“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
MALAM di kampus Institut Mpu Kuturan (IMK) Singaraja, Minggu, 31 Agustus 2025, terasa mencekam. Beberapa orang menjerit keras di belakang panggung terbuka di kampus itu. Sejumlah mahasiswa kerauhan, dan teman-temannya sibuk meredakan situasi.
Suasana mencekam itu sesungguhnya sudah berlangsung jauh sebelumnya, ketika anak-anak Teater Sepit Tiying mementaskan garapan berjudul “Ngalempana” di atas panggung terbuka. Sejumlah mahasiswa yang kerauhan di belakang panggung itu adalah mahasiswa yang sebelumnya main teater di atas panggung.
Meski sama-sama mencekam, suasana di atas panggung itu tentu berbeda dengan suasana di belakang panggung usai pementasan. Adegan kerauhan mahasiswa di belakang panggung bisa saja disebut sebagai teater magis tanpa naskah yang juga menarik perhatian untuk ditonton. Sementara di atas panggung terbuka, teater digarap dengan sengaja, dengan naskah yang dibuat sedemikian rupa untuk menarik perhatian penonton.
Teater “Ngalempana” itu dipentaskan serangkaian acara Dharma Duta Week #4. Dan kisah “Ngalempana” ini juga tak jauh-jauh dari kesan magis. Panggung, tata lampu, kostum pemain, juga alur ceritanya, sejak awal menunjukkan kesan bahwa cerita itu adalah cerita dengan aliran realisme magis, meski istilah itu masih bisa diperdebatkan.

Tokoh Jro Sangging dan Sundih sedang berbincang di sebuah gubuk kecil | Foto Panitia
Di atas panggung, ada sebuah gubuk ditata secara artistik dengan beberapa topeng tercantel di sisi bilik. Kisahnya dibuka dengan dua tokoh sedang berdialog. Mereka Jro Sangging, pembuat topeng, yang diperankan Jro I Made Andra Wiryaputra, dan tokoh Sundih diperankan Jro Mangku I Made Alit Suputra.
Mereka berbincang tentang sejarah topeng, termasuk berbincang tentang topeng lawas-keramat yang dimiliki oleh Jro Sangging.
Di tengah percakapan, Sundih memotong. Ia tiba terpincut untuk meminta topeng lama milik Jro Sangging. Namun Jro Sangging menolak, dan singkat cerita, topeng itu dicuri oleh Sundih.
Topeng itu berpindah ke tangan Sundih. Alih-alih merawat baik, di tangan Sundih, topeng itu justru ditaruh sembarangan. Topeng sakral itu disimpan di area cucian baju kotor, cangcut dan beha.
Topeng itu kemudian tak sengaja diambil oleh anak Sundih (diperankan oleh Putu Dian Sastari) di cucian kotor itu, dan dibawanya bermain. Lalu hilang, lupa menaruh entah di mana.

Tokoh Jro Sangging dan Sundih sedang berbincang di sebuah gubuk kecil | Foto Panitia
Di sanalah konflik mulai terasa. Suara musik menderu lebih kencang. Tarian-tarian datang seperti daun-daun jatuh di musim gugur. Panggung jadi gelap terang, menandakan wabah penyakit mulai berdatangan. Warga gagal panen. Anak Sundih hilang.
Pertunjukan teater dengan tajuk “Ngalempana” yang disutradarai MK Alit Yehbuah, AA Agung Suryadi Putra dan Gede Bayu Sukradia, agaknya memang sengaja dibuat untuk memberi aura magis pada pertunjukan.
Pertunjukan itu melibat banyak pemain. Ada Putu Silviani, Ketut Seriasih, Putu Diah Galing Paramita, Kadek Sugiarta, Luh Maitri Nurita, Ni Luh Putu Sagita Dian Septiani, dan Wayan Andi Miranda yang berperan sebagai rakyat.
Sementara Putu Devita Widyantari, Kadek Shila Kurniawati, Putu Natania Dhiasta Adhyputri, Putu Wulan Wardhiyanti, Ni Putu Wira Darmayanti, Ni Putu Dea Hardiyana berperan sebagai makhluk halus.
Sedang untuk peran tukang tegen peti dimainkan Kadek Yogi Satria Wardana, I Gede Dedy Suryantika, Gede Edi Kartika Pujawan, Gede Bayu Sukradia Adi Putra, dan Anak Agung Suryadi Putra memainkan musik pengiring jalan cerita.
Dengan begitu banyak pemain, pertunjukan itu sejak awal seakan dirancang sebagai pertunjukan yang bisa meneror penonton. Konflik dibedah sebagai sebuah cerita hitam-putih tentang si buruk dan si baik dengan bumbu karmapala dan kutukan.

Adegan dalam teater Ngalempana | Foto: Panitia
Rakyat yang diperankan oleh delapan orang itu, saling menebar rasa kecurigaan satu sama lain. Terlebih Jro Sanggih dituduh warga telah merawat topeng lawas-sakral itu dengan buruk, sehingga datanglah musim paceklik.
Tapi satu waktu, kecurigaan itu pun menjalar pada Sundih, setelah warga tahu jika Sundih yang terakhir membicarakan topeng bekas itu. Dan Sundih mengaku bahwa ia yang telah mencuri topeng itu, setelah dirinya babak belur dihabisi warga untuk mengaku.
Sundih minta maaf. Sundih ingin anaknya ditemukan dan selamat. Topeng itu pun ditemukan setelah ada pengakuan dosa dari Sundih.
Dari kejauhan, sesosok makhluk halus datang mengantarkan seorang anak memegang topeng di sela Sundih yang digebuki. Saat itulah Sundih juga berjanji, bahwa, dia bakal memperbaiki adabnya tentang topeng itu, diupacarai, termasuk menanggung biaya upacara.
Akhir cerita, panggung itu ditutup dengan tarian sanghyang, pertanda topeng warisan leluhur telah dirawat dengan baik. Warga pun bahagia.
“Pertunjukan ini bercerita tentang pentingnya merawat warisan leluhur yang sakral dan berharga bagi masyarakat. Kami datang untuk berpesan bahwa menjaga warisan leluhur adalah bentuk tanggungjawab dan penghormatan kepada leluhur, atas apa yang sudah diwariskan. Salah satunya adalah topeng,” kata Gede Bayu Sukradia, sutradara sekaligus konseptor.
Cerita Ngalempana itu digarap tiga minggu. Diangkat dari kisah nyata, dari sebuah desa di Jembrana. Tentang sebuah topeng lama, sakral, dipaksa diperbaharui—yang seharusnya dimusnahkan.

Adegan magis dalam teater Ngalempana | Foto: Panitia
Hindu Bali memang mengenal konsep Tri Kona. Yaitu tentang sesuatu yang lama tidak boleh diperbaharui, selain disimpan baik-baik. Dirawat, atau dibakar jika tidak mau merawat dengan baik.
Di cerita Ngalempana, topeng lama-sakral itu justru diperbaharui, dimainkan secara sembarang. Sehingga, Ida Sesuhunan marah. Marah-marah masuk ke tubuh warga, memberi wejangan untuk berbuat sesuatu agar warga selamat dunia akhirat.
“Tri Kona adalah tiga konsep kemahakuasaan Tuhan. Bahwa sesuatu yang lama, seharusnya dileburkan agar tidak menggangu sesuatu yang baru,” kata Gede Bayu Sukradia.
Ketika dialihwahanakan ke dalam bentuk pementasan, kesakralan oleh UKM Teater Sepit Tiying tetap dijaga. Jenis pementasan ini tergolong sebagai teater tradisi dengan unsur surealis yang pekat.
Bahkan, sebelum pementasan, pun para pemain Ngalempana telah lebih dulu melakukan upacara mepiuning. Yaitu sebuah upacara meminta berkat di Pura Agung Mpu Kuturan untuk keselamatan, pula untuk meminta ijin tempat dan waktu.
Upacara itu menggunakan sarana upakara peras pejati. Kemudian upacara di Pelinggih Ulun Pangkung dengan sarana canang sari.
“Untuk minta maaf pada krama, pada dewata, kami ngalempana,” kata Gede Bayu Sukradia.

Adegan mencekam dalam teater Ngalempana | Foto: Panitia
Mepiuning memang sudah menjadi tradisi UKM Teater Sepit Tiying di IMK, sebelum pementasan digelar. Upacara itu juga sekaligus memohon tirta (air) panyengker untuk digunakan sebelum atau setelah pementasan, agar terhindar dari dedemit, agar lancar pementasan.
“Sebelum pentas juga, kami telah melakukan ritual nedunang atau menurunkan Sang Hyang Taksu, yang bertujuan agar diberikan anugrah kerahayuan, dan kelancaran saat pementasan,” kata Bayu.
Kemudian, setelah selesai pementasan, teater itu melakukan upacara ngewaliang atau mengembalikan Sang Hyang Taksu dengan menggunakan upakara segehan agung dan segehan manca warna sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Taksu. Karena sudah memberikan anugrah energi dalam pementasan yang sudah berjalan dengan lancar.
Jeritan itu pun hilang. Panggung kembali terang. Para penonton pun terhibur, membawa pulang pesan moral masing-masing. Yaitu, bahwa yang lama mesti dirawat. Atau dimusnahkan untuk membuat yang baru jika tidak mau merawat yang lama.
Ini tentang benda. Bukan perasaanmu. Cie. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...