Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Ini jalan yang kami gambar dengan ujung sepatu
di atas peta buta yang terhampar luas di depan.
Di kanan kirinya, hutan prasangka mendesiskan angin
meniup api pada obor kami yang sangat pemalu.
Kadang kami lelah, tentu saja, dan ingin menepi
bersandar pada batang pohon untuk menarik napas.
Sebab musuh terbesar bukanlah caci maki di luar sana
tapi bisikan ragu yang merayap seperti akar berbisa.
Saat jalan menanjak, telapak tangan kami saling mengeja
denyut nadi menjelma kompas yang dapat dipercaya.
Jika satu rubuh, yang lain lantas sigap menjadi tongkat
sebab perjalanan ini adalah sumpah, bukan sekadar berangkat.
Kami berjalan bukan demi nama kami sendiri
tapi demi mereka yang akan menyusul di belakang.
Agar setiap batu yang kami gusur dari jalan ini
kelak jadi anak tangga bagi tumit mereka yang ringan.
Yogyakarta, Agustus 2025
Suaraku bukanlah badai yang meruntuhkan istana
hanya gerimis tabah yang sedang kupinjamkan
pada mulut-mulut yang dikunci oleh lupa
pada nama-nama yang sengaja dihilangkan.
Setiap kataku ibaratkan sebutir air mata
yang kupungut dari samudra duka mereka.
Kadang ia terasa asin di kerongkonganku sendiri
jadi janji yang harus kusampaikan sebelum senja.
Mereka bilang suaraku hanya bunyi yang sia-sia
seperti gerimis yang konyol mengetuk atap parlemen.
Mereka tak tahu, air adalah arsiparis paling purba
ingatannya lebih tajam dari belati manapun.
Maka aku akan terus mewujud hujan yang degil
menjatuhkan diri satu-satu, tanpa pernah lelah.
Aku percaya, gerimis yang paling rintik sekalipun
kelak akan mampu mengikis batu bendungan.
Yogyakarta, Agustus 2025
Kalender di dinding boleh saja terus berganti
musim kemarau dan penghujan datang kian kemari.
Tapi bagi kami, perempuan penjaga parut
kalender jiwa kami tersangkut di bulan Mei.
Peristiwa itu bukan gema dari masa lalu
ia hujan abu yang turun di dalam kepala.
Aroma hangus kerap datang tanpa diundang
saat kami menanak nasi di dapur yang lengang.
Tubuh kami buku sejarah yang tak akan pernah dicetak
setiap jengkalnya adalah arsip malam paling biadab.
Parutnya mungkin telah memucat seiring waktu
tapi ia tak lupa pada api yang menjadikannya abu.
Kami tersenyum pada fajar kebebasan yang kaubanggakan
sambil bertanya dalam keheningan kepada Tuhan.
Mengapa pagi yang baru harus lahir
dari liang kubur malam-malam kami?
Yogyakarta, Agustus 2025
Rumah adat ini begitu anggun dari luar
dindingnya kokoh, atapnya adalah janji surga.
Katanya dibangun untuk melindungi kami para puan
dari angin fitnah atau tatapan mata yang telanjang.
Sedang di dalamnya, udara pengap oleh kata "seharusnya"
jendelanya terlalu kecil untuk membiarkan mimpi masuk.
Setiap sudutnya terdapat pasal-pasal tak tertulis
dari kitab undang-undang bernama "kepatutan".
Perlawananku bukanlah dengan membakar rumah ini
sebab di dapurnya masih tersimpan hangat bara api ibu.
Aku hanya menanam sebatang beringin di halaman belakang
sebatang pemberontak sunyi yang akarnya menolak diatur.
Aku percaya pada pekerjaan akar yang paling sabar
merayap dalam diam, mencari celah di antara bebatuan.
Mungkin ia tak akan pernah setinggi atap rumah itu
barangkali cukup kuat untuk membuat lantainya sedikit bergetar.
Yogyakarta, Agustus 2025
Luka memar di lenganku berupa bunga ungu aneh
mekar di malam hari, lalu layu saat fajar.
Tapi luka terdalam justru yang tak kasat mata
tumbuh di balik diam, bernama "tak apa-apa".
Di semua layar kaca, di semua pengeras suara
satu kata selalu diteriakkan dengan gagah: "Lapor!"
Sedang di dalam mulutku, kata itu menjelma batu
terlalu berat diangkat oleh lidahku yang kelu.
Untuk mengucapkannya, harus kuseberangi laut tatapan
dan mendaki tebing penghakiman yang teramat curam.
Sambil berperang dengan sunyi di dalam diri
yang bebannya terasa lebih berat daripada batu itu.
Maka pagi ini, aku berdiri di depan pintu yang baru.
Menarik napas dalam-dalam, lalu kuangkat batu itu.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi setelahnya
yang kutahu, keheningan tak akan pernah lagi sama.
Yogyakarta, Agustus 2025
.
Penulis: Maria Utami
Editor: Adnyana Ole
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...