POLITISI jadi bendesa adat, banyak. Polisi jadi bendesa adat, barangkali tak banyak. Dari yang tak banyak itu tersebutkan sosok Aiptu I Kadek Asoi, S.H.
Sebagai polisi ia bertugas sebagai Kasubsektor Tegalasih di wilayah Polsek Busungbiu. Sebagai bendesa adat, ia mengemban tugas mulia sebagai bendesa di Desa Adat Tista, Kecamatan Busungbiu-Buleleng.
“Motivasi saya sederhana, ingin ngayah tulus ikhlas untuk desa, meringankan beban masyarakat terutama dalam biaya upacara yadnya, serta menghadirkan transparansi dalam pengelolaan desa adat,” kata Kadek Asoi, Jumat, 5 September 2025.
Perjalanan pengabdian Kadek Asoi di Desa Adat Tista bermula dari Pararem Desa Adat Tista Nomor 2 Tahun 2024 yang mengatur tata cara pemilihan (ngadegang) klian adat. Dalam aturan tersebut, tidak ada larangan bagi ASN maupun anggota TNI/Polri untuk dicalonkan sebagai klian adat atau bendesa adat.
Berlandaskan aturan itu, sejumlah tokoh masyarakat mengusulkan nama Aiptu Kadek Asoi sebagai calon bendesa adat. Dan, ia terpilih. Kadek Asoi terpilih dengan suara terbanyak dan dikukuhkan melalui SK Nomor 170/SK-P/MDA-PBali/V/2025 pada 14 Mei 2025.
Aiptu I Kadek Asoi | Foto: Ist
Awalnya, ia sempat ragu untuk jadi calon bendesa adat karena masih berstatus anggota Polri aktif. Namun, setelah mendapat dukungan luas dari masyarakat dan izin dari Kapolres Buleleng, ia akhirnya bersedia maju. Dan, sekali lagi, ia terpilih.
Sejumlah warga menilai, sejak kepemimpinan Kadek Asoi, masyarakat Tista merasakan perubahan nyata. Dengan prinsip keterbukaan, biaya upacara adat menjadi lebih ringan, partisipasi warga meningkat, dan semangat gotong royong tumbuh kembali.
"Desa juga semakin kompak dalam paruman maupun kegiatan ngayah," kata seorang warga.
Dengan begitu, warga kini merasa punya pemimpin yang mengayomi, mau mendengar keluh kesah, baik soal adat maupun hukum.
Kadek Asoi memang putra asli Desa Tista. Ia lahir 3 Februari 1977. Sebagai polisi ia memulai karirnya di kepolisian sejak tahun 1996 di Polda NTB. Ia pernah bertugas di Polres Sumbawa Besar, Polres Bangli, Polsek Sukasada, hingga kini menjabat Kasubsektor Tegalasih, Polsek Busungbiu.
Dengan pengalaman panjang di kepolisian, ia membawa disiplin, ketegasan, sekaligus sikap melayani ke dalam kepemimpinan adatnya.
Aiptu I Kadek Asoi yang kini biasa dipanggil Jro Asoi | Foto: Ist
“Bagi saya, melayani masyarakat baik sebagai polisi maupun bendesa adat sama-sama panggilan jiwa,” kata Kadek Asoi.
Kini, sosok yang akrab disapa Jro Asoi ini tidak hanya menjaga keamanan masyarakat sebagai anggota Polri, tetapi juga menjaga warisan adat dan budaya Desa Tista. Ia menjadi simbol pengabdian ganda: bhakti pada negara sekaligus ngayah untuk desa adatnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...