“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
PAGI hari adalah ruang refleksi yang kerap menyesakkan. Saat saya mengantarkan istri ke kantor, Kanha dan Davka (dua anak saya) ke sekolah, kemudian membawa bahan untuk warung makan kami, sekaligus setelahnya mengantar Gangga—Anak sulung kami dengan kondisi ASD—ke sesi terapi, jalanan terasa penuh dengan wajah-wajah tergesa. Setiap orang seperti berlomba dengan waktu, dikejar jam masuk sekolah dan jam kerja. Pikiran manusia di jalan raya terbagi: menjaga anak jangan terlambat, memastikan pekerjaan tak tertunda, sementara kendaraan berdesakan. Saya pun sering bertanya dalam hati: berapa banyak risiko kecelakaan lalu lintas yang lahir dari keterburu-buruan ini?
Fenomena ini bukan hanya persoalan lalu lintas, melainkan soal cara kita sebagai bangsa menata waktu. Waktu yang semestinya menjadi ruang berkualitas bersama keluarga justru habis terkuras di jalan raya, di bawah tekanan jam kerja dan jam sekolah. Jika pola ini dibiarkan, maka yang kita hadapi bukan hanya kemacetan dan kecelakaan, melainkan juga rapuhnya fondasi keluarga sebagai pusat pembentukan sumber daya manusia.
Di negara-negara maju, kesadaran akan pentingnya keseimbangan ini sudah lama hadir dalam kebijakan. Jerman, misalnya, menerapkan flexible working hours (Gleitzeit) yang memberi keleluasaan pekerja menentukan jam mulai dan selesai kerja dalam rentang tertentu. Banyak perusahaan memungkinkan pegawai masuk antara pukul 7–10 pagi dan pulang antara pukul 3–6 sore. Dengan begitu, orang tua bisa menyesuaikan jadwal antar-jemput anak tanpa mengorbankan jam kerja mingguan. Selain itu, Jerman juga memberikan parental leave hingga 14 bulan yang bisa dibagi antara ayah dan ibu, menegaskan bahwa keluarga adalah entitas yang dilindungi oleh negara.
Di Belanda, kebijakan lebih progresif ditempuh lewat budaya part-time work. Sekitar 50% pekerja Belanda memilih bekerja paruh waktu, terutama para orang tua dengan anak kecil. Hal ini dimungkinkan oleh Wet Aanpassing Arbeidsduur (Law on Adjustment of Working Hours), yang menjamin hak pekerja untuk menyesuaikan jam kerja tanpa risiko diskriminasi. Dampaknya jelas: Belanda sering masuk daftar negara dengan kualitas hidup terbaik di dunia, dan UNICEF mencatat anak-anak Belanda sebagai salah satu yang paling bahagia.
Denmark pun memberikan teladan. Dengan rata-rata jam kerja hanya 37 jam per minggu dan budaya work-life balance yang sangat dijaga, pekerja memiliki keleluasaan lebih untuk bersama keluarga. Jam sekolah selesai sekitar pukul 2 siang, memberi ruang bagi anak dan orang tua untuk kembali berkumpul lebih cepat. Tradisi hygge, yakni kehangatan kebersamaan keluarga, terpelihara. Pemerintah menopangnya dengan cuti orang tua yang panjang serta tunjangan keluarga yang memadai.
Mengapa hal ini penting? Karena waktu sarapan pagi dan makan malam bersama keluarga bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang pendidikan karakter paling mendasar. Di meja makan, anak belajar mendengar, menghargai, berpendapat, dan merasa diperhatikan. Nilai-nilai ini yang kelak membentuk manusia dengan empati, disiplin, dan kepercayaan diri. Itulah kualitas yang dibutuhkan untuk membangun Indonesia Emas 2045.
Maka, jika Indonesia sungguh ingin menyiapkan generasi emas, kita perlu lebih berani menata ulang regulasi jam kerja dan jam sekolah. Kebijakan yang terlalu kaku justru menumpulkan peran keluarga sebagai pusat pendidikan pertama dan utama. Bayangkan jika jam masuk sekolah dibuat lebih ramah keluarga, jam kerja lebih fleksibel, dan perusahaan ikut didorong memberi ruang bagi orang tua. Jalanan bisa lebih tertib, produktivitas meningkat, dan yang terpenting: anak-anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kuat.
Negara tidak sedang ikut campur terlalu jauh dalam urusan privat, melainkan menata fondasi masa depan bangsa. Sebab, generasi emas tidak lahir dari kecerdasan akademik semata, melainkan dari keluarga yang punya cukup waktu untuk bersama. [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...