Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
BSAR, band alternative rock asal Denpasar, resmi merilis video musik terbaru berjudul “Manusia”,Rabu, 17 September 2025. Karya visual sekaligus musikal ini menyuarakan kegelisahan atas perilaku manusia terhadap bumi.
Pesan dari video musik “Manusia” terasa semakin relevan di tengah bencana banjir yang belakangan melanda sejumlah wilayah di Bali. Melalui lagu ini, BSAR menyoroti bagaimana manusia acap menjadi penyebab bencana yang menimpa dirinya sendiri, mulai dari pencemaran laut, penggundulan hutan, pengerukan gunung, hingga pembangunan rakus yang menutup ruang resapan air dan menggerus ruang hidup generasi mendatang.
“Kita yang membangun tembok tinggi, kita yang mengeruk gunung dengan rakus, menebang hutan tanpa ragu, menutup mata atas laut yang tercemar. Di balik semua itu, anak cucu kita hanya akan mewarisi puing-puing di masa mendatang,” demikian salah satu kilasan pesan yang diangkat dalam video ini.

Lebih dari sekadar kritik, video musik “Manusia” menghadirkan potret getir tentang keserakahan manusia sekaligus seruan untuk sadar dan bertanggung jawab atas jejak yang diwariskan kepada generasi berikutnya. “Awas manusia datang dengan dalil kehidupan, padahal biang penyiksa semua habis tak bersisa,” begitu salah satu penggalan lirik yang seolah menegaskan pesan lagu ini.
Bersamaan dengan perilisan tersebut, BSAR bersama Katanya Creative dan Eject selaku manajemen juga mengumumkan bahwa beberapa single mereka kini sudah tersedia di berbagai platform musik digital. Para penikmat musik kini sudah dapat menyaksikan video musik “Manusia” melalui kanal YouTube BSAR Official. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna/Siara pers BSAR
Editor: Budarsana
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...