JALAN panjang itu akhirnya sampai di sini. Jalan yang dimulai dari sebuah sekolah kecil di Singaraja pada 1967—PGAHN Singaraja—yang kala itu hanya menjadi tempat para calon guru agama Hindu belajar, kini telah bertransformasi menjadi sebuah Insitut yang berdiri tegak, membawa nama seorang maharsi yang melegenda, Mpu Kuturan.
Bukan sekedar pergantian nama, melainkan titik perjalanan sejarah, pergulatan aspirasi, dan upaya panjang masyarakat akademik Bali utara agar bisa mandiri dalam mengelola pendidikannya.
PGAHN pernah menutup pintunya pada 1993 karena kebijakan pemerintah yang menuntut guru berpendidikan minimal sarjana. Namun, semangatnya tidak ikut padam. Sekolah itu beralih rupa menjadi Kampus II Akademi Pendidikan Guru Agama Hindu Negeri (APGAHN) Denpasar, lalu ikut dalam transformasi menjadi STAHN Denpasar, kemudian menjadi bagian dari IHDN Denpasar.
Meski begitu, jarak 80 kilometer dari Denpasar membuat mahasiswa, dosen, dan pegawai di Singaraja harus bersabar menempuh birokrasi yang terasa terlalu jauh. Harapan untuk berdiri sendiri terus digumamkan—di ruang dosen, koridor, bahkan di upacara-upacara kampus.
Penancapan kayon
Akhirnya doa itu terjawab sudah, pada 27 Januari 2016, izin pendirian STAHN Mpu Kuturan disetujui Kementrian PAN-RB. Dua bulan kemudian, 22 Maret 2016, Menteri Agama meresmikannya. Sejak saat itu, Singaraja memiliki sekolah tinggi agamanya sendiri. Dan di detik ini, tinta emas di torehkan di atas batu, STAHN Mpu Kuturan resmi bertransformasi menjadi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan—atau sering dikenal sebagai IMK.
Sabtu, 20 September 2025, langit Banyuning memantulkan cahaya matahari yang garang. Jalan raya Gempol Banyuning dihiasi spanduk-spanduk kecil yang memberi isyarat bahwa akan tercatat sejarah yang tidak biasa. Ribuan mahasiswa berbaris dan memenuhi gedung jurusan, sebagian mengenakan kemeja putih bersih dan sebagian mengenakan kaos bertuliskan IMK, siap menyambut kedatangan tamu negara.
Pukul 13.20 siang, panas terasa menyengat, tapi tidak melunturkan semangat para mahasiswa, gamelan beleganjur sudah berbunyi, gong dan kendang berpadu dengan suara teriakan yel-yel mahasiswa yang menggema. Di panggung terbuka yang dihiasi dengan tanaman hijau dan dua videotron di kanan dan kiri, suasana menjadi semakin meriah ketika rombongan pejabat mulai berdatangan—gubernur yang diwakilkan, beberapa bupati dari berbagai daerah, Dirjen Bimas Hindu, dan tentu saja tamu yang paling ditunggu, Menteri Agama RI, Prof.Dr.K.H.Nasaruddin Umar, M.A.
Tari pendet dari UKM Tari menjadi suguhan, penari-penari itu menaburkan bunga seakan memberi restu bagi babak baru yang akan dimulai. Disusul dentuman beleganjur yang menegaskan bahwa ini menjadi hari kemenangan dari sebuah perjuangan panjang untuk menjadi mandiri.
Rektor IAHN Mpu Kuturan, Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A., berdiri di panggung terbuka. Suaranya lembut dengan sarat menggebu. “Institut ini membawa nama orang suci, seorang tokoh yang menata kembali kehidupan sosial, moral, dan spiritual Bali berabad-abad lalu. Mpu Kuturan bukan sekadar nama, tetapi tanggung jawab,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa tugas utama Institut ini bukan hanya melahirkan sarjana. “Kami diberi mandat untuk menjadi penjaga peradaban Bali, visi kami jelas: Unggul, Bermartabat, Berkarakter Tri Kaya Parisudha. Dengan moto cahaya ilmu menerangi peradaban. Ilmu pengetahuan saja tidak cukup, ia harus ditemani nilai spiritual dan etika,” katanya.
Dengan tema launching Go Green, Grow Wisdom. Rektor menyebut konsep ini sebagai “Green, Art, Smart, Spiritual” yang disingkat GASS. Tagline yang ringan diucapkan tetapi mengemban banyak makna.
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar di IAHN Mpu Kuturan
Menteri Agama kemudian naik ke panggung. Kalimatnya menancap di ingatan. “Agama Hindu adalah ajaran universal. Sekolah tinggi itu hanya seperti kolam, institut seperti danau, dan universitas seperti samudra. Ajaran universal seperti Hindu seharusnya diwadahi oleh samudra, bukan hanya sekedar kolam empang.”
Itu ujaran yang cukup nyelekit untuk membuat seluruh civitas akademika bersorak. Seolah membuat janji masa depan. “Ke depan, kita berharap datang lagi untuk meresmikan IMK menjadi universitas, dan dari kampus ini, kita tidak hanya melahirkan ilmuwan, tetapi kecendikiawan—mereka yang mengabdi pada ilmu sekaligus pada kemanusiaan,” lanjutnya.
Acara kemudian mencapai puncaknya dengan penancapan kayonan sebagai simbol transformasi, dan tinta emas di atas plakat batu sebagai penanda resmi, STAHN kini telah sah menjadi IAHN Mpu Kuturan. Tepuk tangan membahana, mahasiswa berpelukan, dosen tersenyum lega. Sebuah wacana yang sejak 2022 hanya menjadi harapan, kini terwujud di hadapan mereka.
Ketika acara usai sudah, spanduk-spanduk yang tertiup angin sendu, matahari mulai condong ke barat, suasana hati para civitas akademika tetap terang. Mereka tahu, hari ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Selamat untuk IMK, GASS!, GASS!, GASS! [T]
Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra Editor: Adnyana Ole
Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan ap...
Judul Buku: Cupak Tanah – Enam Naskah Drama
Pengarang : Putu Satria Kusuma
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : xvi + 216 halaman
ISBN :978-60...
Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa,...
SETIAP zaman punya ciri khasnya masing-masing. Zaman kita saat ini adalah zaman ‘dunia maya’. Dan, setiap zaman selalu melahirkan sejumlah konflik. Zaman kita sekarang ini melahirk...
Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bida...
KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?
"Untuk memenuhi ras...
Bali memahami konflik dengan sangat bijaksana. Ia adalah konsep rwa binedha, pertentangan yang menjadi satu, pertentangan yang melahirkan dinamika dan keberlangsungan hidup.
Ada ru...
Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH - ESAI-ESAI KURATORIALSENI RUPAPenulis: HardimanPenerbit: Mahima Institute IndonesiaTebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5 Buku Eksplo(ra)si Tub...
Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : x + 288 halaman
ISBN :978-602-18311-...
Berbahagia sekali saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, kemudian tadi pagi masih berak dengan lancar, dan menyusun pidato ini dengan keadaan suhu tubuh serta kejiwaan yang n...