Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
POTRETNYA tampilkan wajah serius, tanpa senyum. Berkacamata tebal, rambut berminyak belah pinggir. Jas berdasi. Begitulah tampilan umum sang arsitek kebudayaan Bali, Prof. IB Mantra. Lengkapnya, Ida Bagus Mantra. Sekilas terlihat citra yang memadukan cendekia dan birokrat. Tak ada tampang politisi. Sepanjang hidupnya diabdikan untuk pemajuan kebudayaan, khususnya Bali. Baginya, kebudayaan merupakan pangkal pembangunan. Cara pandang tak biasa di zamannya. Barangkali beliau sepandangan dengan Soedjatmoko: manusia dan kebudayaan itu penting dalam pembangunan.
Beliau kelahiran Badung, 1928 lampau. Sedari kecil hidupnya kental dengan suasana spiritual. Fondasi religius menjadi penuntun hidupnya. Di Makassar, beliau mendalami sastra Timur (1949), kemudian berlanjut ke India, di Visva-Bharati University, Santiniketan. Kampus yang dibangun Rabindranath Tagore, tokoh kebangkitan budaya India. Perjalanan belajarnya ini kemudian memperkuat pemahamannya ihwal harga diri sebuah bangsa.
Kembali ke Indonesia, mudik ke kampus. Sempat mengajar di Universitas Indonesia, kemudian bertahap bangun pilar-pilar kebudayaan di Bali. 1958, beliau bergiat bangun Fakultas Sastra Udayana. Harapannya, fakultas tersebut nantinya menginspirasi penggalian dan mempertahankan kebudayaan Bali. Kemudian dari Dekan bergeser ke Rektor Universitas Udayana (1965-1968).
Beliau juga mencetuskan Institut Hindu Dharma (1963, kini Universitas Hindu Indonesia). Beliau juga turut aktif pendirian Parisada Hindu Dharma Bali (1959, cikal bakal Parisada Hindu Dharma Indonesia). Beliau berusaha mewujudkan gagasannya ke dalam kerja nyata. Beliau arsitek kebudayaan, bukan politisi.
Inti pemikiran Ida Bagus Mantra sederhana tapi menarik. “Orang Bali harus menyadari harga dirinya.” Orang Bali, menurutnya, harus menjaga harga diri ditengah terjangan arus budaya Barat. Semua pihak perlu terlibat aktif merawat budaya Bali.
Menurutnya, landasan kebudayaan terletak pada fondasi agama, seni, budaya, bahasa, dan ekonomi. Bagi pendukung pembangunan developmentalis, ekonomi yang utama. Tetapi bagi Prof. IB Mantra hierarki dibalik, ekonomi di urutan ujung, budaya dan spiritual yang utama.
Beliau juga mengembangkan konsep dinamis kebudayaan Bali, yakni taksu dan jengah. Taksu mewakili kekuatan batin. Taksu memberi kecerdasan, keindahan, dan mukjizat. Esensi sakral, membuat sebuah karya lebih dari sekadar urusan teknis. Sementara jengah adalah semangat bersaing. Jengah bertujuan menumbuhkan karya budaya bermutu karena ada semangat berkompetisi. Jengah mewakili kekuatan dinamis. Taksu dan jengah saling melengkapi. Keduanya menjadi pegangan untuk harga diri. Berpedoman pada konsep itu, budaya dapat hidup, berkembang, serta bermartabat. Cara pandang tersebut dibawanya ketika berada di pemerintahan.
Ketika di posisi Direktur Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, beliau tetap aktif memajukan Bali. Beliau turut pendirian Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI, kini ISI Denpasar). Dibangun pula Pusat Kebudayaan Bali, Werdhi Budaya (Art Center Denpasar). Juga dukung pembangunan dan renovasi sejumlah pura.
Prof. IB Mantra saat menjadi Gubernur Bali juga menggulirkan kebijakan pemajuan kebudayaan Bali. Pemerintah Bali mencetuskan Pesta Kesenian Bali (PKB, 1979). Festival budaya tahunan ini hadirkan dinamika budaya Bali. PKB pun menjadi ajang motivasi berkarya, hingga kini. Untuk ekonomi akar rumput, beliau dukung pendirian Lembaga Perkreditan Desa (LPD), untuk meningkatkan standar hidup krama. LPD ada di tingkat desa adat, langsung bersentuhan dengan institusi budaya dan agama.
Ida Bagus Mantra, seorang cendekiawan sekaligus birokrat. Institusi yang didukungnya menjadi pilar-pilar kebudayaan di Bali. Hingga kini pilar-pilar itu terus berkembang untuk pemajuan budaya dan agama. Pemikirannya terus bergerilya di benak cendekiawan, rohaniwan, birokrat, pelaku budaya, dan masyarakat. Pemikirannya dan kerja nyatanya terus tumbuhkembang di abad digital ini. Warisan filosofisnya terus mengalir, seperti air sungai yang menelusuri berbagai penjuru. Beliau akan selalu menjadi teladan, di Bali maupun Indonesia. [T]
Kepustakaan
Mantra, IB, 1993. Bali: Masalah Sosial Budaya dan Modernisasi. Upada Sastra: Denpasar.
Sukarma, I Wayan, 2013. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra: Membangun Harga Diri Orang Bali. sukarma-puseh.blogspot.com.
WN, 2015. Seri Tokoh Sejarah: Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. kebudayaan.kemdikbud.go.id.
Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...