Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
dalam detak mimpi sebuah laut
kau haus akan angan-angan
yang kusebut sebagai bangunan megah
di tengah malam pasir tadi beriak
bertebaran, seperti anak panah
mata harus membidik kuat-kuat, kau tahu
sendiri itu tega
ketika cahaya sayup-sayup membasahi segala
kegelapan: ibu yang patuh, menidurkan anak-anak
kesalahan membuatnya tenang di sepanjang aku
seperti warna langit
mengikuti kau mencengkeram kuat
senja yang menginginkan timang-timang
melupakan rasa sakit di kediaman
seakan tuli, ibu membungkam telinga sebagian
dari ayah yang hilang, ibu—anak mengumpat sendirian
senja yang mati
menolak didengarkan
aku menemukan asal muasal berubah
menjadi mata: membaca keluhan ibu
bertumpuk di suara buku-buku
yang di jauhan
mulai menerima kenyataan
lembar itu tertutup. rapat-rapat
ketika angin meniup mimpi burukku
kau menyentuh cahaya seutuhnya
aku ingin
kau mencumbuku dalam kebencian
sebagai musuh yang kuharap; yang kuratap, bisa menulismu dalam sejarahku. dan kau mulai belajar mengingat
kita menjerat dengan tali yang telah kita simpul sendiri
sesaat menghirup aroma kematian
dan bermain seperti anak-anak
—untuk sekadar melarikan diri
lalu kita masih belum memiliki petunjuk
mengapa kehidupan berakhir untuk sebuah kelahiran yang baru
atas segala kemalangan yang menimpa; kita berbicara, dengan bibir yang dijahit rapi
demi membungkam sebuah diam
untuk ditukar (dengan kebebasan)
Kepada langit, asap itu perlahan mengudara
Mengembus tulisanmu, tulisanku
Mengisap ingatanmu, ingatanku
Mengepul jejak perempuan muda sedang teraniaya, kesepian
Rupa-rupanya kediaman ini menjejal mengikuti kepedihan yang bersarang
Pelangi tak mampu menghentikan nalar
Keinginanku, untuk terus memaksa keberadaanmu
Sesekali aku ingin selalu mengenang
Hari-hari tanpa patah hati
Kota ini adalah tempat kepada seseorang yang sedang bersemayam
Di dalam lukaku, kesembuhanmu
Mungkin saja orang-orang di kepalaku membeku─setelah (mencair)
Aku hanya bisa berdoa sepanjang malam menunda kematian
Kepadaku ia lantang: seperti terbakar
Tetapi yang tersisa hanyalah selongsong ketakutan
kau bangun rumah-rumah
bagi akar ranting kehidupan
dan dahan berserakan
tertiup badai
terempas gugur, daun terbang (menghilang)
kau bangun rumah-rumah
bagi pundak-kaki-tangan
yang patah
yang parau
yang terseok mencari (jalan pulang)
kau bangun rumah-rumah
bagi aku
bagi riak muka
bagi raut mata yang beku
bagi seluruh nyeri
dan jiwa yang tersesat enggan mencari
kusebut kau rumah
bagi teduh yang hilang
bagi terik dan bayang-bayang
bagi aku yang tak apa
bagi puisi
bagi kupu-kupu
yang berhambur dalam tiap inci nadi
kusebut kau rumah
dengan atap gemintang
dengan suara tangis memilukan
dan riuh tawa pecah di tiap sudut ruang
kusebut kau rumah
yang dingin
yang hangat menyilaukan
yang menggenggam aku (yang memelukmu)
dan tak seorang pun tahu
kita bangun rahasia
kepada tiang penyangga rumah kita
beralas kerikil—duri
berselimut angin porak-poranda
di dalam matamu yang tajam
aku ada (aku meminta)
jangan sesekali terpejam
sebab hanya di sana
satu-satunya tempat (kuingin bermuara)
Ia menenun selembar kain untuk mengusap air matanya sendiri
Mengalir dari pelipis, menuju dada yang sesak, lalu bermuara di gelombang air laut
Ia menciptakan bahu dari kekuatannya sendiri
Untuk bersandar
Dan menangis sejadi-jadinya tanpa terdengar
Ia melukis laki-laki paruh baya di kepalanya sendiri
Untuk berlabuh
Seiring matahari tenggelam
Dibenamkan pula luka-lukanya yang tak pernah sembuh
.
Penulis: Via Firdhayanti
Editor:Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...