Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PUKUL DUA SIANG, 20 September 2025, di sebuah ruang yang sejak lama akrab dengan pertemuan gagasan di Komunitas Utan Kayu, orang-orang datang untuk menyimak percakapan “Jejak Sains dalam Puisi.”
Di sana, Ayu Utami, novelis dan esais yang juga salah satu punggawa komunitas tersebut, duduk bersama Esha Tegar Putra, penyair sekaligus pengamat sastra, menautkan suara pada dua buku puisi: Sehelai Bulu Kosmos karya Alpha Hambali dan Alelopati karya Stebby Julionatan.
Sebagai pemandu, Ayu Utami membuka sesi dengan menggarisbawahi posisi sains dalam kancah puisi yang kerap terjebak dalam kerangkeng dikotomi, antara logika dan imajinasi, antara eksak dan estetik. Ia mengingatkan bahwa sejarah sastra Indonesia sebenarnya telah melewati perjumpaan semacam itu. Pada era 1960-an, misalnya, Subagio Sastrowardoyo pernah menulis puisi tentang bulan, yang lahir dari pengaruh kuat sistem politik Perang Dingin dan pencapaian teknologi ketika manusia berhasil mendarat di bulan.
“Puisi Subagio waktu itu memperlihatkan bagaimana politik dan sains bisa menjadi latar yang menyalakan inspirasi puitik. Artinya, puisi dan sains tak perlu dipertentangkan, justru bisa saling mengisi,” ujar Ayu.
Dari titik pembuka itulah, giliran Esha Tegar masuk dengan ulasannya tentang dua buku yang sedang dibicarakan. Ia membentangkan pandangannya tentang buku Sehelai Bulu Kosmos terbitan Edisi Mori yang mengolah tubuh hingga melebur dalam kosmos, dan buku Alelopati terbitan Elex Media Komputindo yang menghadirkan tubuh konkret, intim, bahkan marginal.
Lewat pembacaan kritis, Esha menekankan bahwa meski sama-sama bersinggungan dengan jejak sains, keduanya menempuh jalur berbeda: Alpha dengan pendekatan yang kosmik, sementara Stebby dengan corak progresif yang menubuhkan pengalaman sosial. Menebalkan bagian itu, Ayu Utami pun menandai perbedaan jalur estetik kedua penyair. “Kalau Stebby lebih modern, Alpha ini post-modern. Alpha mendekonstruksi tubuh, sementara Stebby berbicara,” tambahnya, membuka horizon bagi perbandingan kritis antara keduanya yang kemudian diundang masuk dalam stage.
Esha Tegar lantas membedah Dalam Sehelai Bulu Kosmos, yang menurutnya menghadirkan tubuh bukan sebagai jasad biologis, melainkan sebagai pintu masuk menuju jagat raya. Di mana hampir semua sajak Alpha memanfaatkan bagian tubuh manusia, namun tubuh itu dengan cepat menjelma wujud lain, bergonta-ganti menjadi binatang, tumbuhan, bahkan organisme bersel satu.

Tubuh dalam puisi Alpha adalah entitas kosmik: cair, asing, dan sulit diklasifikasi. Ia bisa muncul sebagai vertebrata lalu tiba-tiba menjadi amoeba, atau berangkat dari jaringan tumbuhan lalu meledak bersama bintang mati.
“Saya kemudian membiarkan subjek yang mempunyai wujud asing, bagian tubuh-tubuh asing, dalam sajak Alpha itu sebagai ‘makhluk’ saja, ia makhluk hidup yang menggeliat dalam semesta atau jagad raya dengan keluasan misterinya,” dedah Esha yang selanjutnya menukil sajak Sumur Energi sebagai penegasan:
“/Aku raba ujung bulu tipis penuh/ cahaya yang tumbuh di lehermu. Ada bintang jatuh
yang segera kusingkap ke balik kabut di/ sebuah bukit. Kugenggam ekornya dan/
kuterbarkan di kelaminmu supaya intimu/ bercahaya dengan berbagai warna/.”

Bagi Esha, Alpha mengajak pembaca melampaui batas tubuh, membiarkannya bertransformasi menjadi bagian dari kosmos, sehingga pengalaman membaca berubah menjadi pengalaman imajinatif yang penuh keasingan. Jika Alpha bergerak ke kosmos, Stebby Julionatan justru menjejak ke bumi. Dalam Alelopati, tubuh hadir sebagai sesuatu yang konkret dan sosial, sering kali berada di posisi marginal. Esha menegaskan bahwa aku-lirik Stebby berbicara tentang tubuh yang dipinggirkan oleh keluarga, teman, institusi negara, bahkan agama.
“Aku-lirik Stebby berangkat dan bercerita tentang tubuh yang konkret. Ia banyak bercerita hal-hal intim tentang tubuh atau semacam identitas yang dimarginalkan oleh segala sesuatu yang berada di sekelilingnya.”
Meskipun judul Alelopati berangkat dari istilah biologi, muatan puisinya lebih dekat pada kritik sosial dan kemanusiaan. Citra yang biasanya indah, seperti kupu-kupu, dipelintir menjadi tanda duka:
Stebby juga berani memasukkan elemen keseharian yang kerap dianggap tidak puitis mulai dari gim Mobile Legend hingga marketplace Tokopedia sebagai siasat untuk menubuhkan puisi pada realitas mutakhir. Pilihan ini menunjukkan keberanian menabrak batas bahasa puitik konvensional, sekaligus mendekatkan puisi pada denyut hidup hari ini.

Lebih jauh, puisi dalam Alelopati juga melontarkan kritik sosial dan spiritual. Dalam Kandang Sirkus, tubuh digambarkan sebagai mainan negara yang terperangkap dalam kerangkeng. Sementara dalam Perihal Ibadah, ia menyinggung sejarah rezim keimanan yang pernah memandang ilmu sebagai candu:
“Ada masa terang disebut kegilaan.”
Bagi Esha, di sinilah paradoks sekaligus kekuatan puisi Stebby: anasir yang seharusnya indah justru diolah menjadi sesuatu yang memilukan, membuka ruang tafsir yang getir sekaligus reflektif.
Selain Ayu Utami, Esha Tegar Putra, dan Stebby Julionatan yang merupakan anggota Alinea, hadir pula Debra H. Yatim, Danny Yatim, Pratiwi Juliani, dan Deasy Tirayoh yang turut menyemarakkan ruangan untuk merayakan kelahiran kedua buku puisi tersebut.
Suasana kian hidup ketika dua murid Stebby dari SMA Asisi, Olin dan Fezel, tampil membacakan puisi. Olin membawakan Sehelai Bulu Kosmos karya Alpha Hambali, sementara Fezel memilih Meja Makan karya Stebby. Dari sana, keduanya tidak berhenti pada pembacaan, melainkan memantik tanya yang khas namun tetap kritis.

Olin, dengan nada penasaran, menanyakan kepada Alpha mengapa memilih bulu sebagai perumpamaan dalam puisi kosmiknya? Pertanyaan itu dijawab Alpha dengan cara yang filosofis: Apa pun yang ada di semesta ini sesungguhnya memiliki bulu. Pertanyaannya, siapakah yang bisa mengklaim bahwa bulu hanya milik makhluk tertentu?
Bagi Alpha, bulu adalah simbol yang melampaui bentuk fisik; ia adalah metafora universal yang dapat melekat pada segala sesuatu, baik tubuh manusia, hewan, tumbuhan, bahkan pada fenomena kosmik. Dengan demikian, bulu dalam puisinya bukan sekadar objek, melainkan tanda yang membuka kemungkinan tafsir tak terbatas.
Sementara itu, Fezel melanjutkan dengan pertanyaan yang diarahkan pada Stebby: apakah isu tubuh marginal yang ia angkat merupakan sebuah batasan tema, atau justru perluasan menuju pelbagai bentuk diskriminasi lain? Ia bahkan menautkannya dengan pengalaman diskriminasi berbasis warna kulit di sejumlah negara, menandai bahwa pembacaan atas puisi Stebby dapat merambah konteks yang lebih global.
Menanggapi hal itu, Stebby mengakui bahwa ia tak pernah menutup puisinya pada satu horizon tunggal. “Biarlah pembaca menggunakan bait-bait itu sebagai medium untuk kegetiran apa pun,” ucapnya, seolah membiarkan puisinya hidup di tubuh siapa saja. Baginya, puisi adalah ruang dialog, ruang dialektika yang berlapis.
Dalam proses Stebby, ia mencoba menyelaraskan isu dengan pengucapan puitik lewat tokoh-tokoh yang dipilihnya untuk memapah, menuntun isu diskriminasi agar dapat bersuara dengan cara yang lebih manusiawi. Dengan begitu, puisi-puisinya terbuka untuk dipinjam oleh siapa pun yang pernah mengalami penyingkiran karena tubuhnya, keyakinannya, atau bahkan warna kulitnya.
Tidak berhenti pada buku puisi semata yang dibicarakan sore itu, melainkan juga cara kita menatap puisi hari ini. Menjelang penutupan diskusi, Ayu Utami menyampaikan bahwa rangkaian pertanyaan dari murid, jawaban yang ditenun penyair, hingga tafsir yang dipaparkan pengulas, semuanya menjalin satu lanskap: puisi tidak pernah diam. Ia senantiasa bergerak, mencari tubuh baru untuk ditinggali.

Komunitas Utan Kayu dalam hal ini hadir sebagai medium, sebuah ruang kolektif yang mengalirkan energi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sanalah puisi belajar bernafas bersama, bergeser dari suara Alpha ke suara Stebby, dari tafsir Esha ke pertanyaan Olin dan Fezel, dari para anggota Alinea hingga audiens yang menyimak, merayakan, dan barangkali kelak menuliskan sajak pertamanya sendiri.
Maka, yang tersisa dari jejak sains dalam puisi sore itu bukan sekadar catatan diskusi, melainkan kesadaran sederhana: setiap pertemuan sastra adalah ikhtiar untuk menjaga agar puisi tetap bergerak, tetap hidup, dan terus beresonansi di tubuh siapa pun yang bersedia menampungnya. [T]
Penulis: Tim Publikasi ALINEA
Editor: Adnyana Ole
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...