Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup
DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen), seorang kawan tiba-tiba berkat...
Ini jalan yang kami gambar dengan ujung sepatu
di atas peta buta yang terhampar luas di depan.
Di kanan kirinya, hutan prasangka mendesiskan angin
meniup api pada obor kami yang sangat pemalu.
Kadang kami lelah, tentu saja, dan ingin menepi
bersandar pada batang pohon untuk menarik napas.
Sebab musuh terbesar bukanlah caci maki di luar sana
tapi bisikan ragu yang merayap seperti akar berbisa.
Saat jalan menanjak, telapak tangan kami saling mengeja
denyut nadi menjelma kompas yang dapat dipercaya.
Jika satu rubuh, yang lain lantas sigap menjadi tongkat
sebab perjalanan ini adalah sumpah, bukan sekadar berangkat.
Kami berjalan bukan demi nama kami sendiri
tapi demi mereka yang akan menyusul di belakang.
Agar setiap batu yang kami gusur dari jalan ini
kelak jadi anak tangga bagi tumit mereka yang ringan.
Yogyakarta, Agustus 2025
Suaraku bukanlah badai yang meruntuhkan istana
hanya gerimis tabah yang sedang kupinjamkan
pada mulut-mulut yang dikunci oleh lupa
pada nama-nama yang sengaja dihilangkan.
Setiap kataku ibaratkan sebutir air mata
yang kupungut dari samudra duka mereka.
Kadang ia terasa asin di kerongkonganku sendiri
jadi janji yang harus kusampaikan sebelum senja.
Mereka bilang suaraku hanya bunyi yang sia-sia
seperti gerimis yang konyol mengetuk atap parlemen.
Mereka tak tahu, air adalah arsiparis paling purba
ingatannya lebih tajam dari belati manapun.
Maka aku akan terus mewujud hujan yang degil
menjatuhkan diri satu-satu, tanpa pernah lelah.
Aku percaya, gerimis yang paling rintik sekalipun
kelak akan mampu mengikis batu bendungan.
Yogyakarta, Agustus 2025
Kalender di dinding boleh saja terus berganti
musim kemarau dan penghujan datang kian kemari.
Tapi bagi kami, perempuan penjaga parut
kalender jiwa kami tersangkut di bulan Mei.
Peristiwa itu bukan gema dari masa lalu
ia hujan abu yang turun di dalam kepala.
Aroma hangus kerap datang tanpa diundang
saat kami menanak nasi di dapur yang lengang.
Tubuh kami buku sejarah yang tak akan pernah dicetak
setiap jengkalnya adalah arsip malam paling biadab.
Parutnya mungkin telah memucat seiring waktu
tapi ia tak lupa pada api yang menjadikannya abu.
Kami tersenyum pada fajar kebebasan yang kaubanggakan
sambil bertanya dalam keheningan kepada Tuhan.
Mengapa pagi yang baru harus lahir
dari liang kubur malam-malam kami?
Yogyakarta, Agustus 2025
Rumah adat ini begitu anggun dari luar
dindingnya kokoh, atapnya adalah janji surga.
Katanya dibangun untuk melindungi kami para puan
dari angin fitnah atau tatapan mata yang telanjang.
Sedang di dalamnya, udara pengap oleh kata "seharusnya"
jendelanya terlalu kecil untuk membiarkan mimpi masuk.
Setiap sudutnya terdapat pasal-pasal tak tertulis
dari kitab undang-undang bernama "kepatutan".
Perlawananku bukanlah dengan membakar rumah ini
sebab di dapurnya masih tersimpan hangat bara api ibu.
Aku hanya menanam sebatang beringin di halaman belakang
sebatang pemberontak sunyi yang akarnya menolak diatur.
Aku percaya pada pekerjaan akar yang paling sabar
merayap dalam diam, mencari celah di antara bebatuan.
Mungkin ia tak akan pernah setinggi atap rumah itu
barangkali cukup kuat untuk membuat lantainya sedikit bergetar.
Yogyakarta, Agustus 2025
Luka memar di lenganku berupa bunga ungu aneh
mekar di malam hari, lalu layu saat fajar.
Tapi luka terdalam justru yang tak kasat mata
tumbuh di balik diam, bernama "tak apa-apa".
Di semua layar kaca, di semua pengeras suara
satu kata selalu diteriakkan dengan gagah: "Lapor!"
Sedang di dalam mulutku, kata itu menjelma batu
terlalu berat diangkat oleh lidahku yang kelu.
Untuk mengucapkannya, harus kuseberangi laut tatapan
dan mendaki tebing penghakiman yang teramat curam.
Sambil berperang dengan sunyi di dalam diri
yang bebannya terasa lebih berat daripada batu itu.
Maka pagi ini, aku berdiri di depan pintu yang baru.
Menarik napas dalam-dalam, lalu kuangkat batu itu.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi setelahnya
yang kutahu, keheningan tak akan pernah lagi sama.
Yogyakarta, Agustus 2025
.
Penulis: Maria Utami
Editor: Adnyana Ole
DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen), seorang kawan tiba-tiba berkat...
DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring, plus diwarnai stabilo warna merah) – sa...
MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa diabaikan begitu saja. Banyak...
DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan malaikat-malaikat kecil nan polos. Mereka men...
KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa beban. Nyanyian, tarian dan jiwanya be...
Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di beberapa bagian. Permukaannya kusam seperti benda ya...
DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan bahkan sebelum layar sempat dinya...
BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah yang sama, barangkali bukan perkara sed...
FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta. BMB #111 menghadirkan dua komposer muda, Budi Se...
PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026, telah memasuki hari ketiga...