya, dengan cara dibuat boreh. Di pekarangan, tanaman ini cukup langka sekarang, sehingga perlu ditanam di pekarangan.
Tidak seperti papaya, yang mudah ditemukan dimana-mana. Pohon papaya, daunnya itu memiliki manfaat besar untuk mengusir nyamuk di musim nyamuk. Caranya sederhana. Cukup dibuatkan minuman. Bisa diblender atau ditumbuk, saring, dan minumlah secukupnya.
Selanjutnya ada cabe puyeng, yang masih satu keluarga dengan sirih-sirihan. Cabe ini biasa juga digunakan sebagai jamu, selain digunakan bumbu dapur. Manfaat cabe ini bisa meredakan batuk, dan masuk angin, bahkan bronkitis juga.
Dan yang lebih ditunggu-tunggu oleh Gasti, adalah penjelasan tentang jambu. Pak Made membawa dua jambu dan beberapa daunnya yang masih tercantel di satu ranting. Agaknya, Gasti tergoda.
Di satu kesempatan, Nyoman Budarsana yang menjadi moderator ketika itu, menyilahkan anak-anak untuk berani maju ke depan, dan menjelaskan manfaat yang mereka ketahui tentang beberapa tanaman obat yang dibawa Pak Made.
Tanpa fafifuheho, Gasti maju. Gasti menerangkan jika jambu, bermanfaat untuk rujak.
“Saya pernah mencurinya di tetagga saya,” humor Gasti, yang membuat anak-anak yang lain tertawa.
Jawaban Gasti benar, tapi perbuatannya di masa lalu tidak benar. Hehe. Lanjut Pak Made menjelaskan, bahwa selain digunakan untuk rujak, buah jambu dan pucuk daunnya, bisa digunakan untuk menyembuhkan diare.
Gasti memegang daun jambu
Caranya sederhana, cukup diblender daunnya, disaring, lalu diminum. Atau kebanyakan orang juga menyebutnya sebagai oralit.
Dan ketika itu, usai Gasti, ada juga Savitri yang maju ke depan. Ia bercerita perjumpaan kali peratamanya dengan jahe, itu dari dapur ketika ibunya memasak.
Namun soal manfaat selain untuk bumbu dapur, Savitri mengaku baru tahu jika jahe, juga adalah obat—selepas Pak Made menjelaskan aneka ragam tanaman obat.
Di akhir acara itu, ketika beberapa peserta maju, mereka diberikan tanaman obat yang dijelaskan oleh Pak Made. Gasti mendapatkan tanaman jambu juga jambunya. Lalu merujaknya bersama teman-teman.
Dasar Gasti, si bocah aktif dan tengil, juga pintar. Berhentilah mencuriiii. Hehe.
Sebelum pulang, Pak Made menyayangkan, waktu perjumpaan yang singkat dan keterbatasan alat-alat, tidak bisa praktek secara langsung cara meramu tanaman-tanaman itu, kepada anak-anak.
Tapi walaupun demikian, anak-anak tetap masih merasa gembira. Mendapatkan banyak wawasan, salah satunya tentang bentuk dan manfaat tanaman obat, juga tanamannya.
“Mari kita coba tanam di pekarangan rumah masing-masing. Ini adalah apotek hidup.” kata Pak Made, di sela membagi tanamannya kepada anak-anak.
Di lain kesempatan festival ini tahun depan, Nyoman Budarsana—sebagai penyelenggara, akan menyediakan waktu dan fasilitas yang memungkinkan, jika anggarannya memadai. Semoga selalu datang hal-hal baik. Aamiin. [T]
BERDASARKAN data, selain kasus kekerasan seksual dan kasus HIV/Aids, kasus pernikahan anak juga termasuk paling tinggi di Buleleng. Sebagai ketua PKBI (Perkumpulan Keluarga Berenc...
DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus, adik ketiga kelas X, dan adik keempat kel...
sore di gerbang tim.
jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di bawah baliho usang iklan pertunjukan,membiarkan...
SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang: saat prasmanan dibuka. Entah mengapa,...
Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu, 6 Juni, diikuti oleh 11 peserta.
Secara...
Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang. Mengingat lomba dilakukan secara daring, para juri...
Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan
Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga, dupa, atau berbagai b...
KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia membawa rasa kehilangan yang mengambang. Galih melangkah...
DOA UNTUK TETANGGA
Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang banyak. Agar tidak ada lagi yangsuka ber...
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific P...