Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
dalam detak mimpi sebuah laut
kau haus akan angan-angan
yang kusebut sebagai bangunan megah
di tengah malam pasir tadi beriak
bertebaran, seperti anak panah
mata harus membidik kuat-kuat, kau tahu
sendiri itu tega
ketika cahaya sayup-sayup membasahi segala
kegelapan: ibu yang patuh, menidurkan anak-anak
kesalahan membuatnya tenang di sepanjang aku
seperti warna langit
mengikuti kau mencengkeram kuat
senja yang menginginkan timang-timang
melupakan rasa sakit di kediaman
seakan tuli, ibu membungkam telinga sebagian
dari ayah yang hilang, ibu—anak mengumpat sendirian
senja yang mati
menolak didengarkan
aku menemukan asal muasal berubah
menjadi mata: membaca keluhan ibu
bertumpuk di suara buku-buku
yang di jauhan
mulai menerima kenyataan
lembar itu tertutup. rapat-rapat
ketika angin meniup mimpi burukku
kau menyentuh cahaya seutuhnya
aku ingin
kau mencumbuku dalam kebencian
sebagai musuh yang kuharap; yang kuratap, bisa menulismu dalam sejarahku. dan kau mulai belajar mengingat
kita menjerat dengan tali yang telah kita simpul sendiri
sesaat menghirup aroma kematian
dan bermain seperti anak-anak
—untuk sekadar melarikan diri
lalu kita masih belum memiliki petunjuk
mengapa kehidupan berakhir untuk sebuah kelahiran yang baru
atas segala kemalangan yang menimpa; kita berbicara, dengan bibir yang dijahit rapi
demi membungkam sebuah diam
untuk ditukar (dengan kebebasan)
Kepada langit, asap itu perlahan mengudara
Mengembus tulisanmu, tulisanku
Mengisap ingatanmu, ingatanku
Mengepul jejak perempuan muda sedang teraniaya, kesepian
Rupa-rupanya kediaman ini menjejal mengikuti kepedihan yang bersarang
Pelangi tak mampu menghentikan nalar
Keinginanku, untuk terus memaksa keberadaanmu
Sesekali aku ingin selalu mengenang
Hari-hari tanpa patah hati
Kota ini adalah tempat kepada seseorang yang sedang bersemayam
Di dalam lukaku, kesembuhanmu
Mungkin saja orang-orang di kepalaku membeku─setelah (mencair)
Aku hanya bisa berdoa sepanjang malam menunda kematian
Kepadaku ia lantang: seperti terbakar
Tetapi yang tersisa hanyalah selongsong ketakutan
kau bangun rumah-rumah
bagi akar ranting kehidupan
dan dahan berserakan
tertiup badai
terempas gugur, daun terbang (menghilang)
kau bangun rumah-rumah
bagi pundak-kaki-tangan
yang patah
yang parau
yang terseok mencari (jalan pulang)
kau bangun rumah-rumah
bagi aku
bagi riak muka
bagi raut mata yang beku
bagi seluruh nyeri
dan jiwa yang tersesat enggan mencari
kusebut kau rumah
bagi teduh yang hilang
bagi terik dan bayang-bayang
bagi aku yang tak apa
bagi puisi
bagi kupu-kupu
yang berhambur dalam tiap inci nadi
kusebut kau rumah
dengan atap gemintang
dengan suara tangis memilukan
dan riuh tawa pecah di tiap sudut ruang
kusebut kau rumah
yang dingin
yang hangat menyilaukan
yang menggenggam aku (yang memelukmu)
dan tak seorang pun tahu
kita bangun rahasia
kepada tiang penyangga rumah kita
beralas kerikil—duri
berselimut angin porak-poranda
di dalam matamu yang tajam
aku ada (aku meminta)
jangan sesekali terpejam
sebab hanya di sana
satu-satunya tempat (kuingin bermuara)
Ia menenun selembar kain untuk mengusap air matanya sendiri
Mengalir dari pelipis, menuju dada yang sesak, lalu bermuara di gelombang air laut
Ia menciptakan bahu dari kekuatannya sendiri
Untuk bersandar
Dan menangis sejadi-jadinya tanpa terdengar
Ia melukis laki-laki paruh baya di kepalanya sendiri
Untuk berlabuh
Seiring matahari tenggelam
Dibenamkan pula luka-lukanya yang tak pernah sembuh
.
Penulis: Via Firdhayanti
Editor:Adnyana Ole
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...