KEBAHAGIAAN kadang terasa seperti bayangan sendiri. Menjauh saat dikejar, terasa berjarak saat tubuh tidak bergerak. Pernyataan tersebut dikatakan oleh seorang teman setelah ia berhasil melalui berbagai masa sulit. Dikatakan kepada saya beberapa bulan yang lalu dan kembali terlintas dalam meditasi rutin yang saya lakukan di malam hari selepas praktik.
Saya bermeditasi rutin selepas praktik untuk membersihkan batin dari kotoran mental akibat cerita dari puluhan pasien dalam sehari. Seperti tenaga kesehatan yang mandi sepulang kerja, saya pun membersihkan diri dari “kuman” batin. Serpihan ingatan acak sering kali muncul dalam proses itu. Bisa jadi serpihan itu adalah masalah pasien yang terserap dan mengendap di alam bawah sadar saya. Salah satunya adalah renungan tentang hubungan antara kebahagiaan dan bayangan diri. Sebuah paradoks yang layak direnungkan lebih dalam.
Jika membandingkan kebahagiaan dan bayangan sendiri, bukankah itu adalah hal yang paradoks?
Bayangan adalah bagian dari diri yang tentu saja akan menjauh saat dikejar. Ia sejatinya tidak berjarak dengan manusia sebagai sumber bayangan. Mengejarnya hanyalah tindakan sia-sia karena memang ia akan selalu menjauh. Jika mengejar bayangan tetap dilakukan, anak kecil yang melihat pun akan tertawa.
Bagaimana dengan kebahagiaan? Bukankah sesuatu hanya dikejar jika berjarak, termasuk kebahagiaan? Jika sudah memilikinya, untuk apa mengeluarkan tenaga yang sia-sia? Apakah kebahagiaan selalu berjarak dengan manusia dan tidak dapat untuk diraih? Atau, kebahagiaan sejatinya memang tidak berjarak dengan diri sehingga usaha untuk meraihnya adalah tindakan bodoh? Berbagai pertanyaan tersebut terus beranak-pinak dan berkelindan. Mereka saling membantah hingga membuat frustrasi. Seperti yang sering saya temui di ruang-ruang profesional.
Apakah paradoks tersebut buntu tanpa pintu keluar? Mungkinkah paradoks itu sendiri adalah jawaban yang membebaskan? Untuk memperjelas kemungkinan tersebut, mari kita bahas perlahan.
Mulai dari pemahaman akan kebahagiaan. Masing-masing orang mungkin memiliki pendapatnya sendiri. Rasa senang dan puas akan hal konkret yang tercapai, bisa jadi adalah standar umum yang diterima banyak orang. Seperti keberhasilan finansial, cita-cita, pangkat dan jabatan, atau apapun yang menggairahkan untuk didapatkan. Gairah tersebut tentu saja hanya akan muncul jika ada jarak antara manusia dengan objek yang dikejar. Sesuatu akan menantang saat berjarak dan menggembirakan saat jarak ditaklukkan. Karena, apa menariknya mengejar sesuatu yang sudah dimiliki? Pemahaman ini mungkin akan relevan dengan ambisi manusia yang tak berujung akan target-target yang tak berpangkal. Dengan pemahaman ini pula, kebahagiaan memang tampak seperti mengejar sesuatu yang selalu menjauh. Sebab tanpa jarak, tak ada tantangan. Tanpa tantangan, tak ada pencapaian. Tanpa pencapaian, kebahagiaan tak terasa.
Tetapi, apakah jarak adalah syarat mutlak kebahagiaan? Bagaimana jika sejatinya, jarak tidak diperlukan sama sekali? Di mana jarak hanya ilusi yang memperkeruh batin?
Jika kita melihat dari sisi pengalaman batin, kebahagiaan sering dipahami sebagai hilangnya penderitaan. Keduanya tampak berseberangan. Kebahagiaan dicari saat penderitaan muncul. Saat kebahagiaan muncul dan bertahan lama, kondisi itu berakhir dengan kebosanan yang membuat derita. Ia memerlukan kebahagiaan baru sebagai jalan keluar. Karena penderitaan selalu muncul lagi saat kebahagiaan hilang. Tetapi, apakah itu penderitaan? Jangan-jangan, selama ini kita salah dalam memahami konsep penderitaan?
Jika memahami dengan konsep Buddhisme, akar penderitaan hanya satu: kelekatan. Kelekatan terhadap objek yang buruk akan menimbulkan penderitaan. Hal yang berkebalikan mungkin terjadi saat adanya kelekatan terhadap objek yang membahagiakan. Kebahagiaan akan muncul seketika. Namun ketidakkekalan adalah fakta yang tak terbantah. Segala sesuatu yang terkondisi–bahkan yang bersifat baik–pada akhirnya akan hilang. Saat kondisi yang membahagiakan pergi (entah karena objeknya hilang atau karena kebosanan), maka penderitaan akan muncul. Semua hanya dibedakan oleh waktu. Dari sudut pandang ini, cara terbaik untuk lolos dari penderitaan adalah dengan melepaskan kelekatan itu sendiri. Berhenti mengejar dengan menghilangkan kerakusan. Dengan hilangnya kelekatan, kebahagiaan sejati akan muncul bertahap dengan sendirinya. Karena kebahagiaan sejatinya memang ada di diri sendiri. Ia tidak berjarak.
Keinginan manusia yang tak terbatas membuat dunia tampak muram. Seperti yang dikeluhkan juga oleh Arthur Schopenhauer, dorongan yang tak henti terus melahirkan penderitaan. Saat keinginan tak terpenuhi, penderitaan muncul. Bahkan, saat keinginan sudah terpenuhi, keinginan lain akan muncul. Tanpa ujung dan hanya menghasilkan penderitaan baru. Penderitaan akibat manusia yang tak pernah puas. Dengan pesimisme Schopenhauer, jalan keluar bukanlah dengan menuruti kehendak, tetapi menolaknya. Pandangan ini dekat dengan Buddha yang mengajarkan padamnya keinginan, tetapi dengan tindakan yang menabrak dengan frontal. Karena menolak keinginan, menurut pandangan Schopenhauer, adalah satu-satunya jalan keluar dari penderitaan.
Keputusasaan Schopenhauer lalu ditertawakan oleh Friedrich Nietzsche. Bagi Nietzsche, hidup bukan untuk ditolak, tetapi untuk ditegaskan. Penderitaan adalah bagian dari kehidupan dan perlu diterima karena dari situlah justru kekuatan, kreativitas, dan keagungan manusia lahir. Nietzsche berbicara tentang kehendak manusia untuk berkuasa, bukan dalam arti menindas orang lain, tetapi lebih ke dorongan untuk mengatasi dan menguasai diri sendiri. Menguasai diri akhirnya berujung pada penerimaan atas segala sesuatu yang hadir. Alih-alih melarikan diri dari penderitaan dengan cara menolak secara frontal segala penyebab penderitaan (termasuk keinginan itu sendiri), Nietzsche mendorong kita untuk mengatakan “ya” pada segala hal yang terjadi pada hidup. Semuanya. Entah itu kebahagiaan, kesedihan, luka, ataupun kegagalan. Penderitaan–dan juga kebahagiaan–bukanlah musuh yang perlu dijauhi. Ia adalah teman perjalanan yang dapat membuat manusia mencintai hidup dan nasibnya, apapun yang terjadi. Gagasan yang juga dikenal dengan amor fati.
Secara implisif, amor fati juga hidup dalam tulisan-tulisan Albert Camus walaupun secara kasat mata ia mengeluhkan keabsurdan dunia. Di dunia yang absurd ini, manusia terus mencari makna tetapi semesta diam dan tak menjawab. Seperti cerita Sisyphus yang dihukum untuk terus mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya terguling lagi. Setelah batu terguling, ia harus kembali mendorongnya. Terus menerus tanpa henti. Seperti manusia yang mengejar bayangannya sendiri tanpa akhir.
Pertanyaan besarnya adalah: apakah kita harus menyerah pada absurditas ini? Jawabannya: tentu tidak!
Coba bayangkan Sisyphus merasa bahagia saat mendorong batu. Bukan saat batu tersebut berada di puncak gunung. Kebahagiaan yang seolah menertawakan keabsurdan hidup yang mencoba menghadirkan penderitaan. Hidup yang absurd bukan alasan untuk putus asa, melainkan alasan untuk memberontak dengan cara mencintai takdir yang tidak jelas. Tetap hidup sepenuhnya meski semesta tetap diam.
Tidak sekedar membayangkan mitos Sisypus, memeluk penderitaan pernah dilakukan langsung oleh Viktor Frankl. Ia adalah psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi. Dari pengalaman konkret itulah ia membawa filsafat penderitaan. Viktor Frankl menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana manusia dapat bertahan hidup dalam kondisi paling brutal. Bukan dengan kekuatan fisik, tetapi dengan menemukan makna dari penderitaan yang dipeluk. Harapan akan kebahagiaan dengan menolak penderitaan hanya akan membuat manusia semakin lemah. Daripada menghabiskan energi dengan menolak realitas, menciptakan makna dari setiap penderitaan yang diterima adalah jalan yang menyelamatkan. Hal ini juga bersinggungan dengan ajaran Buddha: kebebasan batin menjadi mungkin, bahkan ketika tubuh dan realitas terpenjara.
Dalam keheningan meditasi yang hanya terisi suara napas, pikiran saya dihampiri berbagai pandangan tersebut. Buddha berbisik bahwa penderitaan berakar dari kelekatan dan kebahagiaan sejati lahir dari pelepasan. Schopenhauer menimpali dengan nada muram. Ia berakhir dengan menolak semua kehendak sebagai asal mula penderitaan dengan frontal. Kemuraman itu dibantah oleh Nietzsche: fokus sebaiknya tidak tertuju pada penolakan akan hasrat sebagai pangkal penderitaan, tetapi melihat penderitaan sebagai medan untuk bertumbuh. Semangat serupa diserukan oleh Camus dengan cara mencintai absurditas meskipun tidak ada garansi bahwa semesta dapat memberikan makna. Frankl mengalaminya sendiri. Ia menegaskan: dalam situasi paling kejam sekalipun, manusia tetap bebas menemukan makna dan kebahagiaan dalam penderitaan–bahkan jika semesta tetap diam. Karena tetap mencintai kekinian yang absurd, tanpa harapan berlebihan akan masa depan, adalah cara bahagia paling sederhana.
Kesimpulan yang tak terkatakan muncul dalam perjalanan meditasi. Menghadirkan jalan tengah yang bukan sekadar menolak, menegaskan, ataupun memberontak. Melainkan melihat dengan jernih hakikat dari segala sesuatu yang terkondisi: tidak kekal, tanpa inti, dan tak mampu memberi kebahagiaan sejati. Memahami dan mengalami konsep ini secara menyeluruh melalui kontemplasi di setiap ritme napas meditasi pelan-pelan menghadirkan titik keseimbangan yang sesungguhnya. Berhenti menggenggam dan membiarkan batin menjadi jernih apa adanya. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...