Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
SIANG itu anak-anak mulai berdatangan ke Festival ke Uma V, di Subak Sidangrapuh, Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Tabanan, Minggu, 28 September 2025.
Mereka datang bergerombol. Sebelum melewati pintu masuk festival, sesekali mereka tersendat jalannya sebab harus mampir ke lelakut yang ada di depan pintu masuk itu karena rasa penasaran.
Mereka datang sebagai peserta Workshop Ecoprint yang akan dipandu Sri Utami dan Vita Wulansari, narasumber dari Institut Desain dan Bisnis Bali.
Di sebuah tenda dengan tiangnya terbuat dari bambu dan atapnya dari daun-daun kelapa, mereka—para peserta—segera mengambil duduk masing-masing di tempat itu selepas bosan menatap lelakut, dan memandangi indahnya gunung batukaru dari kejauhan.
Mula-mula, mereka dijelaskan tentang dunia fashion, dan hubungannya dengan lingkungan alam yang sehat. Melalui workshop Ecoprint, setidaknya anak-anak mengenal bagaimana pada sebuah busana, atau pakaian, sangat memiliki pengaruh besar pada mencipta lingkungan yang sehat atau buruk.
“Teknik Ekoprint berfungsi menjaga lingkungan, agar tidak tercemar (lingkungannya),” kata Vita Wulansari, saat memberikan materi.
Ecoprint (eco-printing) adalah teknik dalam mewarnai kain, dengan daun-daun dan atau bunga. mudah digunaan dalam membentuk daun atau bunga pada kain.

Selain menghasilkan warna serupa daun atau bunga, dengan ecoprint juga bisa menciptakan seratnya yang bagus nempel di kain, ya, tanpa mencemari alam sekitar.
Di tengah laku hidup—industrial yang cenderung abai pada kesehatan alam, juga tubuh manusia. Dalam prakteknya, ecoprint menjadi teknik handmade yang cukup mudah dan sederhana.
Sri Utami, narasumber ke dua, menjelaskan teknik dalam ecoprint itu sangatlah mudah. Setidaknya ada tiga teknik umum yang biasa digunakan dalam ecoprint.
Pertama, ada teknik pukul atau biasa juga disebut pounding. Caranya ialah, meletakan daun-daun atau bunga yang akan dijiplak di kain dengan rapi.
Kemudian tutup dengan plastik bening. Lalu pukul daun atau bunga yang sudah tertutup plastik itu dengan palu terbuat dari kayu, ya, dengan setengah tenaga (jangan sampai hancur objeknya, cukup agar nempel saja).
Selepas itu, diamkan. Untuk mengawetkan warna dan serat agar tak hilang, rendam kain itu beberapa detik pada air rebusan tawas. Lalu keringkan.
Kedua, ada teknik kukus. Teknik ini agak ribet, tapi sangat bisa menghasilkan hasil yang puas. langkahnya cukup letakan daun-daun atau bunga yang akan dijiplak warna dan seratnya.
Kemudian gulung dengan pipa atau kayu, atau apa saja yang penting tergulung dengan apik, lalu ikat kuat-kuat.
Setelah itu, kukus dan tunggu beberapa saat. Dan untuk mengawetkannya, bisa dicelupkan di rebusan air tawas. Kemudian keringkan.

Ketiga, yaitu teknik fermentasi. Caranya seperti teknik kukus, di mana daun-daun atau bunga ditata lalu digulung. Selepas itu, fermentasi bisa dilakukan dengan cara mendiamkannya beberapa waktu pada larutan air cuka.
“Tapi di workshop ini, para peserta akan belajar bagaimana memindahkan warna dan serat pada duan atau bunga, dengan teknik pukul,” lanjutnya.
Sebelum praktek, anak-anak ditugasi lebih dulu untuk mencari daun-daun atau bunga yang disukai. Lantas, para peserta segera berpencar mencari bunga dan daun-daun.
Mereka mencarinya di areal festival, dengan bonus pemandangan gunung dan hamparan sawah, agaknya suasana siang menuju sore itu menjadi waktu yang asik untuk bermain. Ada yang berlarian main kejaran. Ada main rebutan daun-daun dan bunga yang dipetik bersamaan. Hehe.
Beberapa waktu kemudian, selepas daun dan bunga didapat, mereka kembali ke tempat workshop. Di situlah mereka dibagikan totbag dengan tulisan besar “Festikal ke Uma V”.
Dibagi beberapa kelompok, perkolompak ada yang berjumlah lima orang, ada juga yang berenam. Satu kelompok diberika dua palu.
Ketika daun-daun ditata mereka, setelahnya dipukuli secara bergantian. Buk-buk-buk-buk…main pukul main warna.

Buk-buk-buk-buk…main pukul main warna.
Kain berwarna putih, pun lambat laun membercak warna daun dan bunga, serta seratnya. Senyum tak putus di antara mereka usai melihat hasil kerja timnya itu sangat bagus.
Mungkin beberapa di antara mereka sedikit gagal, tapi tak kalah indahnya, karena warna yang diciptakan sangat kontras walaupun tanpa serat daun.
“Kekencengan mukulnya,” kata salah satu peserta.

Di akhir, mereka dibagi masing-masing kelompok setengah botol plastik bubuk tawas, dan mengawetkan warna di rumah masing-masing. Ya, acara diabadikan dengan foto bersama, senyum bersama.
Sebelum pulang juga, mereka dibagikan totbag masing-masing orang satu, agar bisa praktek di rumah masing-masing. Asik. Hehe.
Selamat mencoba. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...