“MERDEKA! Merdeka! Merdeka!” teriak arek-arek Suroboyo setelah berhasil merobek bendera Belanda yang berkibar di atap Hotel Majapahit Surabaya. Teriakan tersebut disambut oleh rakyat yang memadati Jalan Tunjungan. Teriakan-teriakan itu cukup membuat bulu lengan berdiri.
Sesaat setelah aksi heroik itu membuat ribuan warga terpukau, lagu Gugur Bunga karya Ismail Marzuki mengalun memenuhi telinga semua orang. Suasana yang berapi-api itu seketika berubah menjadi sendu. Pasalnya, salah seorang pejuang yang ikut andil dalam peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Cak Sidik, gugur ditembak Sekutu. Seorang perempuan muda terharu melihat adegan tersebut.
Di atas merupakan sedikit gambaran adegan teatrikal kolosal bertajuk “Surabaya Merah Putih” yang digelar Pemerintah Kota Surabaya, Minggu (21/9/2025) pagi di kawasan Hotel Majapahit—dulu bernama Hotel Oranje sebelum berubah nama menjadi Hotel Yamato pada masa penjajahan Jepang. Teatrikal itu merupakan refleksi perobekan bendera di Hotel Yamato 19 September 1945 silam. Hampir setiap tahun Pemkot Surabaya mengenang peristiwa tersebut dengan menampilkan drama teatrikal dan termasuk dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat berperan menjadi Residen Soedirman dalam drama teatrikal "Surabaya Merah Putih" | Foto: Dinas Komunikasidan Informatika Surabaya
“Ini kali kedua saya menyaksikan teatrikal perobekan bendera. Sangat ikonik, refleksi peristiwa sejarah ini juga memupuk rasa nasionalisme,” kata Rosi, warga Surabaya. Perempuan 30 tahun itu tak dapat menyembunyikan rasa harunya saat lagu Gugur Bunga diperdengarkan.
Meski tak sempurna, konsep drama teatrikal ini bukan sekadar drama sejarah yang direkonstruksi, melainkan karya seni kolaboratif yang menyatukan berbagai elemen: teater, tari, musik, puisi, seni instalasi, parade sepeda kuno, bahkan warga biasa sebagai pemeran, bukan aktor profesional. Sekira 1.000 pemain terlibat, dari pelajar SD/SMP, mahasiswa, komunitas budaya, veteran, seniman lintas disiplin, hingga Forkopimda.
Adegan perobekan bendera Belanda di atap Hotel Yamato dalam drama teatrikal "Surabaya Merah Putih" | Foto: Dinas Komunikasi dan InformatikaSurabaya
Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, pihak yang ditunjuk untuk merancang skenario agar terasa hidup, menggunakan skenografi lawas (“ludrukan Surabaya lawasan”), pakaian tradisional, ornamen kota lama, sepeda ontel, serta instalasi yang membangkitkan suasana Surabaya tahun 1945.
Ada bagian yang sangat ditunggu, yakni adegan negosiasi dengan tokoh Belanda W.V.C. Ploegman, pengacara pro-Belanda, yang menolak tuntutan rakyat Surabaya agar menurunkan bendera Belanda dari Hotel Yamato. Kemudian puncak dramanya, pemuda Surabaya, dengan tangga bambu, memanjat Hotel Yamato, menurunkan bendera Belanda, merobek bagian warna birunya, dan mengibarkan sang Saka Merah Putih.
Drama teatrikal "Surabaya Merah Putih" | Foto: DinasKomunikasi dan Informatika Surabaya
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi rupanya turut serta dalam pementasan ini. Ia berperan sebagai Residen Soedirman, bukan hanya hadir sebagai pejabat. Keikutsertaannya seolah menandakan bahwa pemimpin kota juga harus ikut merasakan dan membawa kisah sejarah itu ke hadapan publik.
"Di balik menara bendera, kami tidak goyah berdiri karena semangat bersatu, tekat menyala, harga diri terlalu mahal untuk ditukar. Arek Suroboyo tahu mati lebih baik daripada dijajah lagi," ujar Residen Soedirman yang diperankan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Simbol Perlawan
Peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya, pada 19 September 1945, merupakan salah satu momentum penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa ini terjadi hanya sebulan setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, ketika rakyat Indonesia masih berusaha menegaskan kedaulatannya di hadapan bangsa asing.
Hotel Yamato—kini dikenal sebagai Hotel Majapahit—pada masa itu menjadi saksi ketegangan antara pemuda-pemuda Surabaya dengan pihak Belanda yang baru saja kembali bersama tentara Sekutu. Pada tanggal tersebut, pihak Belanda mengibarkan bendera merah-putih-biru di atap hotel untuk merayakan ulang tahun Ratu belanda Wilhelmina. Tindakan ini dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap kedaulatan Indonesia, sebab bendera tersebut melambangkan kembalinya penjajahan.
Drama teatrikal "Surabaya Merah Putih" | Foto: DinasKomunikasi dan Informatika SurabayaSuasana penonton drama teatrikal "Surabaya Merah Putih" | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya
Rakyat Surabaya, yang dipelopori oleh para pemuda, segera menolak pengibaran bendera tersebut. Mereka menuntut agar bendera Belanda diturunkan dan diganti dengan bendera merah putih. Namun, pihak Belanda menolak. Ketegangan pun meningkat hingga akhirnya para pemuda berinisiatif mengambil tindakan langsung.
Dengan keberanian dan tekad, mereka berhasil memanjat tiang bendera di atap hotel. Salah satu tokoh yang tercatat dalam sejarah adalah Harun Tohir, Sidik, dan Koesno Wibowo yang ikut terlibat dalam aksi tersebut. Mereka kemudian merobek bagian biru dari bendera Belanda, sehingga hanya tersisa warna merah dan putih—bendera Indonesia. Sayang, Sidik gugur dalam peristiwa itu.
Drama teatrikal "Surabaya Merah Putih" | Foto: DinasKomunikasi dan Informatika Surabaya
Tindakan simbolis ini membakar semangat rakyat Surabaya. Perobekan bendera bukan sekadar aksi spontan, tetapi juga wujud perlawanan tegas terhadap upaya Belanda yang ingin kembali berkuasa. Dari peristiwa ini, semangat arek-arek Suroboyo semakin berkobar, yang kemudian memuncak dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945—pertempuran besar yang menjadi tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dengan demikian, peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato bukan hanya sekadar insiden kecil, melainkan simbol perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme. Peristiwa ini menegaskan bahwa kemerdekaan yang telah diproklamasikan bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang dan penuh pengorbanan. Hingga kini, kisah heroik tersebut tetap dikenang sebagai bagian dari identitas nasional dan kebanggaan bangsa Indonesia.[T]
Drama teatrikal "Surabaya Merah Putih" | Foto: DinasKomunikasidan Informatika Surabaya
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...