SUASANA rumah sederhana milik keluarga Putu Arnaya (40) di Banjar Dinas Tamblingan Desa Munduk, Buleleng, setiap hari selalu dipenuhi kesibukan. Di ruang tamu yang beralaskan tikar, suara plastik direkatkan dan aroma gurih camilan yang dibungkus memenuhi ruangan. Bersama istrinya, Ketut Partiani (39), serta kedua anaknya, Putu Ekariani (27) dan Kadek Hendriana (22), Putu Arnaya menekuni usaha rumahan yang mereka beri nama Dex Pande Cemilan.
Puluhan jenis keripik dan kacang-kacangan tersusun di ruang tamu, sebagian sudah siap dijual, sebagian lainnya menunggu untuk dikemas ulang. Dari ruangan sederhana inilah lahir usaha camilan yang kini menjadi sumber utama penghasilan keluarga.
Kisah usaha ini berawal dari pandemi Covid-19 yang melumpuhkan banyak sektor. Sebelum pandemi, Putu Arnaya bekerja sebagai makelar motor bekas. Namun, saat wabah melanda, harga motor anjlok drastis dan pembeli nyaris tidak ada.
“Untungnya stok motor saya tinggal sedikit, jadi tidak terlalu rugi. Dari sisa modal itu, saya coba usaha lain,” kata Putu Arnaya.
Awalnya, ia beralih ke pertanian dengan menanam berbagai sayuran seperti wortel, sawi, dan kol. Namun, usaha itu gagal karena harga sayur yang jatuh di pasaran.
Harapan baru muncul ketika istrinya mencoba membeli satu bal keripik singkong kiloan. Camilan itu dikemas dalam plastik kecil dan dititipkan ke sebuah warung. Tak disangka, keripik tersebut cepat habis dan mendapat pesanan ulang.
“Sejak itu saya serius menekuni usaha camilan. Awalnya pakai motor dengan keranjang, tapi lama-lama pelanggan makin banyak, jadi saya beli mobil tua bekas untuk kelancaran usaha,” katanya.
Setiap Selasa dan Kamis, Putu Arnaya bersama istrinya berkeliling mengantar camilan ke warung-warung kecil di sekitar desa. Produk mereka dijual dengan harga terjangkau, mulai Rp 9.000 per pak isi 12 bungkus.
“Kalau di warung, camilan cepat laku. Orang beli rokok atau kopi biasanya sekalian ambil keripik atau kacang,” kata Putu Arnaya.
Seorang pemilik warung, Komang Sri (30), mengaku senang menjadi langganan Dex Pande Cemilan. “Camilannya cepat habis. Menurut pembeli, harganya murah dan isinya lumayan banyak, jadi cepat laku di warung saya,” katanya.
Keripik singkong menjadi produk favorit, terutama di kalangan anak-anak sekolah yang sering membeli setelah pulang. Sementara kacang-kacangan lebih banyak dipilih orang dewasa sebagai teman minum teh atau kopi.
Camilan yang siap diantarkan ke warung-warung
Dari usaha sederhana ini, keluarga Putu Arnaya kini bisa meraup omset Rp 1–2 juta per minggu, jauh lebih besar dibandingkan saat awal berjualan dengan motor yang hanya sekitar Rp 500 ribu per minggu. Permintaan biasanya meningkat tajam menjelang hari raya Galungan dan Kuningan, hingga ratusan bungkus habis terjual.
“Kalau ramai, kami bisa kewalahan membungkus. Kadang pulang jualan langsung lanjut bungkus lagi karena pesanan terlalu banyak,” kata Ketut Partiani.
Meski kedua anaknya sudah bekerja, mereka tetap menyempatkan diri membantu setiap malam. Suasana rumah kembali ramai dengan canda dan tawa ketika semua berkumpul sambil membungkus camilan.
“Kalau ada waktu luang saya pasti ikut membantu. Rasanya lebih ringan kalau dikerjakan bersama-sama,” kata Putu Ekariani.
Adiknya, Kadek Hendriana, menambahkan, “Orang tua sudah membesarkan kami. Jadi walaupun capek pulang kerja, saya dan kakak tetap ingin membantu, walau sebentar.”
Kini Dex Pande Cemilan bukan sekadar usaha kecil, tetapi juga bukti kegigihan sebuah keluarga menghadapi kesulitan ekonomi. Putu Arnaya berharap usahanya bisa terus berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.
“Yang penting kami bisa bertahan dan memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau ada rejeki lebih, ke depan kami ingin punya toko kecil sendiri,” kata Putu Arnaya.[T]
Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
Reporter/Penulis: Putu Ayu Ariani Editor: Adnyana Ole
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...