Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
BEBERAPA tahun silam sempat menengok gambaran tentang para kuli perkebunan zaman kolonial yang terpampang pada panil-panil seni porselen karya J.C. Schultz. Saya belum mendapat informasi lebih lanjut tentang seniman pencipta karya tersebut. Yang pasti dia bukan Johan Christoffel Schultsz – yang sering dieja Johan Christoffel Schultz –, seniman Belanda (1749-1812), karena karya tersebut dibuat tahun 1925.
Seni keramik tersebut dicetak oleh De Porceleyne Fles Delft – salah satu pembuat porselen terbaik di dunia saat itu. Beberapa keping panilnya masih ada di lantai dua gedung Handelsvereniging Amsterdam (HVA) yang kini milik PTPN XI di Jalan Merak, Surabaya.
HVA adalah salah satu kompeni (company) besar zaman kolonial abad ke-19, bermula sebagai perusahaan perdagangan yang berbasis di Jawa Timur, hingga kemudian menggurita setelah berhasil mengakuisisi banyak perkebunan dan pabrik-pabrik di pulau Jawa maupun Sumatra: gula, tapioka, serat sisal (agave), karet, kopi, kelapa sawit dan teh.
Tentu, HVA muncul di era liberalisasi pasca tanam paksa yang menjalankan program-program agraria spesifik untuk menggenjot produksi komoditas-komoditas unggulan yang menghasilkan keuntungan besar. Menurut beberapa pakar, dominasi pemerintah bersama kapitalis swasta berikut perusahaan-perusahaan besar di sektor pertanian-perkebunan dan pertambangan itu rata-rata menghasilkan keuntungan 700-800 juta Gulden setiap tahun. Itu adalah keuntungan tertinggi yang dapat dicapai oleh negara-negara kolonial manapun di dunia pada saat itu.
Dengan keuntungan besar tersebut Belanda dapat membangun negerinya sekaligus berdiri tegak di kancah internasional, terutama ketika mempresentasikan Hindia Belanda kepada calon investor baru: bahwa siapa pun yang hendak menanamkan investasi dipastikan memperoleh keuntungan besar plus jaminan stabilitas modal dan keamanan. Jaminan tersebut juga didasari keyakinan tentang ikatan saling percaya yang ”alamiah” antara pemerintah kolonial dengan rakyat pribumi.
Tak aneh jika sebagian besar fungsionaris pemerintahan dan elite feodal tradisional meyakini bahwa hubungan itu akan bermuara pada asosiasi atau bahkan sintesis budaya yang berujung pada perkawinan indah antara Belanda dengan rakyat jajahannya.



Panil-panil seni porselen karya J.C. Schultz | Foto: Ist
Dalam urusan seni, sejak zaman VOC, para petinggi kompeni adalah konsumen utama karya-karya. Hal itu kemudian ditiru oleh pejabat pemerintah, kaum elite feodal tradisional dan tentu yang lebih banyak adalah tuan-tuan Belanda kaya maupun perusahaan-perusahaan swasta seperti HVA.
Konon secara khusus perusahaan ini memesan kepada J.C. Schultz untuk membuat karya terbaik yang menggambarkan kelimpah-ruahan sang kolonialis. Dan ternyata sang seniman menggambarkan para kuli perkebunan sebagai makhluk “perkasa” yang siap menjalankan “pengabdian” tanpa reserve.
Sosok kuli versi sang tuan maupun Pak Schultz ternyata bukanlah orang-orang menderita sebagaimana yang digambarkan oleh golongan humanis di negeri Belanda sana maupun kaum revolusioner pribumi Hindia Belanda yang mengkritik dan bahkan menggugat berbagai kebijakan tidak manusiawi sebagai bom waktu yang siap meledak setiap saat dan dapat meruntuhkan sendi-sendi kolonialisme itu sendiri.
Ya, sang kuli bukan sosok-sosok kurus kering yang dilecut kerja tanpa ampun demi kemakmuran dan kemuliaan sang tuan. Terbersit ingatan tentang beberapa lukisan karya seniman pribumi Hindia molek yang menggambar sosok-sosok atau figur perempuan yang diidealisasi, kulitnya pribumi tapi bentuk tubuhnya kebule-bulean. Pun lukisan dan patung-patung yang menggambarkan sosok kaum pekerja atau buruh atau rakyat jelata di Uni Sovyet era Stalin yang segar bugar, berotot penuh semangat dan subur gizi. [T]
Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...