BSAR, band alternative rock asal Denpasar, resmi merilis video musik terbaru berjudul “Manusia”,Rabu, 17 September 2025. Karya visual sekaligus musikal ini menyuarakan kegelisahan atas perilaku manusia terhadap bumi.
Pesan dari video musik “Manusia” terasa semakin relevan di tengah bencana banjir yang belakangan melanda sejumlah wilayah di Bali. Melalui lagu ini, BSAR menyoroti bagaimana manusia acap menjadi penyebab bencana yang menimpa dirinya sendiri, mulai dari pencemaran laut, penggundulan hutan, pengerukan gunung, hingga pembangunan rakus yang menutup ruang resapan air dan menggerus ruang hidup generasi mendatang.
“Kita yang membangun tembok tinggi, kita yang mengeruk gunung dengan rakus, menebang hutan tanpa ragu, menutup mata atas laut yang tercemar. Di balik semua itu, anak cucu kita hanya akan mewarisi puing-puing di masa mendatang,” demikian salah satu kilasan pesan yang diangkat dalam video ini.
BSAR rilis video musik “Manusia”│Foto: Press Release BSAR Official
Lebih dari sekadar kritik, video musik “Manusia” menghadirkan potret getir tentang keserakahan manusia sekaligus seruan untuk sadar dan bertanggung jawab atas jejak yang diwariskan kepada generasi berikutnya. “Awas manusia datang dengan dalil kehidupan, padahal biang penyiksa semua habis tak bersisa,” begitu salah satu penggalan lirik yang seolah menegaskan pesan lagu ini.
Bersamaan dengan perilisan tersebut, BSAR bersama Katanya Creative dan Eject selaku manajemen juga mengumumkan bahwa beberapa single mereka kini sudah tersedia di berbagai platform musik digital. Para penikmat musik kini sudah dapat menyaksikan video musik “Manusia” melalui kanal YouTube BSAR Official. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna/Siara pers BSAR Editor: Budarsana
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...