Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
DALAM ajaran Hindu Bali, alam bukan sekadar latar kehidupan, melainkan bagian utuh dari sistem kesadaran spiritual. Konsep Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi Wasa menjadi fondasi budaya Bali yang lestari.
Di era modern, ketika krisis ekologi meluas dan perubahan iklim semakin nyata, filosofi ini menemukan relevansinya kembali, terutama di tangan generasi muda atau Genzi Bali.
Istilah “Karma Hijau Genzi” bukan sekadar metafora ia adalah cerminan kesadaran baru. Dalam ajaran Hindu Bali, karma tidak hanya berbicara tentang akibat dari tindakan terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam semesta. Setiap jejak perusakan lingkungan adalah benih karma yang akan tumbuh menjadi ketidakseimbangan, baik ekologis maupun spiritual.
Bagi Genzi, menjaga lingkungan bukan hanya tren, melainkan bentuk bhakti pengabdian yang tulus terhadap kehidupan. Melalui aksi pelestarian, adopsi teknologi ramah lingkungan, hingga perubahan gaya hidup berkelanjutan, Genzi memiliki peran sebagai penjaga karma hijau menanam kebaikan hari ini demi dunia yang lebih selaras esok hari.
Fenomena penutupan TPA Suwung menjadi sinyal kuat bahwa Bali tidak lagi bisa bergantung pada sistem pengelolaan sampah yang bersifat "buang dan lupakan." Penumpukan sampah di jalanan, munculnya gangguan kesehatan, hingga terganggunya keindahan lanskap kota, sungai dan laut adalah cerminan bahwa sistem yang ada telah mencapai titik jenuh.
Krisis ini menunjukkan bahwa pendekatan lama sudah tak lagi relevan menghadapi realitas ekologis hari ini. Namun, persoalan ini bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Ini adalah panggilan Dharma sebuah ajakan moral dan spiritual bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda, untuk terlibat aktif dalam memperbaiki hubungan kita dengan alam.
Anak muda memiliki peran vital sebagai agen perubahan. Mereka bisa memulainya dari langkah-langkah kecil namun bermakna, seperti menerapkan gaya hidup zero waste di rumah, sekolah, maupun kampus. Mengurangi sampah dari sumbernya, membawa botol minum sendiri (tumbler), memilah sampah organik dan anorganik, serta mendukung inisiatif seperti Ecobhakti adalah bentuk nyata kontribusi dalam membangun budaya ekologis yang berkelanjutan.
Melalui aksi-aksi sederhana tersebut, generasi muda tidak hanya membantu mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian yang akan terus tumbuh. Di tangan mereka, pelestarian lingkungan bukan lagi sekadar kewajiban, tetapi menjadi wujud kesadaran dan spiritualitas baru yang berpijak pada prinsip-prinsip kearifan lokal seperti Tri Hita Karana menciptakan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Ekologi modern berbicara tentang keberlanjutan, adaptasi, dan mitigasi. Namun dalam konteks Bali, nilai-nilai ini bukan hal asing.
Sejak dahulu, masyarakat Bali telah menerapkan prinsip ekologis melalui upacara keagamaan yang menghormati alam, sistem pertanian subak yang berbasis gotong royong, hingga aturan adat yang melindungi kawasan suci seperti hutan, mata air, dan laut. Semua itu merupakan bentuk nyata dari kearifan lokal yang mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam.
Menjaga ekologi bukan beban, melainkan warisan dan karma dalam makna terdalamnya adalah ajakan untuk bertanggung jawab. Bukan hanya atas apa yang kita nikmati hari ini, tetapi juga terhadap apa yang kita wariskan untuk besok.
Dengan menghidupkan kembali filosofi lama dalam bahasa baru, Genzi Bali sedang menulis ulang masa depan yang hijau. Sebuah masa depan di mana pelestarian lingkungan bukan lagi sekadar tuntutan, tetapi jalan spiritual untuk mencapai keharmonisan sejati di bumi, di hati, dan dalam karma. [T]
Penulis: Kadek Agus Yoga Dwipranata
Editor: Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...