BEBERAPA tahun silam sempat menengok gambaran tentang para kuli perkebunan zaman kolonial yang terpampang pada panil-panil seni porselen karya J.C. Schultz. Saya belum mendapat informasi lebih lanjut tentang seniman pencipta karya tersebut. Yang pasti dia bukan Johan Christoffel Schultsz – yang sering dieja Johan Christoffel Schultz –, seniman Belanda (1749-1812), karena karya tersebut dibuat tahun 1925.
Seni keramik tersebut dicetak oleh De Porceleyne Fles Delft – salah satu pembuat porselen terbaik di dunia saat itu. Beberapa keping panilnya masih ada di lantai dua gedung Handelsvereniging Amsterdam (HVA) yang kini milik PTPN XI di Jalan Merak, Surabaya.
HVA adalah salah satu kompeni (company) besar zaman kolonial abad ke-19, bermula sebagai perusahaan perdagangan yang berbasis di Jawa Timur, hingga kemudian menggurita setelah berhasil mengakuisisi banyak perkebunan dan pabrik-pabrik di pulau Jawa maupun Sumatra: gula, tapioka, serat sisal (agave), karet, kopi, kelapa sawit dan teh.
Tentu, HVA muncul di era liberalisasi pasca tanam paksa yang menjalankan program-program agraria spesifik untuk menggenjot produksi komoditas-komoditas unggulan yang menghasilkan keuntungan besar. Menurut beberapa pakar, dominasi pemerintah bersama kapitalis swasta berikut perusahaan-perusahaan besar di sektor pertanian-perkebunan dan pertambangan itu rata-rata menghasilkan keuntungan 700-800 juta Gulden setiap tahun. Itu adalah keuntungan tertinggi yang dapat dicapai oleh negara-negara kolonial manapun di dunia pada saat itu.
Dengan keuntungan besar tersebut Belanda dapat membangun negerinya sekaligus berdiri tegak di kancah internasional, terutama ketika mempresentasikan Hindia Belanda kepada calon investor baru: bahwa siapa pun yang hendak menanamkan investasi dipastikan memperoleh keuntungan besar plus jaminan stabilitas modal dan keamanan. Jaminan tersebut juga didasari keyakinan tentang ikatan saling percaya yang ”alamiah” antara pemerintah kolonial dengan rakyat pribumi.
Tak aneh jika sebagian besar fungsionaris pemerintahan dan elite feodal tradisional meyakini bahwa hubungan itu akan bermuara pada asosiasi atau bahkan sintesis budaya yang berujung pada perkawinan indah antara Belanda dengan rakyat jajahannya.
Panil-panil seni porselen karya J.C. Schultz | Foto: Ist
Dalam urusan seni, sejak zaman VOC, para petinggi kompeni adalah konsumen utama karya-karya. Hal itu kemudian ditiru oleh pejabat pemerintah, kaum elite feodal tradisional dan tentu yang lebih banyak adalah tuan-tuan Belanda kaya maupun perusahaan-perusahaan swasta seperti HVA.
Konon secara khusus perusahaan ini memesan kepada J.C. Schultz untuk membuat karya terbaik yang menggambarkan kelimpah-ruahan sang kolonialis. Dan ternyata sang seniman menggambarkan para kuli perkebunan sebagai makhluk “perkasa” yang siap menjalankan “pengabdian” tanpa reserve.
Sosok kuli versi sang tuan maupun Pak Schultz ternyata bukanlah orang-orang menderita sebagaimana yang digambarkan oleh golongan humanis di negeri Belanda sana maupun kaum revolusioner pribumi Hindia Belanda yang mengkritik dan bahkan menggugat berbagai kebijakan tidak manusiawi sebagai bom waktu yang siap meledak setiap saat dan dapat meruntuhkan sendi-sendi kolonialisme itu sendiri.
Ya, sang kuli bukan sosok-sosok kurus kering yang dilecut kerja tanpa ampun demi kemakmuran dan kemuliaan sang tuan. Terbersit ingatan tentang beberapa lukisan karya seniman pribumi Hindia molek yang menggambar sosok-sosok atau figur perempuan yang diidealisasi, kulitnya pribumi tapi bentuk tubuhnya kebule-bulean. Pun lukisan dan patung-patung yang menggambarkan sosok kaum pekerja atau buruh atau rakyat jelata di Uni Sovyet era Stalin yang segar bugar, berotot penuh semangat dan subur gizi. [T]
Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam ajang internasional Red Bull Cliff Divin...
KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi ruang, dan denyut industri yang...
MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land and Sea”, sebuah ajakan unt...
LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon. Di depan mereka, seorang pemandu wi...
MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah kamu kalau cara pemakaian yang kura...
TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai babak baru dalam percakapan global tent...
SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menghasilkan perubahan politik yang...
JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum sempat mengering di dedaunan, dan angin pagi masih...
“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Pria yang diper...